Wawancara Eksekutif- Seputar Harlah Pancasila; Senin, 5 Juni 2026: 08;16, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Hari Lingkungan Hidup 2026 mengajak kampus dan generasi muda bergerak dari kesadaran menuju aksi nyata membangun ketahanan iklim berkelanjutan.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap 5 Juni kembali mengingatkan umat manusia bahwa bumi sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, pencemaran lingkungan, krisis air bersih, serta hilangnya keanekaragaman hayati menjadi fenomena global yang dampaknya dirasakan hingga tingkat lokal. Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, degradasi kawasan hulu sungai, hingga meningkatnya produksi sampah perkotaan.
Secara teoritis, pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Konsep ketahanan iklim (climate resilience) juga menegaskan bahwa masyarakat harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana yang ditimbulkannya. Dalam perspektif pendidikan tinggi, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat inovasi, riset, dan pengabdian masyarakat yang mampu menawarkan solusi atas persoalan lingkungan.
Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran ekologis dengan tindakan nyata. Banyak peringatan Hari Lingkungan Hidup berhenti pada seremoni, sementara perubahan perilaku, penguatan riset, dan implementasi kebijakan berkelanjutan belum berjalan optimal. Oleh karena itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat peran kampus, mahasiswa, dan generasi muda dalam membangun ketahanan iklim yang berbasis ilmu pengetahuan, literasi ekologis, dan aksi nyata di tengah masyarakat. Tulisan ini bertujuan menjelaskan peran strategis kampus, mahasiswa, dan generasi muda dalam membangun ketahanan iklim melalui penguatan kurikulum, riset, aksi lingkungan, dan literasi ekologis sebagai wujud nyata peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Pertama: Jika HLS 2026 fokus pada “Adaptasi Iklim dan Ketahanan Komunitas”, seberapa siap kampus seperti UIN Bandung membangun kurikulum dan riset yang menjawab krisis iklim lokal Jawa Barat?
Kampus seperti UIN Sunan Gunung Djati Bandung sesungguhnya memiliki modal yang cukup kuat untuk menjawab tantangan adaptasi iklim dan ketahanan komunitas. Sebagai perguruan tinggi keagamaan yang mengintegrasikan ilmu keislaman dan sains, UIN memiliki peluang mengembangkan pendekatan ekoteologi Islam yang menghubungkan nilai-nilai khalifah fil ardh (pemelihara bumi) dengan praktik pembangunan berkelanjutan.
Dari sisi kurikulum, isu perubahan iklim dapat diintegrasikan secara lintas disiplin. Fakultas Sains dan Teknologi dapat mengembangkan riset mitigasi dan adaptasi iklim, Fakultas Tarbiyah memperkuat pendidikan lingkungan, Fakultas Ushuluddin mengembangkan etika lingkungan berbasis nilai keagamaan, sedangkan Fakultas Dakwah dapat mengarusutamakan dakwah ekologis di tengah masyarakat.
Dalam konteks Jawa Barat, fokus riset dapat diarahkan pada pengelolaan daerah aliran sungai, konservasi kawasan hulu, penguatan ketahanan pangan lokal, pengembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta mitigasi bencana banjir dan longsor. Kampus juga perlu memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, pesantren, sekolah, komunitas lingkungan, dan dunia usaha.
Kesiapan kampus tidak lagi diukur dari banyaknya seminar yang diselenggarakan, melainkan dari kemampuan menghasilkan riset terapan yang dapat diimplementasikan masyarakat. Dengan demikian, kampus dapat menjadi laboratorium sosial yang menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan Jawa Barat.
Kedua: Apa beda makna “merayakan” Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan “bertindak” untuk lingkungan di 2026? Kampus dan mahasiswa dimulai dari aksi apa yang paling berdampak?
Merayakan Hari Lingkungan Hidup berarti membangun kesadaran dan mengingatkan pentingnya menjaga bumi. Namun bertindak untuk lingkungan berarti mengubah kesadaran tersebut menjadi perilaku nyata yang terukur dan berkelanjutan. Perayaan tanpa tindakan hanya menghasilkan slogan, sedangkan tindakan tanpa publikasi tetap menghasilkan perubahan.
Perbedaan mendasarnya terletak pada dampak. Merayakan sering kali berhenti pada kegiatan simbolik seperti seminar, kampanye media sosial, atau penanaman pohon sesaat. Sebaliknya, bertindak berarti membangun kebiasaan dan sistem yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kampus dan mahasiswa, aksi yang paling berdampak justru dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten. Pertama, pengurangan sampah plastik sekali pakai di lingkungan kampus. Kedua, penguatan budaya memilah dan mengelola sampah. Ketiga, efisiensi penggunaan energi dan air. Keempat, pengembangan program penghijauan berbasis pemeliharaan, bukan sekadar penanaman.
Selain itu, mahasiswa dapat mengembangkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik lingkungan, pendampingan desa tangguh iklim, konservasi sumber air, dan edukasi perubahan iklim kepada masyarakat. Kampus juga dapat menerapkan konsep Green Campus melalui pengelolaan ruang terbuka hijau, energi terbarukan, dan digitalisasi administrasi untuk mengurangi penggunaan kertas.
Dengan demikian, tindakan lingkungan yang paling berdampak bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling konsisten dan mampu mengubah perilaku kolektif dalam jangka panjang.
Ketiga: Di era AI, hoaks iklim, dan greenwashing makin masif tahun 2026, bagaimana generasi muda bisa melatih “literasi ekologis” agar tidak tertipu narasi palsu tentang keberlanjutan?
Era kecerdasan buatan (AI) membawa peluang besar sekaligus tantangan baru. Informasi tentang lingkungan kini sangat mudah diakses, tetapi pada saat yang sama hoaks iklim, manipulasi data, dan praktik greenwashing semakin sulit dibedakan dari informasi yang valid. Greenwashing terjadi ketika individu, organisasi, atau perusahaan menampilkan citra ramah lingkungan secara berlebihan tanpa tindakan nyata yang sebanding.
Karena itu, generasi muda memerlukan literasi ekologis yang tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga mampu menilai validitas informasi yang diterima. Langkah pertama adalah membiasakan diri menggunakan sumber informasi yang kredibel, seperti laporan ilmiah, jurnal akademik, lembaga penelitian, dan organisasi lingkungan terpercaya.
Langkah kedua adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Setiap informasi lingkungan perlu diuji berdasarkan data, metodologi, dan bukti yang dapat diverifikasi. Langkah ketiga adalah meningkatkan literasi digital agar mampu mengenali manipulasi visual, konten AI sintetis, serta narasi yang sengaja dibangun untuk kepentingan tertentu.
Kampus memiliki peran penting melalui pembelajaran berbasis riset, proyek lingkungan, dan pelatihan literasi digital. Sementara itu, mahasiswa perlu membiasakan budaya tabayyun ilmiah, yaitu memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Pada akhirnya, literasi ekologis bukan hanya kemampuan memahami lingkungan, tetapi juga kemampuan membedakan fakta dan propaganda. Generasi muda yang memiliki literasi ekologis kuat akan menjadi agen perubahan yang mampu menjaga bumi sekaligus menjaga kualitas informasi yang beredar di masyarakat.
Pada hakikatnya hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengajarkan bahwa masa depan bumi tidak ditentukan oleh banyaknya peringatan yang diselenggarakan, tetapi oleh sejauh mana kesadaran berubah menjadi tindakan. Kampus perlu menjadi pusat inovasi dan solusi lingkungan, mahasiswa harus menjadi pelopor perubahan perilaku ekologis, dan generasi muda perlu memperkuat literasi ekologis agar tidak mudah terjebak hoaks maupun greenwashing. Ketika pendidikan, penelitian, pengabdian, dan literasi berjalan secara terpadu, maka ketahanan iklim tidak hanya menjadi agenda global, tetapi menjadi gerakan nyata yang tumbuh dari komunitas, kampus, dan masyarakat. Dari sinilah lahir harapan menuju masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan. Wallahu A’lam.