Wawancara Eksekutif- Sabtu, 15 Agustus 2026: 11: 13, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat
“Hari Pramuka ke-65 menantang sekolah mengubah Dasa Darma dari hafalan menjadi akhlak digital yang menjaga sesama, lingkungan, dan masa depan Gen Z.”
Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026 tidak semestinya berhenti pada upacara dan nostalgia. Di tengah perundungan siber, provokasi digital, kekerasan jalanan, serta persoalan kerusakan lingkungan, pendidikan menghadapi tantangan baru: bagaimana nilai Pramuka hadir ketika generasi muda memegang gawai?
Secara akademik, persoalan ini dapat dibaca melalui Social Learning Theory Albert Bandura, bahwa karakter dibentuk melalui keteladanan dan pembiasaan; Social Capital Theory Robert Putnam, bahwa kepercayaan, jejaring, dan gotong royong memperkuat ketahanan sosial; serta perspektif literasi digital ekologis, yang menghubungkan kecakapan teknologi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Secara transendental, Dasa Darma pertama dan kesepuluh meneguhkan hubungan ketakwaan dan kesucian moral.
Gap-nya terletak pada jarak antara Dasa Darma yang dihafalkan dan Dasa Darma yang diamalkan, terutama di ruang digital. Dengan pendekatan reflektif-analitis manajemen pendidikan, berikut jawaban atas tiga pertanyaan Bedanews.
Pertama: Nilai Manajemen Pendidikan Apa yang Dapat Digali dari Hari Pramuka? Hari Pramuka mengajarkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan manajemen berbasis keteladanan, pembiasaan, kolaborasi, dan tindakan nyata. Dasa Darma sesungguhnya merupakan modal manajerial: disiplin membangun konsistensi; tanggung jawab melahirkan akuntabilitas; gotong royong menguatkan kerja tim; keberanian mendorong kepemimpinan; sedangkan cinta alam membangun tanggung jawab ekologis.
Karena itu, sekolah perlu menggeser kepramukaan dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler menjadi ekosistem pendidikan karakter. Kepala sekolah menjadi penggerak, guru menjadi teladan, peserta didik menjadi pelaku, sementara keluarga dan masyarakat menjadi mitra.
Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak peserta didik mampu menghafal Dasa Darma, tetapi sejauh mana mereka mampu menerapkannya ketika menghadapi konflik, menggunakan media sosial, menjaga fasilitas publik, menolong sesama, dan memperlakukan lingkungan. Inilah transformasi penting: dari manajemen kegiatan menuju manajemen karakter.
Kedua: Langkah Strategis Apa agar Pramuka Membangun Generasi Aman dan Peduli Lingkungan? Strateginya adalah mengintegrasikan Dasa Darma, literasi digital, keamanan sosial, dan ekoliterasi dalam program nyata sekolah. Pertama, membangun Pramuka Digital Berakhlak. Anggota Pramuka dilatih menangkal hoaks, perundungan siber, ujaran kebencian, serta provokasi kekerasan. Kedua, mengembangkan Pramuka Sahabat Keamanan, yakni pendidikan sebaya untuk resolusi konflik, anti-bullying, anti-kekerasan jalanan, dan budaya saling menjaga. Ketiga, mengembangkan Pramuka Sahabat Alam melalui penanaman pohon, adopsi lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi air, dan kampanye digital menjaga hutan Jawa Barat. Teknologi dengan demikian tidak dijauhi, tetapi diarahkan menjadi instrumen kemaslahatan. Sekolah juga perlu membangun kolaborasi dengan keluarga, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan komunitas lingkungan. Gerakan Pramuka akhirnya menjadi laboratorium kewargaan: tempat generasi muda belajar bahwa mencintai Indonesia berarti menjaga manusianya sekaligus merawat alamnya.
Ketiga: Apa Pesan Moral dan Spiritual Hari Pramuka bagi Gen Z? Pesan terpenting bagi Gen Z adalah: jadilah generasi digital tanpa kehilangan kompas moral. Dasa Darma pertama, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menegaskan fondasi spiritual. Dasa Darma kesepuluh, Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, sangat relevan dengan kehidupan digital. Dalam konteks sekarang, “perkataan” juga berarti komentar, unggahan, pesan, video, dan konten yang disebarkan.
Gen Z perlu menyadari bahwa jejak digital sekaligus merupakan jejak moral. Jangan menggunakan teknologi untuk mempermalukan, memprovokasi, merundung, atau mengorganisasi kekerasan. Gunakanlah untuk belajar, menolong, menginspirasi, serta menggerakkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Spirit Pramuka mengajarkan keseimbangan hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal-‘alam: bertakwa kepada Tuhan, menjaga manusia, sekaligus merawat alam.
Singkatnya, Hari Pramuka ke-65 harus menjadi momentum transformasi dari Dasa Darma yang dihafal menuju Dasa Darma yang dihidupkan. Tantangan generasi kini bukan hanya bertahan di alam terbuka, tetapi juga tetap berakhlak di belantara digital. Sekolah perlu menjadikan Pramuka ekosistem pembentukan karakter yang memadukan spiritualitas, literasi digital, keamanan sosial, dan kepedulian ekologis. Dengan demikian, Pramuka tidak kehilangan relevansi di tengah Gen Z. Justru di era AI dan media sosial, Indonesia semakin membutuhkan generasi yang cerdas teknologinya, kuat karakternya, aman pergaulannya, dan lestari lingkungannya. Wallahu A’lam.