Suhu Ilmu Pulang, Warisannya Tinggal: Apa yang Kita Pelajari dari Prof. Achmad Sanusi?

Wawancara Eksekutif- Rabu, 23 Juni  2026: 20;16, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Lulusan S-3 MANJEMEN PENDIDIKAN UNINUS Tahun 2012, Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

“Kepergian Prof. Achmad Sanusi meninggalkan jejak kepemimpinan, keteladanan, dan nilai pendidikan yang tetap relevan bagi generasi akademisi masa kini”

Wafatnya Prof. Dr. H. Achmad Sanusi pada Selasa 23 Juni 2026 menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Beliau bukan hanya mantan Rektor IKIP Bandung dan tokoh pendidikan nasional, tetapi juga sosok pendidik yang berhasil memadukan kecerdasan intelektual, kepemimpinan akademik, dan keteladanan moral. Fenomena ini mendorong banyak akademisi untuk merefleksikan kembali warisan pemikiran dan praktik kepemimpinan pendidikan yang beliau tinggalkan.

Secara teoritis, kepemimpinan pendidikan modern menekankan pentingnya transformational leadership (Bass), human capital development (Schultz), dan moral leadership (Sergiovanni). Namun dalam praktiknya, tidak semua pemimpin pendidikan mampu mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut secara utuh. Di sinilah letak keistimewaan Prof. Achmad Sanusi.

Tulisan ini menggunakan pendekatan reflektif-kualitatif berbasis pengalaman akademik dan kajian kepemimpinan pendidikan. Tujuannya adalah menjawab tiga pertanyaan yang diajukan Media Bedanews mengenai pelajaran manajemen pendidikan, nilai edukatif-motivatif, serta pesan dan kesan selama berinteraksi dengan beliau. Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi 3 pertanyaan media BEDANEWS, satu-pwesatu:

Pertama: Pelajaran Manajemen Pendidikan Apa yang Dapat Digali? Pelajaran terpenting dari Prof. Achmad Sanusi adalah bahwa manajemen pendidikan harus berorientasi pada manusia, bukan sekadar sistem. Beliau memandang lembaga pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter, bukan hanya penghasil lulusan. Karena itu, pengelolaan pendidikan harus memadukan visi akademik, pembinaan sumber daya manusia, dan penguatan budaya organisasi.

Beliau juga menunjukkan pentingnya kepemimpinan berbasis keteladanan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya membuat kebijakan, tetapi harus menjadi contoh dalam integritas, disiplin, dan pengabdian. Dari perspektif manajemen pendidikan, beliau mengajarkan bahwa kualitas lembaga sangat ditentukan oleh kualitas guru dan dosennya. Oleh sebab itu, pengembangan SDM menjadi prioritas utama dalam membangun institusi pendidikan yang unggul. Pada tahun 2015 Beliau Mengantarkan Buku Saya berjudul “Pendidikan Profesi Keguruan: Menjadi Guru Inspiratif dan Inovatif”

Kedua: Nilai Edukasi dan Motivasi sebagai Direktur Pascasarjana UNINUS?; Sebagai Direktur Pascasarjana UNINUS, Prof. Achmad Sanusi menghadirkan suasana akademik yang kuat namun tetap humanis. Beliau menanamkan keyakinan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi wahana membangun kedewasaan intelektual dan tanggung jawab sosial.

Nilai edukatif yang paling menonjol adalah semangat belajar sepanjang hayat. Meski telah mencapai puncak karier akademik, beliau tetap aktif membaca, menulis, berdiskusi, dan membimbing. Sikap ini menjadi motivasi bahwa seorang akademisi sejati tidak pernah berhenti belajar.

Selain itu, beliau selalu menekankan pentingnya berpikir kritis tanpa kehilangan akhlak. Baginya, ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan dan kemanusiaan. Pesan ini sangat relevan di tengah tantangan pendidikan tinggi yang sering terjebak pada orientasi administratif dan formalitas akademik semata.

Ketiga: Pesan dan Kesan Selama Empat Tahun Bersama Beliau; Selama empat tahun berinteraksi dan belajar bersama Prof. Achmad Sanusi, kesan yang paling mendalam adalah perpaduan antara ketegasan intelektual dan kerendahan hati. Beliau mampu menjelaskan gagasan yang kompleks dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami berbagai kalangan.

Pesan yang selalu terasa adalah pentingnya menjaga integritas akademik. Beliau mengingatkan bahwa kampus harus menjadi rumah ilmu pengetahuan yang bebas dari kepentingan sesaat. Seorang akademisi dituntut berani berpikir kritis, tetapi tetap menjunjung etika dan tanggung jawab moral.

Secara pribadi, beliau memberikan teladan bahwa kebesaran seorang ilmuwan tidak diukur dari jabatan yang pernah diraih, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada orang lain. Kesederhanaan, kedisiplinan, dan komitmennya terhadap pendidikan menjadi pelajaran hidup yang sulit dilupakan.

Pada akhirnya, kepergian Prof. Dr. H. Achmad Sanusi menegaskan bahwa pemimpin pendidikan sejati tidak hanya meninggalkan institusi, tetapi juga meninggalkan sistem nilai. Dari beliau kita belajar bahwa manajemen pendidikan harus memanusiakan manusia, kepemimpinan harus dibangun melalui keteladanan, dan ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan. Warisan terbesarnya bukan jabatan atau penghargaan, melainkan inspirasi agar setiap pendidik terus belajar, menjaga integritas, dan mengabdikan ilmu bagi kemajuan bangsa. Selama nilai-nilai itu hidup, sesungguhnya Prof. Achmad Sanusi tetap hadir dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Wallahu A’lam.

“Selamat jalan Prof. Achmad Sanusi, ilmumu abadi menerangi generasi, keteladananmu hidup sepanjang zaman bangsa.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *