اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّمَانَ ظُرُوْفًا لِلْأَعْمَالِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ كَرِيْمُ الْخِصَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ آلٍ وَآلٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita kembali dipertemukan dengan hari Jum’at yang penuh keberkahan di bulan Safar 1448 Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, serta seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun sosial.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Bulan Safar sering dipenuhi berbagai anggapan yang tidak berdasar. Rasulullah Saw. telah meluruskan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar. Justru bulan ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, memperbaiki akhlak, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Berita tentang kejahatan jalanan, Bandung darurat begal, peredaran narkoba, kekerasan remaja, penyebaran berita bohong, hingga lunturnya kepedulian sosial menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya menjadi tugas aparat penegak hukum, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Bahkan lebih Luas, Prof. Beni Mengatakah Jabar darurat Begal. Untuk hal itu, Islam mengajarkan bahwa keamanan merupakan bagian dari nikmat terbesar yang harus dijaga bersama. Rasulullah Saw. bersabda:
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا.
“Barang siapa pada pagi hari merasa aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan baginya.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas tiga nikmat dasar yang sering kali terlupakan: rasa aman, kesehatan, dan kecukupan rezeki harian. Pesan utamanya adalah pentingnya sifat qanaah (menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki) tanpa harus cemas memikirkan masa depan secara berlebihan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Karena itu, pada kesempatan khutbah hari ini marilah kita renungkan empat pilar penting agar ukhuwah semakin kuat, masyarakat semakin peduli, dan keamanan menjadi budaya bersama:
Pilar Pertama: Menguatkan Ukhuwah sebagai Benteng Keamanan; Menguatkan ukhuwah atau persaudaraan adalah kunci utama dalam merawat kebersamaan, mencegah perpecahan, dan menciptakan lingkungan sosial yang aman serta damai. Hal ini dapat dicapai melalui sikap saling menghargai, menolak penyebaran aib, serta memperkuat kepedulian sosial. Peran Ukhuwah bagi Keamanan; Pencegah Konflik: Menghindari permusuhan dan pertikaian antarwarga.; Peredam Perpecahan: Menjaga keutuhan kelompok dari pengaruh buruk atau berita bohong.; Sumber Kekuatan: Membangun kerja sama yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan. Cara Merawat Persaudaraan Saling Menghargai: Menerima perbedaan pendapat tanpa harus memicu perpecahan. Menjaga Nama Baik: Menghindari tindakan mencari-cari kesalahan atau membuka aib sesama.
Menumbuhkan Kepedulian: Saling menolong dalam kebaikan dan mempererat silaturahmi di tengah masyarakat. Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).
Persaudaraan bukan sekadar hubungan emosional, tetapi merupakan kekuatan sosial yang menjaga masyarakat dari perpecahan dan kejahatan. Ketika ukhuwah tumbuh, setiap orang akan saling mengenal, saling peduli, saling menasihati, serta saling menjaga.
Sebaliknya, apabila masyarakat mulai hidup individualistis, acuh terhadap tetangga, enggan menghadiri kegiatan kemasyarakatan, bahkan tidak mengenal lingkungan sekitarnya, maka ruang bagi tumbuhnya kriminalitas akan semakin terbuka.
Karena itu, mari hidupkan kembali budaya silaturahmi, memakmurkan masjid, menghadiri majelis ilmu, mempererat hubungan keluarga, serta membangun komunikasi yang baik di lingkungan tempat tinggal kita.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pilar Kedua: Membangun Keluarga sebagai Madrasah Pertama; Membangun keluarga sebagai madrasah pertama berarti menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan karakter dan nilai. Konsep ini berpusat pada ibu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama), yang didukung oleh ayah sebagai kepala sekolah. Hal ini menekankan pentingnya keteladanan, komunikasi aktif, dan penanaman akidah sejak dini. Dalam konsep ini, peran orang tua saling melengkapi untuk membentuk fondasi generasi masa depan: 1) Peran Ibu (Madrasatul Ula): Menjadi penanam nilai kasih sayang, moralitas, dan spiritualitas pertama anak, bahkan sejak dalam kandungan. Ibu adalah tempat anak belajar merespons lingkungan dan emosi. 2) Peran Ayah (Kepala Sekolah): Menentukan arah, visi, dan nilai kedisiplinan dalam keluarga. Ayah bertanggung jawab memastikan lingkungan belajar di rumah tetap aman, terarah, dan memberikan teladan ketegasan serta tanggung jawab.
Sanking pentinya hal iusampai Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama sekaligus benteng utama pembentukan karakter. Anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, keteladanan, disiplin, dan pendidikan agama yang baik akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Sebaliknya, lemahnya perhatian orang tua terhadap pendidikan akhlak sering kali menjadi pintu masuk munculnya berbagai perilaku menyimpang.
Oleh sebab itu, marilah kita jadikan rumah sebagai tempat lahirnya generasi yang mencintai Al-Qur’an, menjaga shalat, menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Rumah yang dipenuhi iman akan melahirkan masyarakat yang aman dan penuh keberkahan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pilar Ketiga: Menghidupkan Budaya Silih Asih dan Ta’awun; Pilar Ketiga: Menghidupkan Budaya Silih Asih dan Ta’awun merupakan fondasi penting dalam membangun solidaritas sosial. Budaya ini mengajarkan prinsip saling mengasihi, mencerdaskan, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Penerapannya menciptakan masyarakat yang harmonis, saling mendukung, dan kuat secara gotong royong.
Mengenal Budaya Silih Asih dan Ta’awun; Silih Asih: Konsep kearifan lokal Sunda yang menekankan pentingnya sikap saling menyayangi, peduli, dan berempati antar sesama. Ta’awun: Istilah dalam ajaran Islam yang bermakna tolong-menolong atau saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Swt. berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2).
Ayat yang mulia ini menjadi landasan utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Islam tidak mengajarkan umatnya hidup sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam kebajikan. Dalam kehidupan masyarakat Sunda dikenal falsafah silih asih, silih asah, dan silih asuh. Nilai luhur tersebut sejalan dengan ajaran Islam tentang ta’awun, yakni saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga dalam kebaikan.
Budaya ini perlu terus dihidupkan di tengah kehidupan masyarakat. Kepedulian terhadap tetangga, keaktifan dalam pengajian, gotong royong membersihkan lingkungan, ronda malam, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta menjenguk orang sakit merupakan wujud nyata ukhuwah Islamiyah. Ketika masyarakat saling mengenal dan saling peduli, ruang bagi tumbuhnya kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, maupun berbagai bentuk kemaksiatan akan semakin sempit.
Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, marilah kita hidupkan kembali semangat kebersamaan. Jangan biarkan ada tetangga yang kesulitan tanpa kita pedulikan. Jangan biarkan generasi muda kehilangan teladan. Jadilah umat yang menghadirkan rasa aman, ketenangan, dan keberkahan bagi lingkungan sekitar.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pilar Keempat: Menjadikan Safar sebagai Momentum Muhasabah dan Memperkuat Kepedulian Sosial; Pilar keempat dari konsep safar adalah menjadikan perjalanan sebagai momentum untuk muhasabah diri dan memperkuat kepedulian sosial terhadap sesama.
Hakikat Muhasabah dalam Safar: –Merenungi Diri: Menggunakan waktu perjalanan untuk mengevaluasi amal dan kesalahan masa lalu.-Mengingat Kebesaran Allah: Menyaksikan ciptaan Allah di berbagai tempat untuk menambah keimanan.-Meredakan Ego: Merasakan keterbatasan diri sebagai musafir yang bergantung kepada Sang Pencipta.-Memperkuat Kepedulian Sosial; dengan –Berbagi dengan Sesama: Membantu orang lain yang ditemui di jalan atau membutuhkan pertolongan.-Merasakan Penderitaan: Menyadari kesulitan hidup di tempat lain sehingga menumbuhkan rasa empati, dan Menjaga Silaturahim: Memanfaatkan perjalanan untuk menyambung hubungan baik dengan kerabat yang jauh. Untuk hal itu Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu mengevaluasi diri agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Bulan Safar hendaknya tidak dipenuhi mitos dan ketakutan yang tidak berdasar, tetapi dijadikan momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah Swt., mempererat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita menjadi tetangga yang baik? Sudahkah kita menjaga lisan dari fitnah dan berita bohong? Sudahkah kita mendidik keluarga dengan nilai-nilai Islam? Sudahkah kita ikut menjaga keamanan lingkungan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.?
Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan. Keamanan merupakan amanah seluruh warga. Ketika iman semakin kuat, akhlak semakin mulia, keluarga semakin harmonis, dan masyarakat semakin peduli, insya Allah lingkungan akan menjadi lebih aman, damai, dan penuh keberkahan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Marilah kita jadikan bulan Safar ini sebagai momentum memperkokoh ukhuwah Islamiyah, memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Semoga negeri kita senantiasa diberikan keamanan, persatuan, dan keberkahan sehingga mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ عَامَنَا هَذَا عَامَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَتَوْفِيْقٍ وَإِعَانَةٍ عَلَى طَاعَتِكَ. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.