Khutbah Jumat, 29 Syawal 1447 H / 17 April 2026 M-Menjaga Istiqamah di Akhir Syawal di Tengah Ujian Zaman

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ دُوَلًا، وَجَعَلَ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا، وَأَمَرَنَا بِالِاسْتِقَامَةِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita bersama-sama memperkuat komitmen dan kesungguhan hati dalam menaati setiap perintah Allah swt. Mari kita laksanakan segala kewajiban yang telah diperintahkan oleh-Nya (المَأْمُوْرَاتُ), baik yang bersifat wajib (الوَاجِبَاتُ), yaitu amalan yang harus kita lakukan, maupun yang sunnah (المَنْدُوْبَاتُ), yakni ibadah-ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar ritual, tetapi harus melahirkan kesadaran dalam diri, bahwa kehidupan ini terus diuji, baik dengan nikmat maupun dengan kesulitan.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita menginjak Jumat terakhir di bulan Syawal. Bulan yang datang setelah sebulan penuh kita dilatih dalam Ramadhan. Ramadhan bukan sekadar ajang menahan lapar dan dahaga, tapi sarana untuk menyucikan hati dan menata kembali akhlak kita. Maka, Syawal adalah momen evaluasi: sejauh mana perubahan itu benar-benar terjadi? Apakah setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih sabar? Lebih lembut lisannya? Lebih lapang dadanya? Atau justru kita kembali ke pola lama—mudah tersinggung, kasar dalam berbicara, dan abai terhadap perasaan sesama?  Sehubgan dengan itu, di penghujung bulan Syawal ini, kita dihadapkan pada realitas dunia yang tidak mudah. Konflik antarnegara yang memanas, krisis energi, serta perubahan pola kehidupan seperti bekerja dari rumah menjadi bagian dari ujian zaman. Namun bagi seorang mukmin, setiap keadaan adalah ladang ujian untuk menguatkan iman, bukan melemahkannya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka.” (QS. Fussilat: 30).

Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah adalah kunci keselamatan, terutama setelah kita melewati madrasah Ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Menurut para ulama, salah satu rujukan yang sangat relevan dalam hal ini adalah nasihat dari Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin serta ulasan dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Mereka menegaskan bahwa akhir Syawal adalah waktu muhasabah: apakah Ramadhan kita diterima atau tidak.  Dari itu semua Ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan diakhir bulan syawal ini:

Pertama: Tanda diterimanya amal (Qabulul Amal); Para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah adanya kebaikan yang berlanjut setelahnya. Jika setelah Ramadhan kita masih menjaga shalat, tilawah, dan amal kebaikan lainnya, maka itu tanda kebaikan. Namun jika semua terhenti, maka kita harus segera berbenah. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17).

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa melakukan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.”

Hikmah/Pelajaran dari itu: Jika amal kita diterima, Allah akan “mengunci” kita dalam kebaikan berikutnya. Maka kesinambungan amal adalah tanda kasih sayang Allah. Sebaliknya, berhentinya amal bisa menjadi tanda kita perlu memperbaiki keikhlasan dan kesungguhan. Makna Spiritual Kesinambungan Amal: (1) Tanda Qabul (Diterima): Para ulama menyebutkan bahwa salah satu tanda diterimanya amal shalih adalah Allah membimbing kita untuk melakukan amal shalih berikutnya. (2) Efek Domino Kebaikan: Satu kebaikan yang ikhlas akan melunakkan hati, sehingga kemaksiatan terasa berat dan ketaatan terasa ringan. (3) Istiqamah sebagai Karamah: Kemampuan untuk terus konsisten (istiqamah) meski dalam jumlah sedikit adalah karamah (kemuliaan) yang paling utama di mata Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua: Istiqamah dalam ibadah ; Istiqamah dalam ibadah adalah konsistensi melaksanakan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus, baik dalam situasi lapang maupun sempit, serta tidak terbatas waktu dan tempat. Ini adalah tanda keimanan sejati yang memerlukan niat tulus, ilmu, berteman dengan orang saleh, serta doa agar teguh di jalan Allah. Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)

Dan dalam ayat lain, Allah SWT, berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”

Hikmah/Pelajaran: Istiqamah bukan tentang banyaknya amal, tetapi tentang keteguhan hati. Amal kecil yang rutin lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesaat. Syawal mengajarkan kita menjaga “nyala kecil” iman agar tetap hidup sepanjang waktu. Berdasarkan konteks hadits dan hikmah yang disampaikan, lanjutan yang tepat untuk melengkapi kutipan tersebut adalah: “Maka, jadikanlah Syawal sebagai titik awal pembuktian istiqamah, bukan akhir dari peribadahan.”Syawal adalah Ujian: Ujian sesungguhnya setelah Ramadhan adalah mempertahankan kebiasaan baik (seperti shalat berjamaah, tilawah, sedekah). (2) Kualitas di atas Kuantitas: Allah lebih melihat konsistensi daripada besarnya amal yang hanya sesaat. (3) Target Realistis: Istiqamah mengajarkan kita untuk beramal sesuai kemampuan, agar tidak mudah bosan atau berhenti.Tanda diterimanya amal Ramadhan adalah berlanjutnya amal kebaikan di bulan-bulan setelahnya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketiga: Jangan menjadi hamba Ramadhan; Jangan menjadi “hamba Ramadhan” artinya tidak menjadikan ibadah hanya sebagai rutinitas bulanan yang berhenti saat Syawal tiba. Jadilah hamba Allah yang istiqomah beribadah sepanjang tahun, karena tujuan puasa adalah takwa berkelanjutan, bukan sekadar menahan lapar sebulan. Para ulama salaf mengingatkan bahwa seburuk-buruk manusia adalah yang hanya beribadah di bulan Ramadhan saja. Padahal Allah adalah Rabb sepanjang waktu. Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ

“Apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya…”

Hikmah/Pelajaran: Ibadah bukan musiman, tetapi perjalanan seumur hidup. Ramadhan adalah madrasah, bukan tujuan akhir. Orang yang berhasil adalah yang membawa semangat Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya. Hal ini merupakan refleksi yang sangat dalam. Berikut adalah pelengkap untuk memperkuat poin tersebut: (1) Pengecualian Kematian: Hadits ini menekankan bahwa meski fisik terpisah dari dunia, manusia masih bisa menabung pahala melalui investasi jangka panjang (sedekah, ilmu, anak sholeh). (2) Ramadhan sebagai ‘Pemanasan’: Jika Ramadhan adalah madrasah (sekolah), maka 11 bulan berikutnya adalah ujian sesungguhnya. Semangat ibadah, disiplin, dan kedermawanan di bulan Ramadhan seharusnya menjadi kebiasaan baru, bukan sesuatu yang hilang saat Syawal tiba. (3) Investasi Abadi: Sedekah jariyah tidak hanya uang, tapi bisa berupa wakaf sarana ibadah atau Al-Qur’an. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan dan diamalkan oleh orang lain. Doa anak sholeh adalah harapan terbesar orang tua.Semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan dan meninggalkan amal yang terus mengalir pahalanya. 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari tiga hal yang telah kita renungkan, dapat kita ambil natijah bahwa keberhasilan Ramadhan bukan diukur dari banyaknya amal yang kita lakukan selama sebulan, tetapi dari sejauh mana amal itu mampu bertahan setelahnya. Amal yang diterima akan melahirkan amal berikutnya, sedangkan amal yang terputus mengingatkan kita untuk kembali memperbaiki niat dan kesungguhan.

Istiqamah menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas iman. Ia bukan tentang kemampuan melakukan yang besar, tetapi tentang kesetiaan menjaga yang kecil namun terus hidup. Dalam dunia yang penuh perubahan dan ujian, justru istiqamahlah yang menjadikan seorang mukmin tetap kokoh dan tidak mudah goyah.

Dan yang paling penting, kita tidak boleh menjadi hamba Ramadhan, tetapi harus menjadi hamba Allah sepanjang waktu. Ibadah bukan musiman, melainkan perjalanan hidup hingga akhir hayat. Ramadhan adalah madrasah, sedangkan Syawal dan bulan-bulan setelahnya adalah pembuktian.

Maka, dari itu semua, marilah kita jaga shalat kita, hidupkan hati kita dengan Al-Qur’an, dan teruskan amal kebaikan meskipun sedikit. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah, menerima amal kita, dan meneguhkan langkah kita hingga akhir hayat. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَقِيْمُوْنَ فِي الطَّاعَةِ، وَيَثْبُتُوْنَ فِيْ زَمَنِ الْفِتَنِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *