Khutbah Jum’at 22 Rabi’ul Awal 1448 H/4 September 2026 M: Kuliah Dimulai, Karakter Diuji: Meneladani Rasul Di Ruang Akademik

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ مُعَلِّمًا وَمُرَبِّيًا وَرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan ilmu pengetahuan sehingga pada hari yang mulia ini kita kembali dipertemukan dalam ibadah Jum’at, 22 Rabi’ul Awal 1448 H bertepatan dengan 4 September 2026 M. Nikmat ilmu merupakan salah satu karunia besar Allah, sebab melalui ilmu manusia dapat memahami kehidupan, mengembangkan kemampuan, memperbaiki diri, dan menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau hingga akhir zaman. Rasulullah Saw. bukan hanya pembawa risalah, tetapi juga pendidik yang membentuk manusia melalui ilmu, keteladanan, akhlak, dan tanggung jawab.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kejujuran dalam bekerja, tanggung jawab dalam menjalankan amanah, kesungguhan dalam mencari ilmu, serta kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kebaikan.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Memasuki awal September 2026, perguruan tinggi kembali memulai perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Ruang-ruang kuliah kembali dipenuhi mahasiswa. Para dosen kembali menjalankan amanah mendidik. Buku dibuka, materi dipelajari, diskusi dimulai, dan berbagai tugas akademik mulai diberikan.

Momentum awal kuliah sering dipahami sebagai dimulainya kembali kegiatan akademik. Padahal, apabila direnungkan lebih dalam, awal kuliah juga merupakan awal pengujian karakter. Mahasiswa tidak hanya diuji melalui soal dan tugas, tetapi juga melalui kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesungguhan belajar. Dosen pun tidak hanya diuji melalui kemampuan menguasai materi, tetapi juga melalui amanah, keadilan, keteladanan, dan kesungguhan membimbing mahasiswa.

Persoalan pendidikan karena itu tidak cukup dijawab dengan pertanyaan tentang seberapa banyak materi yang dapat disampaikan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah proses pendidikan mampu membentuk manusia yang semakin berilmu sekaligus semakin berkarakter.

Nilai akademik memang penting. Prestasi juga penting. Gelar pendidikan memiliki arti. Akan tetapi, semuanya akan kehilangan makna apabila kecerdasan tidak disertai kejujuran, ilmu tidak disertai tanggung jawab, dan kemampuan tidak menghasilkan kemanfaatan. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah Saw. merupakan teladan dalam seluruh dimensi kehidupan. Keteladanan beliau tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga dalam membangun manusia, mengembangkan ilmu, berkomunikasi, memimpin, dan menyelesaikan persoalan kehidupan.

Salah satu cara meneladani Rasulullah Saw. dalam kehidupan akademik adalah menghadirkan empat sifat utama beliau, yaitu ṣiddīq, amanah, tablīgh, dan faṭānah, sebagai fondasi karakter pembelajar.

Oleh karena itu, pada momentum Rabi’ul Awal dan minggu pertama perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 ini, marilah kita renungkan empat ikhtiar meneladani Rasulullah Saw. dalam membangun karakter akademik: 

Pertama: Ṣiddīq sebagai Fondasi Kejujuran Akademik; Ṣiddīq berarti benar dan jujur. Dalam kehidupan akademik, kejujuran merupakan fondasi yang tidak dapat ditawar. Pendidikan kehilangan nilai apabila proses memperoleh pengetahuan dilakukan melalui ketidakjujuran. Nilai tinggi tidak akan menjadi kebanggaan apabila diperoleh dengan menyontek. Tulisan yang tampak bagus kehilangan kehormatan apabila dihasilkan dengan mengambil karya orang lain tanpa pengakuan. Penelitian kehilangan nilai ilmiah apabila data direkayasa untuk menyesuaikan kesimpulan yang diinginkan. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kejujuran merupakan bagian dari ketakwaan. Karena itu, integritas akademik bukan sekadar aturan administrasi kampus, tetapi juga bagian dari pembentukan akhlak seorang Muslim.

Dalam kehidupan mahasiswa, sifat ṣiddīq dapat diwujudkan dengan mengerjakan tugas secara jujur, mencantumkan sumber dengan benar, tidak menyontek, tidak memalsukan data, dan tidak mengambil gagasan orang lain seolah-olah sebagai karya sendiri. Bagi dosen, ṣiddīq berarti menyampaikan ilmu secara bertanggung jawab, mengakui keterbatasan, serta memberikan penilaian secara objektif.

Tantangan kejujuran akademik menjadi semakin besar di era digital. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Teknologi kecerdasan buatan bahkan mampu membantu mencari bahan, merangkum bacaan, mengolah gagasan, dan menyusun tulisan. Semua kemudahan tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran apabila digunakan secara tepat, tetapi dapat pula menjadi jalan pintas yang melemahkan proses berpikir apabila digunakan tanpa tanggung jawab.

Karena itu, teknologi seharusnya membantu manusia belajar lebih baik, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual manusia. Kecerdasan buatan dapat menjadi alat, tetapi kejujuran tetap merupakan keputusan moral manusia.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Kedua: Amanah sebagai Tanggung Jawab dalam Belajar dan Mengajar; Amanah berarti dapat dipercaya dan mampu menunaikan tanggung jawab. Kesempatan memperoleh pendidikan merupakan amanah besar. Tidak semua orang memiliki kesempatan berada di perguruan tinggi, belajar dari berbagai sumber ilmu, berdiskusi dengan para dosen, dan mengembangkan kemampuan secara sistematis. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58).

Bagi mahasiswa, amanah diwujudkan dengan kesungguhan mengikuti perkuliahan, membaca, berdiskusi, menyelesaikan tugas, menghargai waktu, serta memanfaatkan kesempatan belajar sebaik-baiknya. Kehadiran di kelas tidak seharusnya menjadi kegiatan administratif semata, tetapi bagian dari proses membangun kemampuan dan kedewasaan akademik.

Amanah juga berlaku bagi para dosen. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi, tetapi membimbing mahasiswa agar mampu memahami, berpikir, bertanya, menganalisis, dan menghasilkan karya. Dosen memegang tanggung jawab untuk memberikan contoh tentang integritas, kedisiplinan, keadilan, dan kecintaan terhadap ilmu.

Dalam konteks inilah tugas mahasiswa perlu ditempatkan secara lebih bermakna. Tugas tidak semestinya berakhir ketika dikumpulkan dan dinilai. Tugas dapat menjadi proses latihan kompetensi. Tugas yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dapat dikembangkan menjadi tulisan, penelitian, gagasan, produk, atau karya lain yang bermanfaat.

Dengan demikian, proses pendidikan bergerak dari materi menuju kompetensi, dari tugas menuju karya, dan dari ilmu menuju manfaat. Inilah salah satu bentuk menunaikan amanah pendidikan.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Ketiga: Tablīgh sebagai Semangat Membagikan Ilmu dan Kebaikan; Tablīgh berarti menyampaikan. Rasulullah Saw. tidak menyimpan risalah hanya untuk dirinya sendiri. Beliau menyampaikan ilmu, memberikan penjelasan, membimbing umat, dan mengajak manusia menuju kebaikan dengan cara yang bijaksana. Rasulullah Saw. bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa ilmu memiliki tanggung jawab sosial. Pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri. Ilmu menjadi semakin bermakna apabila dapat membantu orang lain memahami persoalan, memperbaiki kehidupan, dan menemukan solusi.

Di ruang akademik, tablīgh dapat diwujudkan melalui proses mengajar, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, mempublikasikan gagasan, serta membagikan pengetahuan kepada masyarakat. Mahasiswa yang memperoleh ilmu dapat membagikannya kepada teman dan masyarakat. Dosen membagikan ilmu melalui pembelajaran dan karya ilmiah. Peneliti membagikan temuannya agar dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dan penyelesaian masalah kehidupan. Namun, menyampaikan informasi juga mengandung tanggung jawab untuk memastikan kebenarannya. Allah Swt. mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6).

Pesan tabayyun menjadi semakin penting di era media digital. Kecepatan memperoleh dan membagikan informasi sering kali tidak diikuti kemampuan memeriksa kebenaran. Karena itu, karakter tablīgh dalam kehidupan akademik menuntut keberanian menyampaikan gagasan sekaligus tanggung jawab menjaga akurasi, etika, dan kemanfaatannya.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Keempat: Faṭānah sebagai Kecerdasan Kritis dan Kebijaksanaan; Faṭānah berarti cerdas dan bijaksana. Rasulullah Saw. memberikan teladan bagaimana kecerdasan digunakan untuk memahami keadaan, memecahkan persoalan, mengambil keputusan, serta menghadirkan kemaslahatan. Islam sangat menghargai proses berpikir. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah Saw. dimulai dengan perintah membaca:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1).

Membaca bukan hanya aktivitas mengenali tulisan. Membaca juga berarti memahami realitas, mengamati perubahan, mempertanyakan sesuatu secara kritis, serta berusaha menemukan makna dan solusi.

Kemampuan tersebut semakin penting pada masa sekarang karena manusia hidup di tengah banjir informasi. Banyaknya informasi tidak selalu berarti bertambahnya pengetahuan. Bahkan banyaknya pengetahuan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Karena itu, mahasiswa perlu dibiasakan bukan hanya menerima informasi, tetapi juga memeriksa sumber, membandingkan pendapat, menganalisis bukti, berdiskusi, dan menyusun kesimpulan secara bertanggung jawab.

Faṭānah dalam ruang akademik berarti kemampuan menggabungkan ilmu dengan kecerdasan kritis, kreativitas, dan kebijaksanaan. Pendidikan tidak cukup melahirkan manusia yang mampu menjawab soal. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu membaca persoalan, menemukan alternatif, menghasilkan karya, dan memberikan solusi.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Dari empat pesan tersebut kita memperoleh pelajaran bahwa meneladani Rasulullah Saw. dalam kehidupan akademik tidak cukup melalui ungkapan kecintaan, tetapi perlu diwujudkan dalam karakter belajar dan mengajar. Ṣiddīq mengajarkan pentingnya integritas akademik. Amanah mengajarkan kesungguhan menunaikan tanggung jawab pendidikan. Tablīgh mengingatkan bahwa ilmu harus dibagikan dan diarahkan kepada kemanfaatan. Sedangkan faṭānah menuntun manusia agar menggunakan kecerdasan secara kritis, kreatif, dan bijaksana.

Memasuki minggu pertama perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, mari kita memahami bahwa kuliah dimulai sekaligus karakter diuji. Mahasiswa akan diuji melalui kejujannya ketika mengerjakan tugas, kedisiplinannya dalam belajar, serta kemampuannya menjaga amanah ilmu. Dosen akan diuji melalui kesungguhan mendidik, keadilan dalam menilai, serta kemampuannya menjadi teladan.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tingginya nilai yang diperoleh, atau gelar yang diraih. Pendidikan harus tampak dalam perubahan karakter, peningkatan kompetensi, lahirnya karya, dan tumbuhnya kemanfaatan bagi masyarakat.

Semoga momentum Rabi’ul Awal dan dimulainya perkuliahan semester baru menjadikan kita semakin mampu meneladani Rasulullah Saw. dalam kehidupan akademik. Semoga para mahasiswa menjadi pembelajar yang jujur, amanah, cerdas, kritis, dan bermanfaat. Semoga para dosen menjadi pendidik yang berilmu, berintegritas, adil, dan mampu memberikan keteladanan. Dan semoga lembaga pendidikan kita menjadi tempat tumbuhnya ilmu, akhlak, kompetensi, karya, dan kemanfaatan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati seraya memohon kepada Allah Swt. Semoga momentum Rabi’ul Awal ini semakin menumbuhkan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. dan menguatkan tekad untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan, termasuk dalam belajar, mengajar, bekerja, menulis, meneliti, dan menggunakan teknologi.

Ya Allah, jadikanlah para pencari ilmu sebagai pribadi yang jujur, amanah, cerdas, santun, dan bertanggung jawab. Jauhkan mereka dari ketidakjujuran, kemalasan, kesombongan ilmu, penyalahgunaan teknologi, serta segala perilaku yang menghilangkan keberkahan pendidikan.

Ya Allah, karuniakan kepada para dosen, guru, pendidik, dan orang tua kesabaran, keteladanan, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam membimbing generasi. Jadikan ilmu yang mereka ajarkan sebagai ilmu yang bermanfaat dan amal yang terus mengalir pahalanya.

Ya Allah, berkahilah proses pendidikan kami. Jadikan ruang-ruang belajar sebagai tempat tumbuhnya kejujuran, tanggung jawab, kecerdasan, kedisiplinan, kreativitas, dan akhlak mulia. Jadikan tugas-tugas akademik sebagai sarana membentuk kompetensi, melahirkan karya, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu meneladani sifat Rasulullah Saw.: ṣiddīq dalam menjaga kebenaran, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, tablīgh dalam menyampaikan ilmu dan kebaikan, serta faṭānah dalam menggunakan kecerdasan dengan bijaksana.

Ya Allah, jadikan perguruan tinggi, sekolah, madrasah, pesantren, dan seluruh lembaga pendidikan kami sebagai tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, berintegritas, kompeten, serta mampu memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.

Ya Allah, karuniakan kepada para pemimpin kami kekuatan untuk menjalankan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan mengutamakan kemaslahatan rakyat. Lindungilah para ulama, guru, pendidik, mahasiswa, generasi muda, orang tua, serta seluruh masyarakat kami.

Ya Allah, jagalah Indonesia sebagai negeri yang aman, damai, bersatu, maju, adil, makmur, berkeadaban, dan penuh keberkahan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَحِكْمَةً، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا وَعَمَلَنَا صَالِحًا وَأَخْلَاقَنَا كَرِيْمَةً.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ وَحُسْنَ الْبَلَاغِ وَالْفَطَانَةَ، وَزَيِّنَّا بِالْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ وَالْحِكْمَةِ.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِطُلَّابِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَأَسَاتِذَتِنَا، وَوَفِّقْهُمْ فِي التَّعَلُّمِ وَالتَّعْلِيْمِ، وَاجْعَلِ الْعِلْمَ فِي قُلُوْبِهِمْ نُوْرًا، وَفِي أَعْمَالِهِمْ هُدًى، وَفِي حَيَاتِهِمْ نَفْعًا وَبَرَكَةً.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مُتَّحِدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا مُزْدَهِرًا، وَافْتَحْ لَهَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالرَّحْمَةِ وَالْبَرَكَةِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *