اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالْأَمْنِ وَالْأَمَانِ، وَجَعَلَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسْوَةً حَسَنَةً وَرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 102).
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat-Nya: nikmat iman, Islam, kesehatan, persaudaraan, keamanan, dan terutama nikmat kemerdekaan sehingga kita dapat menjalankan ibadah, belajar, bekerja, dan membangun kehidupan dalam suasana merdeka.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., manusia agung yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, teladan akhlak, pembawa cahaya kebenaran, serta pembimbing umat menuju kehidupan yang bermartabat.
Pada mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa harus tercermin dalam kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Hari ini, Jum’at, 8 Rabi’ul Awal 1448 H bertepatan dengan 21 Agustus 2026, kita berada dalam dua suasana yang sarat makna. Pertama, suasana Rabi’ul Awal, bulan yang menghidupkan kembali kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah Saw. Kedua, suasana setelah bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945–17 Agustus 2026. Pertemuan dua momentum tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan memerlukan akhlak, sedangkan akhlak menemukan teladan terbaiknya pada diri Rasulullah Saw.
Karena itulah khutbah Jum’at hari ini mengangkat tema: “Merdeka Berakhlak: Menyalakan Cahaya Rasulullah untuk Indonesia.” Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan harus membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, kebencian, kebohongan, keserakahan, dan berbagai bentuk kerusakan moral.
Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berakhlak berarti mampu menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, dibimbing iman, nilai agama, dan kemaslahatan. Allah Swt. telah menegaskan bahwa Rasulullah Saw. merupakan teladan terbaik:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).
Ayat ini memberikan arah bahwa kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus diwujudkan dengan ittibā’ dan keteladanan: mengikuti ajarannya, menghidupkan sunnahnya, dan menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pada momentum Rabi’ul Awal dan kemerdekaan ini, marilah kita renungkan empat ikhtiar “Merdeka Berakhlak” untuk menyalakan cahaya Rasulullah bagi Indonesia:
Pertama: Menyalakan Cahaya Kejujuran — Merdeka dari Kebohongan; Salah satu kemuliaan Rasulullah Saw. adalah sifat ṣiddīq, selalu benar dan jujur. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, masyarakat Makkah mengenal beliau sebagai Al-Amīn, orang yang dapat dipercaya. Rasulullah Saw. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah sekalian,
Bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang jujur. Kejujuran harus hadir di rumah, sekolah, kampus, pasar, kantor, pemerintahan, dan ruang digital.
Anak harus dibiasakan berkata benar. Pedagang harus jujur dalam timbangan. Guru harus jujur dalam mendidik dan menilai. Aparatur harus jujur dalam pelayanan. Pemimpin harus jujur kepada rakyat. Masyarakat harus jujur dalam menggunakan media sosial.
Kita tidak boleh mengisi kemerdekaan dengan kebohongan, manipulasi, hoaks, fitnah, korupsi, ataupun penipuan. Merdeka dari penjajahan harus dilanjutkan dengan merdeka dari kebohongan. Karena bangsa besar tidak hanya dibangun dengan kekayaan alam, tetapi juga dengan kekayaan akhlak dan integritas manusianya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Kedua: Menyalakan Cahaya Amanah — Merdeka yang Bertanggung Jawab; Sifat Rasulullah berikutnya yang harus kita nyalakan dalam kehidupan bangsa adalah amanah. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58).
Kemerdekaan adalah amanah. Jabatan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Kekayaan adalah amanah. Anak-anak kita adalah amanah. Bahkan waktu dan kesempatan hidup merupakan amanah Allah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Karena itu, merdeka tidak identik dengan hidup tanpa batas. Merdeka berarti memiliki kemampuan menentukan pilihan sekaligus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
- Seorang pelajar/Mahasiswa menjaga amanah dengan belajar sungguh-sungguh.
- Guru/Dosen menjaga amanah dengan mendidik penuh keteladanan.
- Orang tua menjaga amanah dengan membimbing keluarga.
- Pedagang menjaga amanah dengan tidak menipu.
- Aparatur menjaga amanah dengan melayani masyarakat.
- Pemimpin menjaga amanah dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
- Ulama menjaga amanah dengan menyampaikan kebenaran dan membimbing umat.
Jika setiap warga menjaga amanahnya, kemerdekaan akan melahirkan kemajuan. Sebaliknya, ketika amanah dikhianati, kemerdekaan dapat kehilangan maknanya. Indonesia yang berdaulat membutuhkan manusia berintegritas. Indonesia yang adil membutuhkan manusia amanah. Indonesia yang makmur membutuhkan manusia yang bekerja dengan tanggung jawab.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga: Menyalakan Cahaya Kasih Sayang — Merdeka dari Kebencian dan Kekerasan; Rasulullah Muhammad Saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107).
Cahaya Rasulullah adalah cahaya raḥmah—kasih sayang. Karena itu, salah satu cara paling nyata meneladani Rasulullah adalah menghadirkan rasa aman dan kasih sayang kepada orang-orang di sekitar kita. Rasulullah Saw. bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi).
Jamaah sekalian,
Indonesia adalah rumah besar yang dihuni manusia dengan beragam suku, bahasa, budaya, daerah, dan pilihan. Perbedaan adalah kenyataan yang harus dikelola dengan akhlak.
- Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan saling menghina.
- Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan saling membenci.
- Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
- Kemerdekaan berbicara jangan berubah menjadi kebebasan mencaci.
- Kemerdekaan bermedia sosial jangan berubah menjadi kebebasan memfitnah.
- Kemerdekaan berpendapat jangan berubah menjadi permusuhan.
Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa kekuatan tidak terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, merdeka berakhlak adalah merdeka dari kebencian, kekerasan, dendam, dan permusuhan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Keempat: Menyalakan Cahaya Persaudaraan — Merdeka untuk Membangun Indonesia; Ketika Rasulullah Saw. membangun masyarakat Madinah, salah satu langkah strategis beliau adalah membangun ukhuwah dan persaudaraan. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan. Perbedaan tidak dijadikan alasan untuk saling melemahkan, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama. Allah Swt. berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103).
Indonesia pun merdeka karena persatuan. Para pejuang tidak bertanya terlebih dahulu: dari suku mana, kelompok mana, organisasi mana, atau daerah mana. Mereka dipersatukan oleh satu tujuan: Indonesia merdeka. Kini, setelah 81 tahun kemerdekaan, perjuangan kita adalah menjaga agar persatuan itu tetap hidup. Kemerdekaan harus kita isi dengan gotong royong, ilmu, pendidikan, kerja keras, kepedulian, kreativitas, dan kemanfaatan. Allah Swt. berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan jiwa untuk merebut kemerdekaan, maka generasi hari ini harus mengerahkan ilmu, tenaga, kreativitas, kejujuran, dan integritas untuk mengisi kemerdekaan.
- Jangan bertanya hanya: Apa yang telah diberikan Indonesia kepada kita?
- Tetapi mari bertanya kepada diri sendiri:
- Apa kebaikan yang sudah kita berikan untuk Indonesia?
- Apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga?
- Apa yang sudah kita sumbangkan untuk pendidikan?
- Apa yang sudah kita kerjakan untuk masyarakat?
- Dan manfaat apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi setelah kita?
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari empat ikhtiar tersebut, terdapat empat pelajaran penting yang hendaknya kita bawa pulang dari mimbar Jum’at ini.
Pertama, merdeka berakhlak berarti merdeka dari kebohongan dengan menyalakan cahaya kejujuran Rasulullah.
Kedua, merdeka berakhlak berarti menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab dengan menyalakan cahaya amanah Rasulullah.
Ketiga, merdeka berakhlak berarti merdeka dari kebencian dan kekerasan dengan menyalakan cahaya kasih sayang Rasulullah.
Keempat, merdeka berakhlak berarti menggunakan kemerdekaan untuk memperkuat persaudaraan, bekerja, berkarya, dan menghadirkan manfaat bagi Indonesia.
Inilah makna “Merdeka Berakhlak: Menyalakan Cahaya Rasulullah untuk Indonesia.” Rabi’ul Awal jangan berhenti menjadi peringatan kelahiran Rasulullah. Jadikan ia momentum kelahiran kembali akhlak Rasulullah dalam diri kita. Kemerdekaan jangan berhenti menjadi perayaan tahunan. Jadikan ia amanah untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, aman, damai, maju, dan bermartabat.
- Cinta Rasulullah harus melahirkan keteladanan.
- Kemerdekaan harus melahirkan tanggung jawab.
- Perbedaan harus melahirkan persaudaraan.
- Ilmu harus melahirkan kemanfaatan.
- Dan kekuasaan harus melahirkan pelayanan serta keadilan.
Semoga cahaya akhlak Rasulullah Saw. terus menyinari keluarga kita, lembaga pendidikan kita, masyarakat kita, para pemimpin kita, dan seluruh bangsa Indonesia sehingga terwujud negeri yang:
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’ [34]: 15).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati, memohon kepada Allah Swt. agar kemerdekaan yang telah dianugerahkan kepada bangsa Indonesia senantiasa menjadi kemerdekaan yang diberkahi dan dibimbing oleh akhlak Rasulullah Saw.
Ya Allah, di bulan Rabi’ul Awal yang mulia ini, tumbuhkanlah dalam hati kami kecintaan yang tulus kepada Nabi Muhammad Saw. Jadikan kecintaan itu hidup dalam kejujuran kami, amanah kami, kasih sayang kami, persaudaraan kami, dan pengabdian kami kepada sesama.
Ya Allah, kami bersyukur atas nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia. Ampunilah para pejuang dan pendahulu bangsa yang telah mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan harta demi kemerdekaan negeri ini.
Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu menjaga kemerdekaan dengan iman dan akhlak, mengisinya dengan ilmu dan karya, serta mewariskannya kepada generasi mendatang dalam keadaan lebih baik.
Ya Allah, bebaskan bangsa kami dari kebohongan, korupsi, pengkhianatan amanah, permusuhan, kekerasan, kriminalitas, narkoba, kemiskinan, kebodohan, dan segala bentuk kezaliman.
Ya Allah, satukanlah hati bangsa Indonesia. Jangan biarkan perbedaan suku, agama, budaya, daerah, golongan, maupun pilihan menjadi sebab perpecahan dan permusuhan.
Ya Allah, karuniakanlah kepada para pemimpin kami sifat ṣiddīq, amanah, tablīgh, dan faṭānah. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, keberanian, dan keberpihakan kepada kemaslahatan rakyat.
Lindungilah para ulama, guru, pendidik, orang tua, generasi muda, para pekerja, petani, pedagang, aparat penjaga keamanan, dan seluruh rakyat Indonesia.