Wawancara Eksekutif- Seputar Hari Jadi ke-384:- Kabupaten Ciamis; Kamis, 11 Juni 2026: 08;16, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
“Guyub Ngawangun Galuh bukan sekadar slogan, melainkan jalan bersama menjaga budaya, memberdayakan rakyat, dan menyiapkan generasi emas Ciamis 400 tahun.”
Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis merupakan momentum bersejarah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Tatar Galuh. Tema “Guyub Ngawangun Galuh” menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak dapat dibangun oleh pemerintah semata, melainkan melalui kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Semangat gotong royong yang diwariskan para karuhun menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Di tengah arus globalisasi, transformasi digital, dan persaingan ekonomi yang semakin ketat, Ciamis dituntut mampu tumbuh menjadi daerah yang maju tanpa kehilangan jati dirinya sebagai tanah yang kaya nilai budaya Sunda dan kearifan lokal. Sehubungan dengan peringatan Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis, muncul tiga pertanyaan mendasar dari rekan media yang menarik untuk direnungkan bersama sebagai bagian dari ikhtiar membangun masa depan Galuh yang lebih berdaya, maju, dan bermartabat.
Pertama: Selama 384 tahun Ciamis menjaga ruh “Galuh” dan kearifan Sunda. Di 2026, batas tegas mana yang harus dijaga agar Ciamis maju secara ekonomi tapi tidak kehilangan karakternya?
Menurut saya, batas tegas yang harus dijaga adalah jangan sampai pembangunan ekonomi menghilangkan identitas budaya, nilai kemanusiaan, dan semangat gotong royong masyarakat Galuh. Kemajuan ekonomi memang penting untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi pertumbuhan yang hanya berorientasi pada keuntungan material berisiko melahirkan masyarakat yang kehilangan akar budayanya. Karena itu, pembangunan harus tetap berpijak pada filosofi Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh yang selama ini menjadi ruh kehidupan masyarakat Ciamis.
Kemajuan investasi, industri, pariwisata, dan teknologi harus berjalan seiring dengan pelestarian adat, bahasa, kesenian, situs sejarah, serta tata nilai yang diwariskan para leluhur. Jangan sampai ruang publik dipenuhi simbol modernitas tetapi kehilangan jejak budaya Galuh yang menjadi identitas daerah. Batas lainnya adalah menjaga keseimbangan antara eksploitasi ekonomi dan kelestarian lingkungan. Karuhun Sunda mewariskan prinsip hidup harmonis dengan alam. Oleh karena itu, pembangunan yang merusak sumber daya alam secara berlebihan sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai Galuh.
Kemajuan ekonomi yang ideal adalah kemajuan yang memuliakan manusia, menjaga lingkungan, dan memperkuat budaya. Jika prinsip ini dijaga, Ciamis akan tumbuh menjadi daerah yang maju, berdaya saing, sekaligus tetap memiliki karakter khas yang membedakannya dari daerah lain.
Kedua: Kalau tema HUT “Ciamis Makin Berdaya”, satu indikator paling jujur menurut warga kecil apa? Bukan data, tapi hal yang benar-benar mereka rasakan bedanya tahun ini dibanding tahun lalu.
Indikator paling jujur menurut warga kecil bukanlah angka statistik, melainkan rasa kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Warga akan merasakan bahwa Ciamis semakin berdaya ketika mereka lebih mudah memperoleh pekerjaan, menjalankan usaha kecil, mengakses pelayanan publik, serta memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Bagi petani, indikator keberdayaan terasa ketika hasil panennya memiliki nilai jual yang lebih baik dan pemasaran semakin mudah. Bagi pedagang kecil, keberdayaan dirasakan ketika usahanya berkembang dan daya beli masyarakat meningkat. Bagi masyarakat desa, keberdayaan terlihat dari pelayanan administrasi yang cepat, jalan yang semakin baik, serta akses pendidikan dan kesehatan yang semakin mudah dijangkau.
Lebih dari itu, indikator yang paling nyata adalah tumbuhnya rasa optimisme. Ketika warga merasa memiliki harapan yang lebih baik untuk masa depan anak-anaknya, itulah tanda bahwa pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Keberdayaan bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi hadirnya rasa aman, nyaman, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan sesungguhnya terletak pada sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Jika warga kecil tersenyum lebih lebar karena hidupnya semakin baik, maka itulah indikator paling jujur bahwa Ciamis makin berdaya.
Ketiga: Delapan tahun lagi Ciamis berusia 400 tahun. Satu “warisan besar” apa yang harus ditinggalkan pemimpin dan warga hari ini agar anak-cucu kita di 2034 bangga: infrastruktur, SDM, atau budaya?
Jika harus memilih satu warisan terbesar, saya memilih sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter dan berdaya saing. Infrastruktur dapat dibangun kembali, bahkan diperbaiki oleh generasi berikutnya. Budaya pun akan tetap hidup apabila ada manusia yang memahami, mencintai, dan merawatnya. Karena itu, kunci keberlanjutan pembangunan sesungguhnya terletak pada kualitas manusianya.
Ciamis membutuhkan generasi yang cerdas, berakhlak, kreatif, adaptif terhadap perubahan, namun tetap berakar pada nilai-nilai budaya Galuh. Pendidikan harus menjadi investasi utama menuju usia ke-400 tahun. Anak-anak Ciamis harus tumbuh menjadi generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas lokalnya. Mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus menjunjung tinggi nilai gotong royong, kesantunan, serta kecintaan terhadap daerahnya.
Warisan SDM unggul akan menghasilkan banyak hal: infrastruktur yang berkualitas, ekonomi yang maju, tata kelola pemerintahan yang baik, dan budaya yang lestari. Sebaliknya, tanpa SDM yang kuat, seluruh pembangunan fisik akan kehilangan makna.
Karena itu, warisan terbesar yang harus kita tinggalkan adalah generasi Galuh yang berilmu, berkarakter, dan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya. Jika hal itu berhasil diwujudkan, maka pada tahun 2034, saat Ciamis memasuki usia 400 tahun, anak-cucu kita akan mengenang generasi hari ini sebagai generasi yang berhasil menyiapkan fondasi masa depan Tatar Galuh yang maju, berdaya, dan bermartabat.
Tema “Guyub Ngawangun Galuh” mengajarkan bahwa kemajuan daerah harus dibangun melalui kebersamaan, pelestarian budaya, dan penguatan kualitas manusia. Ciamis yang maju bukan hanya ditandai oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh terjaganya identitas Galuh, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, dan lahirnya generasi unggul yang siap menyongsong usia 400 tahun Kabupaten Ciamis dengan penuh kebanggaan. Wallahu A’lam.