81 Tahun Merdeka: Gen Z Penonton atau Penentu Masa Depan?

Wawancara Eksekutif- Sabtu, 15 Agustus 2026: 16: 00, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

“81 tahun Indonesia merdeka. Bagi Gen Z, kemerdekaan bukan warisan untuk dinikmati, tetapi amanah untuk dijaga dan dilanjutkan.”

Memasuki 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, makna merdeka menghadapi konteks baru. Generasi muda tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme fisik, tetapi dengan tantangan digital, ketimpangan sosial, kekerasan, krisis ekologis, disinformasi, serta kompetisi global. Dalam perspektif Erik Erikson, generasi muda berada pada fase pembentukan identitas; sementara teori Transformative Learning Jack Mezirow menegaskan bahwa pengalaman dan refleksi kritis dapat mengubah cara seseorang memandang serta bertindak terhadap lingkungannya.

Persoalannya terdapat gap antara menikmati hasil kemerdekaan dan kesediaan mengambil tanggung jawab atas masa depan bangsa. Dari perspektif manajemen pendidikan, kemerdekaan perlu ditransformasikan menjadi kemampuan mengelola diri, lingkungan, teknologi, dan kehidupan bersama. Dengan pendekatan mixed-method secara konseptual-reflektif, fenomena sosial dibaca bersama nilai kebangsaan, pendidikan karakter, dan ekoteologi. Atas dasar itu, tiga pertanyaan Beda News dapat dijawab sebagai berikut:

Pertama: Apa Makna Kemerdekaan Ke-81 bagi Gen Z Saat Ini?; Bagi Gen Z, kemerdekaan harus dimaknai melampaui upacara, bendera, dan perayaan tahunan. Merdeka berarti memiliki ruang untuk belajar, berpikir kritis, berkarya, berpendapat secara bertanggung jawab, serta menentukan masa depan tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Tantangan Gen Z justru muncul ketika kebebasan digital tidak disertai kedewasaan moral. Seseorang dapat bebas mengakses informasi, tetapi belum tentu merdeka dari hoaks, ujaran kebencian, perundungan, konsumerisme, dan ketergantungan teknologi. Karena itu, kemerdekaan substantif membutuhkan literasi, integritas, akhlak, dan kemampuan mengendalikan diri.

Kemerdekaan ke-81 juga berarti keberanian menjaga ruang hidup. Gen Z perlu memahami bahwa mencintai Indonesia bukan hanya membela batas wilayah, melainkan merawat manusia, lingkungan, dan keberagaman di dalamnya. Dalam perspektif khalifah fil ardh, kebebasan selalu berdampingan dengan amanah. Maka, Gen Z yang merdeka bukan sekadar generasi yang bebas menentukan pilihan, tetapi generasi yang mampu mempertanggungjawabkan pilihannya kepada Tuhan, masyarakat, bangsa, dan masa depan.

Kedua: Kontribusi Nyata Apa yang Bisa Kita Berikan untuk Indonesia?; Kontribusi terhadap Indonesia tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Pada usia kemerdekaan ke-81, bangsa membutuhkan jutaan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Pelajar belajar dengan sungguh-sungguh, guru mendidik dengan integritas, aparatur melayani tanpa korupsi, masyarakat menjaga keamanan, dan generasi digital menggunakan media sosial untuk menyebarkan pengetahuan merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan.

Gen Z memiliki modal yang sangat penting: teknologi, kreativitas, jejaring, dan kemampuan beradaptasi. Modal tersebut dapat diarahkan untuk menciptakan inovasi, mengembangkan kewirausahaan, membantu UMKM, membangun konten edukatif, melawan hoaks, serta memperkuat solidaritas sosial. Kontribusi juga harus menyentuh persoalan ekologis. Menjaga air, mengurangi sampah, menanam dan merawat pohon, menghemat energi, serta tidak merusak fasilitas publik merupakan patriotisme keseharian. Di sinilah ekoteologi menemukan relevansinya: mencintai Indonesia berarti sekaligus merawat tanah, air, hutan, dan seluruh ruang kehidupannya. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang bertanya, “Apa yang diberikan negara kepada saya?”, tetapi generasi yang berani bertanya, “Apa manfaat kehadiran saya bagi Indonesia?”

Ketiga: Apa Pelajaran Terbesar 81 Tahun Merdeka yang Harus Dijaga?; Pelajaran terbesar dari perjalanan 81 tahun Indonesia adalah bahwa kemerdekaan dapat direbut dalam satu momentum sejarah, tetapi harus dirawat setiap hari lintas generasi. Para pendiri bangsa mewariskan negara merdeka; generasi berikutnya berkewajiban memastikan kemerdekaan itu tetap bermakna.

Yang paling penting dijaga adalah persatuan, karena Indonesia dibangun di atas keberagaman. Perbedaan agama, budaya, suku, bahasa, pilihan, dan generasi tidak boleh berubah menjadi alasan saling meniadakan. Ruang digital pun harus menjadi ruang dialog dan kolaborasi, bukan arena memperbesar kebencian.

Pelajaran berikutnya adalah bahwa pembangunan tanpa etika dapat kehilangan arah. Kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan bersama keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Jangan sampai generasi mendatang menerima Indonesia yang maju secara teknologi tetapi rapuh persaudaraannya dan rusak alamnya.

Karena itu, warisan terbaik bukan hanya infrastruktur, melainkan karakter, integritas, persatuan, rasa aman, dan lingkungan yang lestari. Itulah modal peradaban agar Indonesia tetap berdiri bermartabat menghadapi abad berikutnya.

Singkat kata, Kemerdekaan ke-81 adalah jembatan antara warisan perjuangan dan tanggung jawab masa depan. Bagi Gen Z, mencintai Indonesia tidak cukup dinyatakan melalui simbol, tetapi dibuktikan melalui ilmu, karya, integritas, kepedulian sosial, literasi digital, dan keberanian menjaga lingkungan. Delapan puluh satu tahun perjalanan bangsa mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak pernah selesai; setiap generasi memperoleh bagian untuk merawatnya. Karena itu, generasi mendatang harus mewarisi Indonesia yang bukan hanya maju, tetapi juga aman, bersatu, adil, berakhlak, dan lestari. Merdeka berarti mampu menjaga manusia, merawat alam, serta menghadirkan manfaat bagi negeri. Wallahu A‘lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *