اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, ilmu, persaudaraan, kedamaian, serta kesempatan untuk terus belajar dan memberikan manfaat kepada sesama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang mengikuti petunjuk dan meneladani akhlak beliau hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya tersimpan dalam hati dan tidak cukup hanya terucap melalui lisan. Takwa harus menjelma menjadi tindakan: kejujuran ketika bekerja, keadilan ketika memutuskan, tanggung jawab ketika menerima amanah, persaudaraan ketika berbeda, dan kemanfaatan ketika memiliki ilmu.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Jum’at, 2 Oktober 2026 M/20 Rabi’ul Akhir 1448 H, hadir berdekatan dengan dua momentum sejarah bangsa. Kita baru melewati tanggal 30 September, yang mengingatkan bangsa Indonesia kepada rangkaian peristiwa kelam tahun 1965 dengan berbagai luka dan kompleksitas sejarahnya. Kemarin, 1 Oktober 2026, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan tema: “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Momentum tersebut selayaknya tidak berhenti menjadi seremoni. Sejarah semestinya melahirkan pelajaran. Nilai semestinya melahirkan tindakan. Pengetahuan semestinya melahirkan kebijaksanaan.
Kita belajar bahwa perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Kekuasaan tidak boleh meninggalkan keadilan. Kepentingan tidak boleh mengalahkan kemanusiaan. Dan ilmu tidak boleh digunakan untuk memperbesar pertentangan. Sejarah yang dipelajari dengan jernih seharusnya membuat generasi berikutnya semakin arif, bukan mewarisi kebencian.
Di sinilah tema khutbah kita menemukan relevansinya: “Nilai Menjadi Aksi, Ilmu Menjadi Bakti.” Nilai tidak cukup dihafalkan. Ilmu tidak cukup dikuasai. Kebaikan tidak cukup dibicarakan. Persatuan tidak cukup diserukan. Keadilan tidak cukup dituliskan. Semuanya menuntut pembuktian dalam amal nyata. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).
Ayat ini menyampaikan pesan yang sangat kuat: harus ada kesatuan antara nilai dan tindakan, antara perkataan dan perbuatan, antara pengetahuan dan pengamalan. Orang boleh berbicara tentang kejujuran, tetapi kejujuran baru memiliki makna ketika ia tetap jujur saat ada kesempatan berbuat curang. Orang boleh berbicara tentang keadilan, tetapi keadilan baru teruji ketika ia memperlakukan orang lain secara benar, termasuk kepada orang yang berbeda dengannya. Orang boleh berbicara tentang persatuan, tetapi persatuan baru terbukti ketika perbedaan tidak membuat kita saling merendahkan.
Demikian pula ilmu. Ilmu bukan sekadar sesuatu yang memenuhi pikiran. Ilmu seharusnya menjadi cahaya yang menuntun tindakan dan memberikan manfaat kepada kehidupan. Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita untuk memohon:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah).
Perhatikanlah, jamaah sekalian. Rasulullah Saw. mengajarkan kita meminta bukan sekadar ilmu, melainkan عِلْمًا نَافِعًا — ilmu yang bermanfaat. Artinya, ukuran ilmu bukan hanya berapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga berapa besar manfaat yang lahir darinya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari sini kita menemukan sebuah mata rantai: Nilai menuntun sikap. Sikap melahirkan tindakan. Tindakan yang konsisten membentuk integritas. Ilmu melahirkan kompetensi. Kompetensi melahirkan karya. Karya yang diarahkan kepada kemaslahatan menjadi bakti. Maka nilai menjadi aksi berarti mengubah keyakinan tentang kebaikan menjadi perilaku nyata. Sedangkan ilmu menjadi bakti berarti mengubah pengetahuan, keahlian, profesi, dan kemampuan menjadi jalan memberikan manfaat kepada sesama. Dari tema tersebut, setidaknya terdapat empat ikhtiar yang perlu kita renungkan bersama:
Pertama: Nilai Harus Dibuktikan dengan Aksi; Bangsa, lembaga, keluarga, bahkan diri pribadi sesungguhnya memiliki banyak nilai luhur: kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, persatuan, keadilan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama. Persoalannya bukan selalu kekurangan nilai. Tantangannya justru sering terletak pada jarak antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan. Allah Swt. berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin….” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kebaikan membutuhkan amal; Kejujuran harus tampak dalam pekerjaan. Keadilan harus tampak dalam keputusan; Tanggung jawab harus tampak dalam penyelesaian amanah; Kepedulian harus tampak dalam kesediaan membantu. Persatuan harus tampak dalam kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan. Karena itu, jangan sampai nilai hanya indah ketika ditulis, tetapi hilang ketika diuji.
Pancasila pun memperoleh makna sosial bukan hanya ketika dibacakan, tetapi ketika nilai ketuhanan melahirkan akhlak; kemanusiaan melahirkan penghormatan terhadap sesama; persatuan mengalahkan ego kelompok; musyawarah menghindarkan kesewenang-wenangan; dan keadilan hadir dalam kehidupan bersama. Nilai yang hidup adalah nilai yang bekerja.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Kedua: Ilmu Harus Melahirkan Bakti dan Kemanfaatan; Allah Swt. meninggikan kedudukan orang yang beriman dan berilmu:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Tetapi semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula tanggung jawab moralnya; Ilmu bukan hanya untuk mendapatkan gelar; Ilmu bukan hanya untuk memperoleh jabatan; Ilmu bukan hanya untuk memenangkan perdebatan; Ilmu bukan pula untuk membangun jarak antara orang berpendidikan dengan masyarakat.
Ilmu harus turun dari ruang kuliah menuju ruang kehidupan; Ilmu pendidikan harus membantu memperbaiki pembelajaran. Ilmu manajemen harus membantu menata organisasi dan pelayanan. Teknologi harus membantu memudahkan kehidupan. Penelitian harus membantu menjawab persoalan. Tulisan harus mencerahkan. Profesi harus melayani. Dan pendidikan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di sinilah ilmu berubah menjadi bakti.
Bagi mahasiswa, pertanyaannya bukan hanya: “Berapa nilai yang saya peroleh?” tetapi: “Kompetensi apa yang saya bangun dan kelak untuk siapa kompetensi itu digunakan?” Bagi dosen dan guru, bukan hanya: “Berapa materi yang telah saya sampaikan?” tetapi: “Berapa banyak peserta didik yang terbantu untuk bertumbuh?” Bagi para pemimpin dan pemegang amanah, bukan hanya: “Seberapa tinggi posisi saya?” tetapi: “Seberapa besar manfaat yang lahir dari amanah saya?” Ilmu menemukan kemuliaannya ketika berubah menjadi manfaat.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga: Persatuan Harus Dirawat dengan Keadilan; Pelajaran sejarah bangsa mengingatkan bahwa persatuan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Namun, persatuan tidak cukup hanya diminta. Persatuan perlu dirawat dengan keadilan, dialog, penghormatan, dan tanggung jawab. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat….” (QS. An-Nahl [16]: 90).
Bahkan terhadap orang yang tidak kita sukai, Allah tetap memerintahkan keadilan:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 8).
Inilah pelajaran yang sangat relevan. Keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang kita sukai. Perbedaan pilihan tidak boleh memutus persaudaraan. Perbedaan pemikiran tidak boleh menghilangkan penghormatan. Perbedaan latar belakang tidak boleh melahirkan diskriminasi. Sejarah seharusnya membuat kita semakin berhati-hati agar kebencian, prasangka, kekerasan, dan pertentangan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Maka salah satu cara terbaik merawat Indonesia adalah mengubah nilai persatuan menjadi perilaku saling menghormati dan mengubah nilai keadilan menjadi tindakan yang nyata.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Keempat: Dari Pembiasaan Baik Menuju Budaya Pengabdian; Nilai tidak berubah menjadi karakter melalui satu tindakan. Nilai membutuhkan pembiasaan. Ilmu juga tidak berubah menjadi manfaat melalui satu kegiatan. Ilmu membutuhkan kesinambungan pengabdian. Karena itu, kita perlu membangun siklus: Belajar → memahami → mengamalkan → berkarya → melayani → mengevaluasi → memperbaiki. Jika dilakukan terus-menerus, siklus itu melahirkan budaya kebaikan. Rasulullah Saw. bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran penting: perubahan besar sering dimulai dari amal kecil yang dijaga kesinambungannya. Membiasakan jujur. Membiasakan disiplin. Membiasakan membaca. Membiasakan menulis. Membiasakan menolong. Membiasakan mendengar sebelum menghakimi. Membiasakan tabayyun sebelum menyebarkan informasi. Membiasakan menghargai perbedaan. Membiasakan menggunakan ilmu untuk membantu orang lain. Dari pembiasaan itulah lahir karakter. Dari karakter lahir integritas. Dari integritas lahir kepercayaan. Dan dari ilmu yang diamalkan lahirlah bakti dan kebermanfaatan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari empat pokok tersebut, kita memperoleh satu mata rantai besar:
Nilai tanpa aksi akan menjadi slogan.
Aksi tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Ilmu tanpa amal dapat kehilangan manfaat.
Amal tanpa keikhlasan dapat kehilangan keberkahan.
Tetapi:
Nilai yang diamalkan melahirkan integritas.
Ilmu yang diamalkan melahirkan manfaat.
Keadilan yang ditegakkan menguatkan persatuan.
Persatuan yang dirawat memperkuat kehidupan bersama.
Dan seluruhnya, jika diniatkan karena Allah, dapat menjadi jalan pengabdian dan ibadah.
Memasuki perjalanan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, marilah kita melakukan muhasabah. Bagi mahasiswa: jangan berhenti mengejar nilai; jadikan nilai-nilai kebaikan sebagai aksi, dan jadikan ilmu sebagai bekal menghasilkan karya. Bagi dosen dan guru: jangan berhenti menyampaikan pengetahuan; tuntunlah ilmu agar membentuk akhlak, kompetensi, karya, dan kebermanfaatan.
Bagi tenaga kependidikan dan para pemegang amanah: jangan berhenti menyelesaikan administrasi; jadikan pekerjaan sebagai pelayanan yang mudah, adil, ramah, dan bertanggung jawab. Dan bagi kita semua: jangan hanya bertanya, “Apa yang saya ketahui?” Tetapi bertanyalah: “Apa yang sudah saya lakukan dengan pengetahuan itu?”
Jangan hanya bertanya: “Nilai apa yang saya yakini?” Tetapi bertanyalah: “Sudahkah nilai itu terlihat dalam perilaku saya?” Dan jangan hanya bertanya: “Seberapa tinggi ilmu yang saya miliki?” Tetapi bertanyalah: “Seberapa besar ilmu itu telah menjadi bakti dan manfaat bagi sesama?”
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Momentum sejarah bangsa mengajarkan kita untuk tidak sekadar mengingat masa lalu, tetapi mengambil hikmah bagi masa depan. Mari menjadikan sejarah sebagai guru kebijaksanaan, bukan bahan memperpanjang permusuhan.
Mari menjadikan Pancasila bukan hanya ucapan, tetapi nilai yang hadir dalam perilaku: bertuhan dengan akhlak, memuliakan kemanusiaan, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan.
Dan sebagai umat Islam, mari kita buktikan bahwa iman melahirkan amal, ilmu melahirkan manfaat, dan ketakwaan melahirkan keadilan serta kasih sayang.
Nilai menjadi aksi.
Ilmu menjadi bakti.
Perbedaan dirawat dengan persaudaraan.
Persatuan diteguhkan dengan keadilan.
Dan kehidupan diarahkan menuju kemaslahatan.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita orang-orang yang tidak hanya pandai mengatakan kebaikan, tetapi istiqamah melakukannya; tidak hanya memiliki ilmu, tetapi mampu mengamalkannya; tidak hanya menikmati kemerdekaan, tetapi mengisinya dengan karya; serta tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi meninggalkan jejak kebermanfaatan bagi sesama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati seraya memohon kepada Allah Swt. agar nilai-nilai kebaikan yang kita yakini tidak berhenti sebagai ucapan, dan ilmu yang kita miliki tidak berhenti sebagai pengetahuan.
Ya Allah, jadikan nilai menjadi aksi, ilmu menjadi bakti, pekerjaan menjadi ibadah, dan kehidupan kami menjadi jalan kemanfaatan bagi sesama.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, amal yang saleh, serta kemampuan menunaikan setiap amanah dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Ya Allah, jauhkan kami dari ilmu yang tidak diamalkan, perkataan yang tidak diwujudkan, kekuasaan yang kehilangan keadilan, serta kepandaian yang melahirkan kesombongan.
Ya Allah, tanamkan dalam diri kami keberanian mengatakan yang benar dan kekuatan untuk mengamalkannya.
Jadikan kejujuran bukan sekadar ucapan kami, tetapi perilaku kami.
Jadikan keadilan bukan sekadar cita-cita kami, tetapi hadir dalam keputusan dan tindakan kami.
Jadikan persatuan bukan sekadar slogan kami, tetapi tumbuh dalam kesediaan kami menghormati perbedaan dan menjaga persaudaraan.
Ya Allah, bangsa kami telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Berikanlah kepada kami kejernihan untuk mempelajari sejarah, kebijaksanaan untuk mengambil pelajaran darinya, serta kemampuan untuk tidak mengulangi kesalahan dan pertentangan yang membawa penderitaan.
Ya Allah, jauhkan bangsa kami dari kebencian, fitnah, permusuhan, kekerasan, ketidakadilan, perpecahan, dan segala sesuatu yang merusak persaudaraan.
Satukan hati kami dalam kebaikan. Ajarkan kami berbeda tanpa bermusuhan, berdialog tanpa merendahkan, mengingat sejarah tanpa mewariskan kebencian, serta membangun masa depan tanpa melupakan pelajaran masa lalu.
Ya Allah, berkahilah Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 ini. Jadikan setiap pertemuan pembelajaran sebagai jalan bertambahnya ilmu, adab, kompetensi, kreativitas, integritas, dan kebermanfaatan.
Ya Allah, berkahilah para mahasiswa dan seluruh pencari ilmu. Jauhkan mereka dari kemalasan, ketidakjujuran akademik, serta ilmu yang hanya mengejar angka dan pengakuan.
Tumbuhkan semangat membaca, meneliti, menulis, berdiskusi, berkarya, dan mengabdi. Jadikan mereka generasi yang berilmu tanpa kehilangan adab, kritis tanpa kehilangan kesantunan, cerdas tanpa kehilangan kepedulian, dan berprestasi tanpa kehilangan kerendahan hati.
Ya Allah, berkahilah para dosen, guru, ulama, peneliti, pustakawan, tenaga kependidikan, dan seluruh insan pendidikan. Jadikan ilmu mereka cahaya. Jadikan pengajaran mereka amal jariah. Jadikan penelitian mereka jalan menemukan kemaslahatan. Jadikan tulisan mereka pencerahan. Dan jadikan pengabdian mereka manfaat yang terus mengalir bagi masyarakat.
Ya Allah, berkahilah sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, keluarga, dan seluruh ruang pendidikan kami.
Jadikan tempat-tempat itu bukan hanya ruang memperoleh pengetahuan, tetapi ruang pembentukan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, kompeten, adil, bertanggung jawab, dan bermanfaat.
Ya Allah, anugerahkan kepada para pemimpin kami kemampuan menunaikan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat. Bimbinglah mereka agar kekuasaan menjadi pelayanan, kebijakan menghadirkan keadilan, dan setiap keputusan membawa kebaikan bagi rakyat.
Ya Allah, jagalah negeri kami, Indonesia. Kokohkan persatuan kami di tengah perbedaan. Tumbuhkan keadilan di tengah kehidupan kami. Suburkan gotong royong dan kepedulian. Jadikan Indonesia negeri yang aman, damai, berdaulat, adil, makmur, berilmu, berkeadaban, dan penuh keberkahan.