Wawancara Eksekutif- RABU, 27 Oktober 2026: 13;38, dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Bagaimana Prodi MPI menerjemahkan Sumpah Pemuda ke dalam kurikulum, kepemimpinan kolaboratif, dan inovasi digital?
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan daerah dan latar belakang dapat dipertemukan dalam cita-cita kebangsaan. Pada 2026, pesan itu relevan bagi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang menyiapkan pengelola pendidikan di tengah keberagaman dan perubahan digital. Tantangannya ialah memastikan nilai persatuan tidak berhenti sebagai materi, tetapi tampak dalam kompetensi dan tindakan mahasiswa.
Teori constructive alignment John Biggs menekankan keselarasan antara capaian pembelajaran, kegiatan belajar, dan penilaian. Dari sudut pandang akademik MPI, prinsip ini membantu menjembatani nilai kebangsaan dengan bukti kinerja yang dapat dinilai. Tulisan ini menjawab tiga pertanyaan Beda News tentang kurikulum, kepemimpinan kolaboratif, dan inovasi digital.
Pertama: Bagaimana Prodi MPI memperkuat kurikulum yang berorientasi pada persatuan dan karakter kebangsaan? Prodi MPI dapat memaknai Sumpah Pemuda sebagai landasan untuk merancang pendidikan yang menyatukan kompetensi manajerial, akhlak, dan tanggung jawab kebangsaan. Dalam pendekatan Outcome-Based Education (OBE), nilai persatuan perlu diterjemahkan ke dalam capaian pembelajaran yang dapat diamati.
Misalnya, mahasiswa diharapkan mampu menyusun program pendidikan yang menghargai keberagaman, mengambil keputusan secara adil, serta bekerja sama dengan pihak yang memiliki latar belakang berbeda. Capaian tersebut kemudian dihubungkan dengan materi manajemen kurikulum, kepemimpinan pendidikan, dan budaya organisasi.
Pembelajarannya dapat berupa kajian kasus, dialog, dan proyek bersama lembaga pendidikan. Penilaiannya menggunakan rubrik yang melihat kualitas rancangan, kemampuan mendengar, pembagian tanggung jawab, dan refleksi mahasiswa.
Dengan demikian, karakter kebangsaan menjadi bagian dari proses, praktik, dan evaluasi kurikulum. Hasil penilaian serta masukan mitra selanjutnya digunakan prodi untuk memperbaiki pembelajaran secara berkala.
Kedua: Strategi manajemen apa yang mencetak pemimpin pendidikan yang mampu berkolaborasi lintas daerah? Prodi MPI perlu mengelola kolaborasi sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi. Semangat Kongres Pemuda 1928 memberi inspirasi bahwa tujuan bersama dapat dibangun oleh orang-orang dari latar belakang yang beragam.
Pada tahap perencanaan, prodi dapat menetapkan kompetensi kepemimpinan kolaboratif dan memilih mitra dari daerah yang berbeda. Pada tahap pelaksanaan, mahasiswa membentuk tim untuk memetakan persoalan pendidikan, menyepakati pembagian tugas, lalu merancang solusi bersama.
Pertukaran pengalaman antardaerah dapat dilakukan melalui diskusi daring, kuliah bersama, atau proyek pengabdian sesuai sumber daya yang tersedia. Dosen berperan sebagai pembimbing dan penghubung dengan mitra.
Evaluasi tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga kemampuan mahasiswa mendengar, menyelesaikan perbedaan, memenuhi komitmen, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Umpan balik mitra menjadi dasar perbaikan kerja sama berikutnya.
Ketiga: Apa peran mahasiswa MPI dalam mengelola inovasi pendidikan digital? Mahasiswa MPI berperan sebagai pengelola perubahan: mengenali kebutuhan lembaga, memilih teknologi yang sesuai, mengajak pihak terkait terlibat, dan menilai manfaatnya. Inovasi digital perlu memperluas kesempatan belajar serta memperkuat kebersamaan. Contohnya, mahasiswa dapat merancang perpustakaan digital, sistem informasi kegiatan pendidikan, atau kelas kolaboratif antardaerah. Sebelum diterapkan, mereka perlu memeriksa kesiapan pengguna, akses internet, biaya, dan perlindungan data. Hasil uji coba kemudian dievaluasi bersama guru dan peserta didik.
Nilai Sumpah Pemuda juga hadir dalam etika digital: memeriksa sumber, menghargai karya orang lain, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, dan tidak menyebarkan informasi yang memecah persatuan. UNESCO menekankan pentingnya literasi media untuk menghadapi misinformasi serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Singkat kata, Sumpah Pemuda memberi arah bagi Prodi MPI untuk menyiapkan pemimpin pendidikan yang berkarakter, mampu bekerja sama, dan cakap mengelola perubahan. Kurikulum perlu menyelaraskan nilai persatuan dengan pengalaman belajar dan penilaian. Kolaborasi lintas daerah perlu dikelola sebagai latihan kepemimpinan yang terukur. Sementara itu, inovasi digital harus menjawab kebutuhan masyarakat dengan etika dan tanggung jawab. Berlandaskan semangat “Ikhlas Beramal”, ilmu manajemen pendidikan dapat menjadi karya yang memperkuat persatuan dan memberi manfaat bagi negeri. Wallahu a’lam.