Muharram atau Rutinitas: Mana Arah Pendidikan Kita?

Wawancara Eksekutif- Senin, 14 Juni  2026: 20;16, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

Muharram 1448 H menjadi momentum menata pendidikan: dari refleksi, hijrah, strategi peradaban, hingga pesan moral bagi Gen-Z.

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H bukan sekadar pergantian kalender, melainkan ruang muhasabah untuk membaca masa lalu, memperbaiki masa kini, dan menata masa depan. Dalam dunia pendidikan, Muharram mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup berhenti pada slogan, tetapi harus masuk ke tata kelola, budaya belajar, dan pembentukan karakter. Secara teoritik, nilai ini sejalan dengan manajemen pendidikan berbasis perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi; juga selaras dengan gagasan pendidikan transformatif yang menempatkan manusia sebagai subjek perubahan. Gap-nya, pendidikan sering maju secara teknologi, tetapi belum selalu kuat dalam akhlak, spiritualitas, dan kepedulian sosial. Tulisan ini menjawab tiga pertanyaan Media Bedanews tentang makna manajemen pendidikan, strategi peradaban Islam, dan pesan moral bagi Gen-Z. Berikut jawabannya:

Pertama: Nilai manajemen pendidikan dari 1 Muharram; Peringatan 1 Muharram mengandung nilai manajemen pendidikan yang kuat, terutama dalam aspek refleksi, perencanaan, disiplin perubahan, dan evaluasi diri. Muharram mengajarkan bahwa setiap lembaga pendidikan perlu memiliki kemampuan membaca perjalanan masa lalu: apa yang sudah berhasil, apa yang belum optimal, dan apa yang harus diperbaiki. Nilai ini sejalan dengan prinsip manajemen mutu berkelanjutan. Hijrah dalam konteks pendidikan berarti keberanian meninggalkan pola lama yang kurang efektif menuju tata kelola yang lebih amanah, inovatif, dan berorientasi maslahat. Kepala sekolah, guru, dosen, dan peserta didik perlu membangun budaya kerja yang tertib, jujur, kolaboratif, serta berorientasi pada pembentukan karakter. Dengan demikian, 1 Muharram menjadi momentum memperbarui komitmen pendidikan agar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga melahirkan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak.

Kedua: Strategi membangun peradaban Islam; Strategi yang dapat dielaborasi dari 1 Muharram dalam membangun peradaban Islam adalah menjadikan hijrah sebagai gerakan perbaikan sistemik. Pertama, pendidikan Islam harus memperkuat integrasi ilmu, iman, dan amal sehingga peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Kedua, lembaga pendidikan perlu mengembangkan literasi digital yang beretika agar kemajuan teknologi tidak melahirkan generasi instan dan rapuh moral. Ketiga, kurikulum perlu diarahkan pada kepedulian lingkungan, keadilan sosial, kewirausahaan, dan kepemimpinan berkarakter. Keempat, kolaborasi keluarga, sekolah, kampus, masyarakat, dan media harus diperkuat. Peradaban Islam tidak dibangun oleh retorika, tetapi oleh tradisi ilmu, disiplin amal, dan pelayanan kepada umat. Muharram memberi pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Ketiga: Pesan moral dan spiritual untuk Gen-Z; Pesan moral dan spiritual bagi Gen-Z adalah jadikan Muharram sebagai momentum memperbaiki arah hidup. Gen-Z hidup di tengah derasnya informasi, budaya visual, dan tekanan kompetisi. Karena itu, mereka perlu memiliki kompas moral agar tidak mudah kehilangan jati diri. Hijrah bagi Gen-Z bukan berarti menjauh dari zaman, tetapi hadir di tengah zaman dengan iman, ilmu, adab, dan karya. Gunakan teknologi untuk belajar, berkarya, berdakwah secara santun, serta membangun jejaring kebaikan. Jangan hanya ingin dikenal, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang bermanfaat. Muharram mengajarkan bahwa masa depan tidak dibentuk oleh keluhan, melainkan oleh keberanian memperbaiki diri, menjaga salat, menghormati orang tua, mencintai ilmu, dan menebar manfaat.

Pada akhirnya, Muharram 1448 H adalah panggilan perubahan. Dalam pendidikan, ia mengajarkan pentingnya manajemen yang reflektif, strategi peradaban yang transformatif, dan pembinaan generasi yang berakhlak. Bagi Media Bedanews, pesan utamanya jelas: Tahun Baru Islam harus menjadi momentum memperkuat pendidikan yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam iman, dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *