اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالْأَمْنِ وَالْأَمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 102).
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita: nikmat iman, Islam, kesehatan, persaudaraan, keamanan, serta kesempatan sehingga pada hari yang mulia ini kita kembali dipertemukan dalam ibadah Jum’at, 1 Rabi’ul Awal 1448 Hijriah, bertepatan dengan 14 Agustus 2026 Masehi.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah: marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan, rasa syukur, kejujuran, keadilan, persaudaraan, serta kesungguhan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Hari ini kita memasuki 1 Rabi’ul Awal 1448 H, bulan yang mengingatkan umat Islam kepada perjalanan dan keteladanan Rasulullah Muhammad Saw. Pada saat yang sama, bangsa Indonesia sedang berada dalam suasana menjelang peringatan ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945–17 Agustus 2026. Pertemuan dua momentum ini mengandung pelajaran yang sangat indah: Rabi’ul Awal mengajak kita meneladani Rasulullah Saw., sedangkan bulan kemerdekaan mengajak kita mensyukuri nikmat kebebasan dan menjaga amanah perjuangan.
Kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah nikmat Allah sekaligus amanah. Kita dapat beribadah dengan tenang, belajar, bekerja, membangun keluarga, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menjalankan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dalam keadaan merdeka. Allah Swt. mengingatkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrāhīm [14]: 7).
Ayat ini menegaskan bahwa nikmat tidak cukup hanya diingat dan dirayakan. Nikmat harus disyukuri, dijaga, dimanfaatkan, dan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah Saw. memberikan teladan bagaimana membangun masyarakat yang merdeka dari kezaliman, kuat dalam persaudaraan, tegak dalam keadilan, dan maju dalam peradaban. Ketika membangun Madinah, beliau tidak sekadar membangun tempat tinggal, tetapi membangun manusia, persaudaraan, hukum, keadilan, keamanan, dan kemaslahatan bersama.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Oleh karena itu, pada momentum Rabi’ul Awal dan bulan kemerdekaan, marilah kita renungkan empat ikhtiar meneladani Rasulullah Saw. dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan:
Pertama: Mensyukuri Kemerdekaan dengan Memperkuat Iman dan Ketaatan; Kemerdekaan akan kehilangan makna apabila kebebasan justru menjauhkan manusia dari Allah Swt. Sebaliknya, kemerdekaan menjadi berkah apabila memberikan ruang yang luas kepada kita untuk beribadah, menuntut ilmu, bekerja, beramal saleh, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Rasulullah Saw. adalah teladan utama dalam mensyukuri nikmat Allah. Ketika ditanya mengapa beliau tetap bersungguh-sungguh beribadah hingga kedua kakinya membengkak, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, Rasulullah Saw. menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah hakikat syukur: nikmat melahirkan ketaatan. Maka mensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan memasang bendera, mengikuti upacara, perlombaan, atau berbagai perayaan. Semua itu baik sebagai ekspresi kegembiraan dan kebangsaan, tetapi syukur harus bergerak lebih jauh menjadi amal nyata.
Kemerdekaan kita syukuri dengan semakin rajin beribadah, menjaga shalat, mendidik keluarga, bekerja secara halal, menjauhi korupsi, menjaga amanah, menolong sesama, serta menggunakan kebebasan untuk memperbanyak kebaikan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Kedua: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Persatuan dan Persaudaraan; Salah satu karya besar Rasulullah Saw. ketika membangun Madinah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka datang dari latar belakang dan pengalaman kehidupan yang berbeda, tetapi dipersatukan dalam iman dan tanggung jawab membangun kehidupan bersama. Allah Swt. berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103).
Kemerdekaan Indonesia pun lahir dari persatuan. Para pejuang berasal dari berbagai daerah, suku, golongan, dan latar belakang. Mereka mampu melampaui kepentingan masing-masing karena memiliki satu cita-cita besar: Indonesia merdeka.
Karena itu, menjaga persatuan pada masa sekarang merupakan salah satu bentuk syukur atas kemerdekaan. Kita boleh berbeda pendapat, pilihan, organisasi, budaya, suku, maupun latar belakang. Namun, perbedaan tidak boleh berubah menjadi kebencian.
Di era digital, persatuan juga harus dijaga melalui lisan dan jari-jari kita. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat mencaci, memfitnah, memprovokasi, dan memperbesar perbedaan.
Kemerdekaan berbicara harus disertai kemerdekaan dari kebencian.
Kemerdekaan berpendapat harus disertai tanggung jawab.
Kemerdekaan berekspresi harus dibimbing oleh akhlak.
Itulah salah satu wujud meneladani Rasulullah Saw. di zaman kita.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga: Meneladani Rasulullah dalam Menegakkan Keadilan dan Menjaga Keamanan; Rasulullah Saw. membangun masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan. Beliau membela kaum lemah, menolak kezaliman, dan menegakkan hukum tanpa membedakan kedudukan sosial. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Naḥl [16]: 90).
Kemerdekaan harus menghadirkan rasa aman dan keadilan bagi seluruh rakyat. Tidak boleh ada kemerdekaan bagi sebagian orang, sementara orang lain hidup dalam ketakutan akibat kekerasan, kriminalitas, perundungan, narkoba, kejahatan jalanan, maupun berbagai bentuk kezaliman.
Menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat. Ia adalah tanggung jawab bersama. Orang tua menjaga keluarganya. Guru mendidik peserta didik. Ulama membimbing umat. Pemerintah menegakkan hukum. Generasi muda menjaga pergaulan. Masyarakat membangun kepedulian terhadap lingkungannya. Rasulullah Saw. mengingatkan betapa besarnya nikmat keamanan:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian pada pagi hari merasa aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).
Karena itu, menjaga keamanan, menolak kekerasan, menegakkan keadilan, serta melindungi sesama merupakan bagian dari syukur atas kemerdekaan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Keempat: Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu, Kerja, dan Kemanfaatan; Rasulullah Saw. tidak hanya membangun kehidupan spiritual. Beliau membangun masyarakat yang memiliki etos kerja, kepedulian sosial, kejujuran dalam perdagangan, tanggung jawab, serta semangat menghadirkan kemaslahatan. Allah Swt. berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Kemerdekaan tidak boleh menjadikan kita terlena. Generasi yang hidup setelah kemerdekaan memiliki perjuangan yang berbeda dari generasi 1945. Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan jiwa untuk merebut kemerdekaan, maka generasi hari ini berkewajiban mengerahkan ilmu, tenaga, pikiran, kreativitas, dan integritas untuk mengisi kemerdekaan.
Pelajar/Makasiswa, mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh. Guru mengisinya dengan mendidik penuh keteladanan. Petani mengisinya dengan menghasilkan pangan. Pedagang mengisinya dengan kejujuran. Aparatur mengisinya dengan pelayanan dan amanah. Ulama mengisinya dengan membimbing umat. Para pemimpin mengisinya dengan keadilan. Setiap warga negara mengisinya dengan bekerja dan menghadirkan manfaat.
Inilah masyarakat yang dicita-citakan: masyarakat yang beriman tetapi juga produktif; merdeka tetapi bertanggung jawab; maju tetapi tetap berakhlak. Allah Swt. menggambarkan negeri yang baik:
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’ [34]: 15).
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari empat pesan tersebut, kita memperoleh pelajaran bahwa meneladani Rasulullah Saw. dan mensyukuri kemerdekaan merupakan dua panggilan yang dapat berjalan beriringan. Pertama, kemerdekaan disyukuri dengan meningkatkan iman dan ketaatan. Kedua, kemerdekaan dirawat dengan menjaga persatuan dan persaudaraan. Ketiga, kemerdekaan dijaga dengan menegakkan keadilan serta menghadirkan rasa aman, dan Keempat, kemerdekaan diisi dengan ilmu, kerja keras, amanah, dan kemanfaatan bagi sesama.
Mari kita jadikan 1 Rabi’ul Awal 1448 H sebagai awal memperkuat kembali kecintaan dan keteladanan kita kepada Rasulullah Saw. Dan mari kita jadikan momentum menjelang 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai kesempatan memperbarui rasa syukur dan tanggung jawab kepada negeri.
Mencintai Rasulullah dibuktikan dengan meneladani akhlaknya.
Mensyukuri kemerdekaan dibuktikan dengan menjaganya.
Menjaga Indonesia berarti merawat persatuan.
Mengisi kemerdekaan berarti menghadirkan manfaat.
Semoga dengan iman, persatuan, keadilan, keamanan, ilmu, dan kerja nyata, Indonesia menjadi negeri yang aman, maju, adil, makmur, berkeadaban, dan penuh keberkahan Allah Swt.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati seraya memohon kepada Allah Swt. Ya Allah, jadikanlah datangnya bulan Rabi’ul Awal ini sebagai momentum bagi kami untuk semakin mencintai Rasul-Mu, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan meneruskan risalah kebaikannya.
Ya Allah, kami bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang Engkau anugerahkan kepada bangsa kami. Ampunilah para pejuang dan pendahulu bangsa yang telah berkorban demi kemerdekaan. Bimbinglah kami agar mampu menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan iman, ilmu, amal saleh, persatuan, kejujuran, keadilan, dan kemanfaatan.
Ya Allah, jagalah Indonesia dari perpecahan, kekerasan, kezaliman, kriminalitas, bencana, fitnah, dan segala sesuatu yang merusak persatuan bangsa. Karuniakan kepada para pemimpin kami kekuatan untuk menjalankan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan berpihak kepada kemaslahatan rakyat. Lindungilah para ulama, guru, pendidik, orang tua, generasi muda, aparat yang menjaga keamanan, serta seluruh rakyat Indonesia.