السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأَمَانَةِ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الْخِيَانَةِ وَالظُّلْمِ وَالْفَسَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102).
Jamaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah,
Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, para sahabat, serta umat yang mengikuti petunjuk beliau. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan sekadar pengakuan lisan, penampilan keagamaan, atau kedudukan terhormat. Takwa harus tercermin dalam kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kesungguhan menjaga amanah.
Kemarin, Kamis, 22 Oktober 2026, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema tersebut merupakan panggilan moral agar nilai pendidikan pesantren tidak berhenti pada kebanggaan identitas, melainkan menjadi kekuatan nyata dalam kehidupan bangsa. Momentum ini mengantarkan kita pada pertanyaan mendasar: Apakah seseorang yang dikenal sebagai tokoh agama otomatis menjadi teladan? Apakah orang yang bergelar tinggi pasti memiliki integritas? Apakah seorang pemimpin yang banyak berbicara tentang pengabdian telah benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan tersebut penting, terutama ketika kehidupan publik dihadapkan pada berbagai persoalan penyalahgunaan kewenangan, ketidakjujuran, dan lemahnya pertanggungjawaban. Namun, Islam juga mengajarkan keadilan. Dugaan terhadap seseorang tidak boleh langsung diperlakukan sebagai kesalahan yang telah terbukti. Setiap persoalan harus dinilai berdasarkan fakta, bukti, dan proses hukum yang adil. Karena itu, khutbah kita hari ini mengangkat tema: “GELAR BOLEH TINGGI, AMANAH JANGAN DIKHIANATI: SUDAHKAH KITA MENJADI RAHMAT BAGI NEGERI?” Tema ini bukan ajakan menghakimi seseorang, melainkan undangan bermuhasabah, terutama bagi kita yang hidup dalam lingkungan pendidikan, keilmuan, dan kepemimpinan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari itu semua, paling tidak terdapat empat pelajaran penting yang perlu kita renungkan bersama:
Pertama: Identitas Keagamaan Harus Dibuktikan dengan Integritas; Menjadi santri, ustaz, dosen, profesor, ataupun pemimpin merupakan identitas yang mengandung tanggung jawab. Gelar menunjukkan pengakuan terhadap kedudukan atau kompetensi tertentu. Namun, integritas menunjukkan kesesuaian antara nilai yang diyakini, perkataan yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff [61]: 2–3).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kesenjangan antara perkataan dan perbuatan merupakan persoalan moral yang serius.
Di lingkungan kampus, seorang dosen tidak cukup hanya mengajarkan etika akademik, tetapi harus menunjukkan kejujuran dalam penelitian, penilaian, dan pembimbingan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori integritas, tetapi harus menghindari plagiarisme, manipulasi data, dan berbagai bentuk ketidakjujuran akademik. Pemimpin perguruan tinggi tidak cukup menyampaikan slogan tata kelola yang baik, tetapi harus menghadirkan keputusan yang transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula seorang santri. Identitas kesantrian harus tercermin dalam akhlak, kejujuran, dan kebermanfaatan. Gelar boleh mengangkat nama seseorang, tetapi hanya integritas yang dapat menjaga kehormatannya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Kedua: Amanah Publik Bukan Kesempatan Memperkaya Diri; Setiap jabatan merupakan amanah. Setiap kewenangan mengandung tanggung jawab. Setiap keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58).
Ayat ini menegaskan dua prinsip utama: amanah dan keadilan. Amanah tidak boleh dijadikan sarana mencari keuntungan pribadi dengan merugikan kepentingan masyarakat. Dalam penyelenggaraan pendidikan, amanah dapat berbentuk pengelolaan anggaran, beasiswa, fasilitas pembelajaran, penelitian, maupun pelayanan administrasi. Bagi mahasiswa, amanah berarti menggunakan kesempatan belajar secara bertanggung jawab. Bagi dosen, amanah berarti menyampaikan ilmu secara benar dan menilai hasil belajar secara objektif. Bagi tenaga kependidikan, amanah berarti memberikan pelayanan yang jujur dan tidak mempersulit urusan masyarakat. Bagi pemimpin, amanah berarti menggunakan kewenangan untuk melindungi hak orang lain, bukan memanfaatkan kedudukan demi kepentingan sendiri. Rasulullah Saw. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditunaikan. Kedudukan bukan ukuran kemuliaan apabila amanah justru diabaikan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga: Kampus Harus Melahirkan Ilmu yang Berakhlak; Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan generasi berilmu, kompeten, dan berintegritas. Dalam pendekatan Outcome-Based Education atau pendidikan berbasis capaian, keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur melalui penyampaian materi, tetapi melalui kompetensi yang benar-benar dapat ditunjukkan mahasiswa.
Namun, sebagai insan beriman, kita perlu menambahkan pertanyaan yang lebih mendasar: Bukan hanya “Apa yang mampu saya lakukan?”, melainkan “Untuk siapa kemampuan itu saya gunakan, dan apakah cara menggunakannya dapat dipertanggungjawabkan?” Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Kemuliaan ilmu harus diiringi dengan kemuliaan akhlak. Pengetahuan yang tinggi tanpa kejujuran dapat disalahgunakan. Keterampilan yang hebat tanpa tanggung jawab dapat merugikan masyarakat. Teknologi yang canggih tanpa integritas dapat menjadi alat manipulasi.
Karena itu, pembelajaran di kampus harus memperkuat pembiasaan berpikir kritis, kejujuran akademik, tanggung jawab, dan keberanian menyampaikan kebenaran secara santun. Dosen hendaknya menjadi fasilitator yang membimbing mahasiswa menemukan pengetahuan, memeriksa bukti, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Mahasiswa hendaknya menjadi pembelajar yang mandiri, bukan sekadar pengumpul nilai dan gelar. Penelitian harus menjunjung kebenaran ilmiah. Pengabdian kepada masyarakat harus menjawab kebutuhan nyata. Publikasi ilmiah harus menjadi sarana penyebaran pengetahuan, bukan semata-mata pemenuhan angka kinerja. Di sinilah Tri Dharma Perguruan Tinggi menemukan dimensi spiritualnya: pendidikan membentuk manusia, penelitian mencari kebenaran, dan pengabdian menghadirkan kemaslahatan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Keempat: Menjadi Rahmat bagi Negeri Harus Terbukti dalam Pengabdian; Islam mengajarkan bahwa kehadiran Rasulullah Saw. membawa rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).
Ayat tersebut menjadi dasar keteladanan bagi umat Islam agar menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kasih sayang dalam kehidupan. Menjadi rahmat bagi negeri bukan berarti harus memiliki jabatan besar atau gelar yang panjang. Seorang mahasiswa dapat menghadirkan rahmat melalui kejujuran, kepedulian, dan karya yang bermanfaat. Seorang dosen dapat menghadirkan rahmat melalui ilmu yang mencerahkan dan pembimbingan yang memanusiakan. Seorang tenaga kependidikan dapat menghadirkan rahmat melalui pelayanan yang ramah, cepat, dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin dapat menghadirkan rahmat melalui kebijakan yang adil, perlindungan terhadap hak masyarakat, dan keberanian memperbaiki sistem. Sebaliknya, tindakan yang terbukti merugikan masyarakat, menyalahgunakan kewenangan, atau mengkhianati kepercayaan bertentangan dengan nilai amanah dan kemaslahatan, apa pun gelar yang disandang pelakunya.
Inilah pesan penting Hari Santri Nasional 2026. Santri menguatkan negeri bukan karena kebesaran sebutannya, melainkan karena kekuatan iman, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan ketulusan pengabdiannya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari empat pelajaran tersebut, marilah kita melakukan muhasabah. Pertama, sudahkah identitas dan gelar kita sejalan dengan integritas? Kedua, sudahkah amanah yang dipercayakan kepada kita dijalankan dengan jujur dan adil? Ketiga, sudahkah ilmu dan kompetensi yang kita miliki membentuk akhlak yang lebih baik? Keempat, sudahkah kehadiran kita benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat?
Jangan sampai kita sibuk membangun citra, tetapi lalai memperbaiki perilaku. Jangan sampai kita berlomba mengejar kedudukan, tetapi mengabaikan tanggung jawab. Jangan sampai kita pandai mengajarkan kejujuran, tetapi gagal menunjukkan keteladanan. Dan jangan sampai pendidikan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi kehilangan kepekaan moral.
Mari menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum memperkuat budaya amanah, integritas akademik, keadilan, dan pengabdian. Sebab, gelar dapat diperoleh melalui pengakuan, tetapi kepercayaan hanya dapat dipertahankan melalui kejujuran.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita insan yang berilmu, berakhlak, istiqamah dalam kebaikan, dan mampu menghadirkan rahmat bagi sesama.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Marilah kita meneguhkan kembali bahwa kemuliaan manusia bukan semata-mata ditentukan oleh gelar, jabatan, atau pengakuan masyarakat. Kemuliaan seorang mukmin tercermin melalui ketakwaan, kejujuran, dan kesungguhannya menunaikan amanah. Semoga peringatan Hari Santri Nasional 2026 menguatkan komitmen kita untuk membangun kehidupan kampus dan masyarakat yang berilmu, berintegritas, adil, dan bermanfaat.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ الْأُمَنَاءِ، وَجَنِّبْنَا الْخِيَانَةَ وَالظُّلْمَ وَالْفَسَادَ.
Ya Allah, ampunilah dosa dan kekhilafan kami. Bimbinglah kami agar senantiasa jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah. Berkahilah para mahasiswa, santri, guru, dosen, tenaga kependidikan, ulama, dan pemimpin lembaga pendidikan. Jadikan ilmu mereka bermanfaat, akhlak mereka mulia, dan pengabdian mereka membawa kemaslahatan.
Ya Allah, lindungilah bangsa Indonesia. Anugerahkan kepada para pemimpin kami kejujuran, kebijaksanaan, dan keberanian menegakkan keadilan. Jauhkan negeri kami dari penyalahgunaan amanah, perpecahan, dan segala bentuk kezaliman.