Wawancara Eksekutif- Senin, 26 Juni 2026: 18;16, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
“HANI 2026 mengingatkan bahwa pencegahan narkotika dimulai dari pendidikan karakter, keluarga, dan budaya sekolah yang sehat menuju Indonesia Emas 2045.”
Penyalahgunaan narkotika masih menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Korbannya tidak lagi didominasi orang dewasa, tetapi telah merambah kalangan remaja, bahkan peserta didik. Karena itu, peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional (HANI) 2026 dengan tema “Membangun Generasi Sehat, Cerdas dan Kuat Melalui Gerakan Ananda Bersinar Menuju Indonesia Emas 2045” bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperkuat sistem pendidikan yang mampu membangun karakter dan ketahanan generasi muda.
Dalam perspektif Manajemen Pendidikan, sekolah dipandang sebagai organisasi pembelajar yang bertugas mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara utuh. Teori Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan menekankan pentingnya budaya mutu, kepemimpinan, perbaikan berkelanjutan, dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Sementara Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku peserta didik banyak dibentuk melalui keteladanan lingkungan.
Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara program pencegahan narkotika yang bersifat insidental dengan pembangunan budaya sekolah yang berkelanjutan. Tulisan ini menggunakan pendekatan konseptual berbasis manajemen pendidikan untuk menjawab tiga pertanyaan Bedanews mengenai nilai pendidikan, strategi pencegahan, dan pesan moral HANI 2026.
PERTAMA: Nilai manajemen pendidikan apa yang dapat digali dari HANI 2026?; Nilai utama yang dapat dipetik ialah bahwa pencegahan narkotika merupakan bagian dari manajemen pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi harus membangun integritas, disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, serta kemampuan mengambil keputusan yang benar. HANI mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan diukur bukan hanya oleh nilai rapor, melainkan oleh kualitas moral lulusan. Karena itu diperlukan kepemimpinan sekolah yang visioner, budaya sekolah yang sehat, kemitraan dengan keluarga, serta evaluasi berkelanjutan. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berprestasi sekaligus memiliki daya tahan terhadap berbagai perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan narkotika.
KEDUA: Langkah strategis apa yang efektif mencegah penyalahgunaan narkotika?; Strategi paling efektif adalah membangun ekosistem pencegahan secara kolaboratif. Pendidikan anti-narkotika perlu diintegrasikan dalam kurikulum, pembelajaran proyek, layanan bimbingan konseling, kegiatan ekstrakurikuler, serta pendidikan karakter. Literasi digital juga harus diperkuat agar generasi muda mampu menyaring pengaruh negatif media sosial. Orang tua perlu menjadi mitra utama sekolah melalui komunikasi yang intensif mengenai perkembangan anak. Pemerintah, BNN, aparat penegak hukum, tokoh agama, organisasi kepemudaan, dan media massa harus membangun gerakan edukatif yang berkesinambungan, bukan sekadar kampanye sesaat. Pencegahan akan lebih berhasil apabila seluruh lingkungan belajar membentuk budaya positif sehingga peserta didik merasa terlindungi, didampingi, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
KETIGA: Pesan moral apa yang perlu disampaikan kepada generasi muda?; Generasi muda perlu menyadari bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa cepat mengikuti tren, tetapi oleh kemampuan menjaga diri dari pilihan yang merusak kehidupan. Narkotika bukan hanya menghancurkan kesehatan, melainkan juga merusak cita-cita, kepercayaan keluarga, dan masa depan bangsa. Sebaliknya, disiplin belajar, memperkuat iman, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta aktif berkarya merupakan investasi terbaik menuju Indonesia Emas 2045. Setiap pemuda memiliki potensi menjadi agen perubahan. Karena itu, keberanian mengatakan “tidak” terhadap narkotika merupakan bentuk kepemimpinan moral yang sesungguhnya. Menjadi generasi sehat, cerdas, dan kuat berarti menjaga diri sekaligus menginspirasi orang lain untuk hidup produktif dan bermartabat.
Pada akhirnya, HANI 2026 memberikan pelajaran bahwa perang melawan narkotika tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum, tetapi harus dimulai dari manajemen pendidikan yang membangun karakter, budaya sekolah yang sehat, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pendidikan yang berkualitas melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, berakhlak mulia, serta memiliki ketahanan menghadapi berbagai tantangan zaman. Apabila keluarga, sekolah, pemerintah, media, dan masyarakat bergerak bersama, maka Gerakan Ananda Bersinar bukan sekadar slogan, melainkan fondasi nyata untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang sehat, cerdas, kuat, bebas narkotika, dan berdaya saing global. Wallahu A’lam.