Khutbah Jum’at 26 Juni 2026 M / 11 Muharram 1448 H Muharram: Momentum Hijrah Membangun Generasi Dan Peradaban Pendidikan Islam

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمِنَةَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَةِ، وَخَصَّ بَعْضَهَا بِالْفَضْلِ وَالْكَرَامَةِ، وَجَعَلَ شَهْرَ مُحَرَّمٍ مَدْخَلًا لِسَنَةٍ جَدِيْدَةٍ لِلْمُحَاسَبَةِ وَالْإِصْلَاحِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini kita dapat berkumpul di rumah Allah untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia sekaligus bekal menuju kebahagiaan akhirat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita telah memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Kehadiran tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, tetapi momentum untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Pada saat yang sama, bangsa Indonesia sedang berada pada masa penting dalam dunia pendidikan. Tahun Pelajaran 2025/2026 di sekolah-sekolah mulai berakhir, dan kita bersiap menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027. Perguruan tinggi pun memasuki persiapan tahun akademik baru. Karena itu, Muharram menjadi momentum yang sangat tepat untuk berhijrah: dari kebiasaan lama menuju kebiasaan baru yang lebih baik; dari kelemahan menuju kekuatan; dari kelalaian menuju kesadaran; dari pendidikan yang hanya mengejar nilai menuju pendidikan yang membangun iman, ilmu, akhlak, dan peradaban. Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan kemuliaan Muharram sebagai bulan Allah. Bulan ini mengajarkan bahwa setiap awal harus dimulai dengan ketaatan, setiap perubahan harus dibangun di atas iman, dan setiap perjalanan hidup harus diarahkan menuju ridha Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada beberapa pelajaran penting dari Muharram yang dapat kita jadikan bekal dalam membangun generasi dan peradaban pendidikan Islam:

Pertama: Hijrah Memperkuat Iman sebagai Fondasi Pendidikan; Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar harus dimulai dari iman yang kokoh.

Dalam pendidikan, iman adalah fondasi utama. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan manusia cerdas secara intelektual, tetapi miskin akhlak. Pendidikan Islam harus melahirkan generasi yang berilmu, beriman, jujur, amanah, santun, disiplin, dan bertanggung jawab. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia dibangun oleh dua kekuatan besar: iman dan ilmu. Ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah, sedangkan iman tanpa ilmu dapat kurang memberi kemanfaatan yang luas. Maka tugas pendidikan Islam adalah memadukan keduanya agar lahir generasi yang cerdas sekaligus bertakwa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua: Hijrah Membangun Generasi Berilmu dan Berakhlak; Momentum pergantian tahun pelajaran dan tahun akademik hendaknya tidak dipandang sekadar pergantian kalender pendidikan. Bagi orang tua, guru, dosen, peserta didik, dan mahasiswa, masa ini adalah kesempatan untuk memperbarui niat belajar, memperbaiki cara mendidik, dan memperkuat akhlak dalam proses pencarian ilmu.

Anak-anak kita tidak cukup hanya dipersiapkan untuk naik kelas, lulus ujian, atau masuk perguruan tinggi. Mereka harus disiapkan menjadi generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, halus akhlaknya, dan besar manfaatnya bagi umat dan bangsa. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis ini mengingatkan bahwa inti pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Maka sekolah, madrasah, pesantren, kampus, dan keluarga harus menjadi taman pendidikan akhlak. Di sana anak-anak belajar menghormati guru, mencintai ilmu, menjaga adab, menghargai sesama, menggunakan teknologi dengan bijak, serta menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketiga: Hijrah Membangun Peradaban Pendidikan Islam; Hijrah Nabi SAW ke Madinah melahirkan masyarakat baru yang berperadaban. Di Madinah, Rasulullah SAW membangun masjid, mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, menyusun kehidupan sosial, serta menanamkan nilai keadilan, ilmu, ukhuwah, dan tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa hijrah tidak berhenti pada perubahan pribadi, tetapi harus berkembang menjadi perubahan sosial dan peradaban. Dalam konteks pendidikan, hijrah berarti memperbaiki mutu pembelajaran, membangun budaya literasi, menegakkan kejujuran akademik, memperkuat karakter peserta didik, dan menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat cahaya ilmu dan akhlak. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa perubahan umat harus dimulai dari perubahan diri. Jika kita ingin pendidikan lebih baik, maka niat kita harus diperbaiki. Jika ingin anak-anak lebih berakhlak, maka keluarga harus memberi teladan. Jika ingin sekolah dan kampus lebih bermutu, maka guru, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan harus bekerja dengan amanah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Keempat: Hijrah Menata Masa Depan Pendidikan dengan Visi dan Keteladanan; Hijrah Rasulullah SAW dilakukan dengan iman, tetapi juga dengan perencanaan yang matang. Beliau menyusun strategi, memilih waktu, menyiapkan sahabat pendamping, dan menjadikan Madinah sebagai pusat pembangunan umat.

Awal Mula: Musyawarah dan Persiapan Hijrah;Ketika tekanan dan penyiksaan Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin memuncak, Allah ﷻ mengizinkan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat untuk berhijrah. Kaum Quraisy semakin membabi buta dalam menyiksa dan menganiaya kaum Muslimin, hingga Allah membuka pintu hijrah ke Yatsrib (Madinah). Para sahabat satu persatu berangkat ke Madinah, mereka pergi dalam kelompok-kelompok kecil, Sebagian besar mereka pergi secara sembunyi-sembunyi, setelah mayoritas sahabat sudah berhijrah ke Madinah, dan Rasulullah ﷺ juga telah mendapatkan izin dari Allah untuk hijrah, maka Rasulullah ﷺ pun mulai menyusun strategi hijrah secara rahasia. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sungguh, pahala di akhirat itu lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41).

Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa kaum Quraisy tengah merancang pembunuhan terhadap beliau. Maka beliau pun menyusun strategi matang. Nabi ﷺ mendatangi sahabatnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di siang hari bolong, waktu yang tak biasa. Di sana, beliau mengabarkan bahwa izin hijrah telah turun.

Dari sini kita belajar bahwa pendidikan Islam juga memerlukan visi, strategi, dan keteladanan. Orang tua harus memiliki visi dalam mendidik anak. Guru dan dosen harus memiliki keteladanan dalam membimbing murid dan mahasiswa. Lembaga pendidikan harus memiliki arah yang jelas dalam membentuk generasi masa depan.

Menyonsong awal tahun pelajaran dan tahun akademik baru adalah kesempatan untuk menata niat dan rencana. Para pelajar dan mahasiswa hendaknya belajar bukan hanya untuk ijazah, tetapi untuk ibadah dan kemanfaatan. Para guru dan dosen hendaknya mengajar bukan sekadar menggugurkan tugas, tetapi sebagai amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Para orang tua hendaknya mendampingi anak bukan hanya dengan biaya, tetapi dengan doa, akhlak, dan keteladanan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di tengah derasnya arus digital, perubahan sosial, dan tantangan moral generasi muda, pendidikan Islam harus hadir sebagai cahaya. Jangan sampai anak-anak kita cerdas menggunakan teknologi, tetapi lemah dalam adab. Jangan sampai mereka pandai berbicara, tetapi miskin kesantunan. Jangan sampai mereka tinggi cita-citanya, tetapi jauh dari Allah SWT.

Muharram mengajarkan bahwa kebangkitan tidak lahir dari kelalaian, tetapi dari kesadaran. Peradaban tidak lahir dari kemalasan, tetapi dari ilmu dan kerja keras. Generasi unggul tidak lahir dari pendidikan yang kosong nilai, tetapi dari pendidikan yang dipenuhi iman, akhlak, disiplin, dan keteladanan.

Karena itu, marilah kita jadikan Muharram sebagai momentum hijrah membangun generasi dan peradaban pendidikan Islam. Semoga dari rumah-rumah kita, masjid-masjid kita, sekolah-sekolah kita, madrasah-madrasah kita, pesantren-pesantren kita, dan perguruan tinggi kita lahir generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mencintai agamanya, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, serta memberi manfaat bagi bangsa dan umat manusia.

Semoga Allah SWT menjadikan Muharram tahun ini sebagai awal kebaikan, awal perubahan, dan awal kebangkitan pendidikan Islam yang lebih bermartabat. Wallahu A’lam bish Shawab.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita terus menjaga ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan menanamkan semangat hijrah dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan dunia pendidikan. Semoga Muharram tahun ini menjadi momentum lahirnya generasi yang berilmu, beradab, berakhlak mulia, dan bertakwa kepada Allah SWT.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى طَاعَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا وَخُلُقًا كَرِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ مُحَرَّمٍ، وَوَفِّقْنَا لِلصِّيَامِ وَالطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا مُؤْمِنًا، عَالِمًا، صَالِحًا، مُتَأَدِّبًا، نَافِعًا لِلدِّيْنِ وَالْوَطَنِ وَالْأُمَّةِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِي مُعَلِّمِيْنَا وَمُرَبِّيْنَا وَطُلَّابِنَا وَجَامِعَاتِنَا وَمَدَارِسِنَا وَمَعَاهِدِنَا، وَاجْعَلْهَا مَنَابِرَ لِلْعِلْمِ وَالْإِيْمَانِ وَالْأَخْلَاقِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُوْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *