Khutbah Jum’at 15 Rabi’ul Awal 1448 H / 28 Agustus 2026 M: “Menghidupkan Sunnah, Menebarkan Rahmat Bagi Sesama”

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَجَعَلَ فِي اتِّبَاعِ سُنَّتِهِ سَبِيْلًا لِلْهُدَى وَالْفَلَاحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, persaudaraan, dan kehidupan yang sampai hari ini masih dianugerahkan kepada kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., manusia pilihan yang diutus Allah bukan hanya membawa risalah, tetapi juga menghadirkan keteladanan; bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga menyempurnakan akhlak; bukan hanya membimbing hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia menghadirkan kasih sayang bagi sesama dan seluruh alam.

Pada mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya tampak ketika kita berada di masjid. Takwa harus hadir dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, pergaulan, kehidupan bermasyarakat, bahkan dalam cara kita berbicara dan bermedia sosial.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Kita baru saja melewati momentum Maulid Nabi Muhammad Saw. Rabi’ul Awal mengingatkan kita kepada kelahiran manusia agung yang membawa perubahan besar bagi peradaban manusia. Namun, pertanyaan penting bagi kita setelah Maulid adalah: Apakah kecintaan kita kepada Rasulullah berhenti pada peringatan, ataukah berlanjut menjadi keteladanan? Apakah selawat yang kita lantunkan telah mendorong kita menghidupkan sunnahnya? Apakah kecintaan kepada Rasulullah telah menjadikan kita semakin jujur, amanah, penyayang, peduli, dan bermanfaat bagi sesama?

Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31).

Ayat ini memberikan pesan bahwa cinta membutuhkan bukti, dan salah satu bukti cinta kepada Rasulullah adalah ittibā’—mengikuti petunjuk dan menghidupkan sunnah beliau. Karena itulah khutbah Jum’at hari ini mengangkat tema: “Menghidupkan Sunnah, Menebarkan Rahmat Bagi Sesama.”

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Menghidupkan sunnah bukan sekadar mengulang kebiasaan lahiriah Rasulullah. Menghidupkan sunnah berarti menghadirkan petunjuk, akhlak, kasih sayang, kejujuran, amanah, kepedulian, dan kemanfaatan yang diajarkan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata. Pada kesempatan ini, marilah kita renungkan empat ikhtiar menghidupkan sunnah dan menebarkan rahmat bagi sesama.

Pertama: Sunnah Menjadi Jalan Kehidupan; Sunnah Rasulullah Saw. merupakan petunjuk kehidupan. Menghidupkan sunnah berarti mempelajari ajaran Rasulullah, memahami hikmahnya, kemudian berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan dalam kehidupan sehari-hari. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).

Meneladani Rasulullah dimulai dari ibadah yang benar: menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, selawat, doa, sedekah, dan amal saleh. Tetapi sunnah tidak berhenti pada ibadah ritual.

Sunnah juga hidup dalam akhlak.

  • Ketika kita berkata jujur, kita sedang menghidupkan sunnah.
  • Ketika menjaga amanah, kita sedang menghidupkan sunnah.
  • Ketika menghormati orang tua, menyayangi keluarga, memuliakan tetangga, membantu orang kesusahan, dan memaafkan kesalahan orang lain, kita sedang menghidupkan sunnah.
  • Ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan mencari rezeki secara halal, kita pun sedang menjalankan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah.

Maka jangan sampai seseorang rajin menghidupkan sunnah dalam penampilan, tetapi melupakan sunnah dalam akhlak. Sunnah harus menjadi jalan kehidupan: benar ibadahnya, baik akhlaknya, halal pekerjaannya, santun perkataannya, dan bermanfaat kehidupannya.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Kedua: Kasih Sayang Menguatkan Persaudaraan; Inti penting dari risalah Nabi Muhammad Saw. adalah rahmah—kasih sayang. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107).

Rasulullah Saw. membawa agama yang mengajarkan manusia untuk saling menyayangi, menghormati, menolong, dan menjaga kehormatan sesama. Beliau bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi).

Kasih sayang dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

  • Menebarkan salam adalah rahmat.
  • Memberikan senyum adalah rahmat.
  • Berbicara dengan santun adalah rahmat.
  • Memaafkan adalah rahmat.
  • Menjaga perasaan orang lain adalah rahmat.
  • Membantu tetangga adalah rahmat.
  • Menghormati orang yang berbeda adalah rahmat.

Bahkan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan merupakan bagian dari kebaikan. Karena itu, jangan sampai setelah memperingati Maulid, justru lisan kita masih mudah menyakiti. Jangan sampai kita rajin berselawat, tetapi mudah menghujat. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi masih menebarkan kebencian, fitnah, permusuhan, dan kekerasan. Semakin besar cinta kepada Rasulullah, seharusnya semakin besar pula kasih sayang kita kepada sesama.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Ketiga: Kepedulian Melahirkan Kebersamaan; Sunnah Rasulullah bukan hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Rasulullah Saw. memperhatikan fakir miskin, anak yatim, tetangga, orang sakit, musafir, dan mereka yang membutuhkan pertolongan. Beliau bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim). 

Hadis ini mengajarkan bahwa jalan mendapatkan pertolongan Allah salah satunya adalah menjadi manusia yang suka menolong.

Karena itu, mari kita lihat lingkungan di sekitar kita.

  • Adakah tetangga yang kesulitan?
  • Adakah anak yang terancam putus sekolah?
  • Adakah orang tua yang hidup sendiri?
  • Adakah orang sakit yang membutuhkan bantuan?
  • Adakah saudara kita yang kehilangan pekerjaan?
  • Adakah keluarga yang membutuhkan makanan?

Jangan sampai kita sibuk mencari keberkahan, tetapi tidak melihat orang yang membutuhkan pertolongan di depan rumah kita. Kepedulian juga harus kita perluas kepada lingkungan. Menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga air, merawat pohon, dan tidak merusak alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Kesalehan yang hidup adalah kesalehan yang menghadirkan manfaat. Sebab ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya pada banyaknya yang ia miliki, tetapi juga pada banyaknya manfaat yang dapat ia berikan.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Keempat: Rahmat Dihadirkan dalam Perbuatan; Rahmat tidak cukup menjadi slogan. Rahmat harus berubah menjadi perbuatan nyata. Allah Swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 2).

  • Di rumah, rahmat diwujudkan dengan keluarga yang saling menyayangi.
  • Di sekolah, rahmat diwujudkan dengan pendidikan yang memanusiakan peserta didik.
  • Di kampus, rahmat diwujudkan melalui ilmu yang mencerdaskan dan bermanfaat.
  • Di pasar, rahmat diwujudkan dengan perdagangan yang jujur.
  • Di kantor, rahmat diwujudkan dengan pelayanan yang amanah.
  • Di tengah masyarakat, rahmat diwujudkan melalui gotong royong dan kepedulian.

Di ruang digital, rahmat diwujudkan dengan menyampaikan informasi yang benar, santun, tidak memfitnah, tidak menghina, dan tidak menyebarkan kebencian. Bahkan kepada alam, rahmat diwujudkan dengan menjaga kebersihan dan kelestariannya. Inilah makna rahmatan lil ‘ālamīn dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya mengajarkan manusia menjadi saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber keselamatan, kedamaian, dan kemanfaatan bagi lingkungannya.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Dari empat ikhtiar tersebut, terdapat empat pelajaran utama yang hendaknya kita bawa pulang dari mimbar Jum’at ini.

  • Pertama, cinta Rasulullah harus dibuktikan dengan mengikuti petunjuk dan menghidupkan sunnahnya.
  • Kedua, menghidupkan sunnah harus melahirkan kasih sayang yang memperkuat persaudaraan.
  • Ketiga, kasih sayang harus berkembang menjadi kepedulian dan kesediaan membantu sesama.
  • Keempat, kepedulian harus diwujudkan menjadi perbuatan nyata yang menghadirkan rahmat bagi manusia dan lingkungan.

Maka, Maulid jangan berhenti pada peringatan.

  • Selawat jangan berhenti pada ucapan.
  • Sunnah jangan berhenti pada pengetahuan.
  • Dan rahmat jangan berhenti menjadi slogan.
  • Maulid harus melahirkan keteladanan.
  • Selawat harus menguatkan kecintaan.
  • Sunnah harus menggerakkan kehidupan.
  • Kasih sayang harus melahirkan kepedulian.
  • Dan kecintaan kepada Rasulullah harus menghadirkan manfaat bagi sesama.

Semoga setelah melewati momentum Maulid Nabi Muhammad Saw., kita menjadi umat yang semakin mencintai Rasulullah, semakin tekun menghidupkan sunnahnya, semakin lembut akhlaknya, semakin luas kepeduliannya, dan semakin banyak manfaat yang diberikan kepada sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati dan memohon kepada Allah Swt. agar kecintaan kita kepada Rasulullah tidak berhenti pada ucapan, tetapi tumbuh menjadi keteladanan dan amal nyata.

Ya Allah, tumbuhkanlah dalam hati kami kecintaan yang tulus kepada Nabi Muhammad Saw. Karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, menjaga ajarannya, dan meneruskan nilai-nilai kebaikannya dalam kehidupan.

Ya Allah, hiasilah hati kami dengan kasih sayang. Jauhkan kami dari kebencian, dendam, permusuhan, fitnah, kekerasan, kesombongan, dan kezaliman. Jadikan lisan kami lisan yang menyejukkan. Jadikan tangan kami tangan yang menolong. Jadikan ilmu kami ilmu yang bermanfaat. Jadikan harta kami jalan untuk berbagi. Jadikan jabatan kami sarana pelayanan. Dan jadikan seluruh kehidupan kami jalan untuk menghadirkan rahmat bagi sesama.

Ya Allah, kuatkan persaudaraan di antara kami. Berikanlah pertolongan kepada saudara-saudara kami yang sedang mengalami kesulitan, kemiskinan, sakit, musibah, ketidakadilan, dan berbagai kesempitan kehidupan.

Ya Allah, bimbinglah para pemimpin kami agar menjadi pemimpin yang ṣiddīq, amanah, tablīgh, dan faṭānah; pemimpin yang adil, bijaksana, penyayang, serta mengutamakan kemaslahatan rakyat.

Lindungilah para ulama, guru, pendidik, orang tua, anak-anak, generasi muda, pekerja, petani, pedagang, aparat penjaga keamanan, dan seluruh masyarakat kami.

Ya Allah, jagalah negeri Indonesia. Jadikan negeri kami negeri yang aman, damai, adil, makmur, bersatu, serta dipenuhi kasih sayang dan keberkahan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالِاقْتِدَاءَ بِأَخْلَاقِهِ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، سَبَبًا لِلرَّحْمَةِ وَالْمَحَبَّةِ وَالسَّلَامِ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاحِمِيْنَ بِعِبَادِكَ، الْمُحْسِنِيْنَ إِلَى خَلْقِكَ، النَّافِعِيْنَ لِلنَّاسِ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَاءِ وَالظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *