اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَعَلَّمَنَا مَا لَمْ نَكُنْ نَعْلَمُ، وَأَمَرَنَا بِالتَّوْبَةِ وَالْإِصْلَاحِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, ilmu pengetahuan, dan kemampuan untuk terus memperbaiki diri serta memberikan manfaat kepada sesama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya kesadaran bahwa Allah mengawasi kehidupan kita. Takwa harus melahirkan perubahan: dari kelalaian menuju tanggung jawab, dari kemalasan menuju ketekunan, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dan dari kepentingan pribadi menuju kepedulian terhadap sesama. Sebab, ukuran perbaikan diri tidak hanya terletak pada apa yang kita niatkan, tetapi juga pada kebaikan yang sungguh-sungguh kita kerjakan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Jum’at, 9 Oktober 2026 M, yang dalam penanggalan rangkaian kajian ini bertepatan dengan 27 Rabi’ul Akhir 1448 H, membawa kita mendekati penghujung bulan Rabi’ul Akhir. Perjalanan waktu mengingatkan bahwa kehidupan senantiasa bergerak. Hari berganti, bulan berlalu, dan kesempatan beramal semakin berkurang. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa lama kita telah menjalani kehidupan, melainkan: Sudahkah perjalanan waktu menjadikan kita manusia yang lebih baik? Sudahkah ilmu yang kita pelajari meningkatkan kualitas akhlak? Sudahkah pengalaman yang kita miliki memperbaiki cara bekerja? Sudahkah amanah yang dipercayakan kepada kita menghasilkan pelayanan yang lebih baik? Dan sudahkah pengabdian kita memberikan manfaat yang lebih luas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia pendidikan memasuki minggu keenam perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.
Mahasiswa mulai menghadapi tuntutan pembelajaran yang semakin mendalam. Dosen dan guru terus mengembangkan strategi pendidikan. Tenaga kependidikan berupaya memperbaiki pelayanan. Para pemimpin lembaga dituntut memastikan bahwa kegiatan pendidikan benar-benar menghasilkan kompetensi, karakter, dan kebermanfaatan.
Di tengah aktivitas tersebut, terdapat kesenjangan yang perlu direnungkan bersama. Kita ingin berubah, tetapi terkadang enggan mengevaluasi diri. Kita ingin maju, tetapi belum selalu disiplin belajar. Kita menginginkan pelayanan berkualitas, tetapi belum sepenuhnya memperbaiki cara melayani. Kita mengharapkan pengabdian yang bermakna, tetapi kadang masih terlalu sibuk menghitung penghargaan yang akan diterima. Karena itulah, tema khutbah kita pada hari ini adalah: “BERUBAH DIRI, MENGUATKAN PENGABDIAN” Tema ini mengandung dua pesan utama. Pertama, perubahan dari dalam diri, melalui muhasabah, perbaikan akhlak, peningkatan kompetensi, dan pembaruan cara berpikir. Kedua, penguatan pengabdian, melalui pelayanan yang berkualitas, ketangguhan menghadapi tantangan, dan ketulusan menghadirkan manfaat. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Perubahan diri merupakan hulu, sedangkan pengabdian yang bermanfaat merupakan muaranya. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini mengajarkan pentingnya perubahan yang dimulai dari kesadaran dan tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri. Kita tidak cukup menunggu keadaan membaik tanpa melakukan ikhtiar. Kita tidak cukup berharap lembaga berkembang tanpa memperbaiki cara bekerja. Kita tidak cukup menginginkan pendidikan bermutu tanpa meningkatkan kualitas pembelajaran.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Perubahan yang kita harapkan dari lingkungan harus dimulai pula dari kesediaan memperbaiki diri. Namun, perubahan tersebut tidak berarti bahwa semua persoalan merupakan kesalahan individu. Perbaikan diri harus berjalan bersama pembenahan sistem, keadilan kebijakan, dan dukungan kelembagaan. Dari sinilah kita dapat mengambil empat ikhtiar utama. Yang perlu dimaknai bersama:
Pertama: Muhasabah Diri sebagai Pintu Perubahan; Perubahan tidak mungkin berlangsung dengan baik apabila seseorang tidak bersedia mengenali kekurangannya. Muhasabah merupakan kesediaan memeriksa kembali niat, perkataan, tindakan, dan tanggung jawab yang telah kita jalankan. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).
Ayat ini mengandung perintah untuk melihat kembali amal yang telah dilakukan dan mempersiapkan pertanggungjawaban pada masa mendatang. Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan, tetapi menjadi dasar untuk memperbaiki langkah. Bagi Pelajar dan mahasiswa, muhasabah berarti bertanya: Apakah saya benar-benar belajar, atau hanya menyelesaikan tugas?
Bagi dosen dan guru: Apakah pembelajaran saya telah membantu peserta didik memahami ilmu, membangun karakter, dan mengembangkan kemampuan? Bagi tenaga kependidikan: Apakah pelayanan saya telah memudahkan urusan orang lain, atau justru menambah kesulitan? Bagi pemimpin: Apakah keputusan yang saya ambil telah mencerminkan amanah, keadilan, dan kepedulian? Dan bagi kita semua: Apakah hari ini akhlak dan amal kita lebih baik daripada sebelumnya?Muhasabah yang benar tidak berhenti pada penyesalan. Ia harus dilanjutkan dengan taubat,
perbaikan sikap, dan tindakan nyata. Kita belajar mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Kita belajar menerima nasihat tanpa merasa direndahkan. Kita belajar memperbaiki kekurangan tanpa menunggu orang lain berubah terlebih dahulu. Orang yang bersedia mengevaluasi dirinya telah membuka pintu menuju perubahan yang bermakna.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Kedua: Meningkatkan Kompetensi dan Karakter sebagai Bekal Pengabdian; Perubahan diri bukan hanya persoalan meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi juga meningkatkan kualitas pengetahuan, keterampilan, dan akhlak. Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Ayat tersebut mengingatkan kita akan kemuliaan iman dan ilmu. Namun, kemuliaan ilmu juga mengandung tanggung jawab. Semakin bertambah pengetahuan, semestinya semakin baik pula perilaku. Semakin meningkat keterampilan, semestinya semakin berkualitas pekerjaan. Semakin tinggi kedudukan, semestinya semakin besar kesediaan melayani. Ilmu tidak seharusnya melahirkan kesombongan. Kompetensi tidak seharusnya menjadi alat merendahkan orang lain. Jabatan tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari masyarakat. Rasulullah Saw. mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah).
Perhatikanlah, jamaah sekalian. Rasulullah Saw. mengajarkan kita memohon عِلْمًا نَافِعًا — ilmu yang bermanfaat. Bukan hanya ilmu yang banyak. Bukan hanya ilmu yang mendatangkan pengakuan. Melainkan ilmu yang membimbing kehidupan dan melahirkan amal kebaikan.
Dalam konteks pendidikan, pesan ini sangat penting. Memasuki minggu keenam perkuliahan, mahasiswa perlu mengubah orientasi belajar dari sekadar mengejar nilai menuju penguasaan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dosen dan guru perlu memperkuat pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir, berkarya, dan berakhlak.
Dalam pendekatan Outcome-Based Education atau pendidikan berbasis capaian, keberhasilan pembelajaran diukur melalui kemampuan yang benar-benar dapat ditunjukkan peserta didik.Akan tetapi, sebagai insan beriman, kita perlu melangkah lebih jauh. Bukan hanya bertanya, “Apa yang mampu saya lakukan?”, tetapi juga, “Untuk siapa kemampuan itu saya gunakan?”
Ilmu pendidikan harus memperbaiki pembelajaran. Ilmu manajemen harus memperbaiki tata kelola. Teknologi harus memudahkan pelayanan. Penelitian harus membantu menjawab persoalan. Tulisan harus menyebarkan pengetahuan dan pencerahan. Dan seluruh kompetensi hendaknya menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan. Disinilah kompetensi menunjukkan kemampuan seseorang, sedangkan pengabdian menunjukkan arah dan manfaat kemampuan tersebut.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ketiga: Mengubah Pola Pikir dari Kepentingan Diri Menuju Pelayanan; Salah satu perubahan yang paling mendasar adalah perubahan pola pikir. Dari pertanyaan: “Apa yang dapat saya peroleh?” Menuju pertanyaan: “Apa yang dapat saya berikan?” Dari orientasi yang hanya mengejar keuntungan pribadi menuju orientasi yang lebih luas, yakni pelayanan, kepedulian, dan kebermanfaatan. Allah Swt. berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin….” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa pekerjaan dan amal manusia memiliki dimensi pertanggungjawaban. Pekerjaan bukan hanya urusan memenuhi kewajiban administratif. Pekerjaan juga dapat menjadi jalan ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberikan fondasi penting bagi pengabdian. Dua orang dapat mengerjakan tugas yang sama, tetapi nilai amalnya dapat berbeda karena niat dan cara pelaksanaannya. Seorang guru dapat mengajar sekadar menuntaskan jam pelajaran. Namun, ia juga dapat mengajar dengan niat membimbing peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.
Seorang tenaga kependidikan dapat melayani sekadar menyelesaikan dokumen. Namun, ia juga dapat bekerja dengan kesadaran bahwa kemudahan pelayanan merupakan bagian dari amanah. Seorang pemimpin dapat menjalankan jabatan demi mempertahankan kedudukan. Namun, ia juga dapat menggunakan kewenangannya untuk memperbaiki sistem dan membantu masyarakat. Di sinilah perubahan pola pikir memperoleh maknanya. Pengabdian yang kuat bukan hanya bekerja lebih banyak, melainkan bekerja dengan niat lebih tulus, cara lebih baik, dan tujuan lebih bermanfaat.
Ketulusan tidak berarti mengabaikan hak atas kesejahteraan, perlindungan profesi, atau lingkungan kerja yang layak. Justru pengabdian yang berkualitas memerlukan keseimbangan antara tanggung jawab pribadi dan dukungan kelembagaan. Guru perlu terus meningkatkan profesionalisme, sementara lembaga dan pemangku kebijakan berkewajiban menghadirkan dukungan yang memungkinkan guru menjalankan tugasnya dengan baik. Karena itu, perubahan diri harus diiringi perbaikan lingkungan pelayanan. Kita memperbaiki manusianya, sekaligus memperbaiki sistem yang mendukung pengabdiannya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Keempat: Istiqamah dan Ketulusan sebagai Kekuatan Pengabdian; Perubahan yang dimulai dengan semangat besar belum tentu bertahan apabila tidak disertai ketekunan dan istiqamah. Banyak orang memiliki niat baik, tetapi berhenti ketika menghadapi kesulitan. Banyak orang memulai pekerjaan dengan antusias, tetapi kehilangan semangat ketika hasil belum terlihat. Banyak pula orang ingin memberikan manfaat, tetapi merasa lelah ketika pengabdiannya kurang mendapatkan apresiasi. Karena itulah, pengabdian membutuhkan ketangguhan. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 13).
Istiqamah mengajarkan keteguhan dalam menjalankan kebaikan. Bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan. Bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Melainkan tetap berusaha berada di jalan yang benar, sekalipun keadaan tidak selalu mudah. Rasulullah Saw. bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa keberlanjutan amal memiliki kedudukan penting. Perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil. Membiasakan membaca setiap hari. Membiasakan hadir tepat waktu. Membiasakan menyelesaikan amanah. Membiasakan mendengarkan orang lain. Membiasakan berkata jujur. Membiasakan memberikan pelayanan yang ramah. Membiasakan membantu tanpa menunggu pujian. Pembiasaan yang dijalankan dengan kesungguhan akan membentuk karakter. Karakter yang baik memperkuat integritas. Integritas melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan menjadi modal penting dalam pelayanan serta pengabdian. Disinilah Pengabdian bukan hanya tentang seberapa besar pekerjaan yang kita lakukan hari ini, tetapi juga seberapa konsisten kita menghadirkan kebaikan dari waktu ke waktu.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Dari empat pokok tersebut, kita menemukan hubungan yang saling menguatkan: Muhasabah melahirkan kesadaran. Kesadaran mendorong perubahan diri. Perubahan diri memperkuat kompetensi dan karakter. Kompetensi yang disertai keikhlasan meningkatkan kualitas pelayanan. Pelayanan yang istiqamah melahirkan pengabdian yang bermanfaat.
Namun, perjalanan tersebut tidak berhenti di sana. Pengabdian menghadirkan pengalaman baru. Pengalaman melahirkan pelajaran. Pelajaran mengajak kita kembali bermuhasabah. Dengan demikian, perubahan diri dan pengabdian membentuk proses yang berkelanjutan. Belajar → mengevaluasi → memperbaiki → meningkatkan kompetensi → mengamalkan → melayani → mengevaluasi kembali. Inilah siklus perubahan yang semestinya hidup dalam diri seorang mukmin.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Menjelang berakhirnya Rabi’ul Akhir, marilah kita mengambil pelajaran dari perjalanan waktu. Jangan menunggu datangnya bulan baru untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu jabatan lebih tinggi untuk mulai melayani. Jangan menunggu ilmu menjadi sempurna untuk membagikan pengetahuan yang benar dan bermanfaat sesuai kemampuan. Jangan menunggu mendapatkan penghargaan untuk menjalankan amanah dengan baik.
Bagi mahasiswa, jadikan minggu keenam perkuliahan sebagai kesempatan memperkuat disiplin, meningkatkan pemahaman, dan memperbaiki pembiasaan belajar. Bagi dosen dan guru, jadikan setiap pertemuan pembelajaran sebagai kesempatan membangun ilmu, adab, kompetensi, dan karakter peserta didik. Bagi tenaga kependidikan, jadikan pelayanan yang mudah, ramah, tepat, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari ibadah. Bagi para pemimpin, jadikan kewenangan sebagai amanah untuk melindungi, membimbing, dan menghadirkan kemaslahatan. Dan bagi seluruh jamaah, marilah kita mengubah ukuran keberhasilan hidup.
Bukan hanya: “Berapa banyak yang telah saya miliki?” Tetapi juga: “Berapa banyak kebaikan yang telah saya berikan?”
Bukan hanya: “Seberapa tinggi kedudukan saya?” Tetapi: “Seberapa besar manfaat yang lahir dari amanah saya?”
Bukan hanya: “Sudahkah saya menjadi lebih baik?” Tetapi: “Sudahkah perubahan diri saya menjadikan pengabdian semakin bermanfaat?”
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Itulah pesan utama khutbah hari ini. Berubah diri berarti memperbaiki niat, akhlak, kompetensi, dan tanggung jawab. Menguatkan pengabdian berarti menggunakan seluruh perbaikan tersebut untuk menghadirkan pelayanan yang lebih berkualitas, tulus, dan berkelanjutan. Perubahan yang hanya berpusat pada diri sendiri dapat kehilangan tujuan sosialnya. Sebaliknya, pengabdian tanpa kesediaan memperbaiki diri dapat kehilangan kualitas dan daya tahannya. Maka, marilah kita menjadi manusia yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus berusaha memberikan manfaat.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bermuhasabah, istiqamah dalam kebaikan, bertambah ilmunya, semakin baik akhlaknya, serta semakin luas kebermanfaatan pengabdiannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Pada penghujung khutbah ini, marilah kita kembali mengingat bahwa perubahan diri dan pengabdian merupakan dua amanah yang saling berhubungan. Kita tidak dapat berharap memberikan pelayanan yang semakin baik apabila tidak bersedia meningkatkan kualitas diri. Sebaliknya, peningkatan ilmu, keterampilan, dan kedudukan tidak seharusnya berhenti menjadi kebanggaan pribadi tanpa menghasilkan manfaat bagi sesama. Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Swt. agar diberikan kemampuan untuk memperbaiki diri, menjaga keikhlasan, dan menjalankan amanah secara istiqamah.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Ampunilah segala dosa dan kekhilafan kami. Ampunilah kelalaian kami dalam menggunakan waktu. Ampunilah kesalahan kami dalam menunaikan amanah. Ampunilah kesombongan yang mungkin tumbuh ketika ilmu dan kedudukan kami bertambah.
Ya Allah, bukakan hati kami untuk menerima nasihat dan memperbaiki kekurangan; Anugerahkan kepada kami keberanian melakukan muhasabah, kejujuran mengakui kesalahan, dan keteguhan meninggalkan perilaku yang tidak baik. Jangan biarkan kami menjadi orang yang hanya pandai menasihati, tetapi enggan memperbaiki diri. Jangan biarkan kami menjadi orang yang banyak mengetahui kebaikan, tetapi sedikit mengamalkannya.
Ya Allah, jadikan perubahan diri kami sebagai jalan menuju pengabdian yang semakin berkualitas. Perbaikilah niat kami. Luruskanlah tujuan kami. Bimbinglah langkah kami. Jadikan ilmu kami bermanfaat, pekerjaan kami bernilai ibadah, dan pelayanan kami menghadirkan kemaslahatan.
Ya Allah, jauhkan kami dari kemalasan, keputusasaan, kesombongan, ketidakjujuran, dan sikap yang merugikan orang lain. Tanamkan dalam diri kami ketekunan, kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian. Ajarkan kami bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun tidak selalu memperoleh pujian. Ajarkan kami melayani dengan tulus meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Ajarkan kami tetap istiqamah meskipun hasil usaha belum segera terlihat.
Ya Allah, berkahilah perjalanan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 ini. Memasuki minggu keenam perkuliahan, anugerahkan kepada seluruh mahasiswa dan pencari ilmu semangat belajar yang tidak mudah padam. Jauhkan mereka dari kemalasan, penundaan pekerjaan, dan ketidakjujuran akademik. Tumbuhkan dalam diri mereka kegemaran membaca, meneliti, menulis, berdiskusi, dan mengembangkan kemampuan.Jadikan mereka generasi yang berilmu, beradab, berkarakter, tangguh, dan peduli terhadap kehidupan masyarakat.
Ya Allah, berkahilah para guru, dosen, ulama, peneliti, pustakawan, tenaga kependidikan, dan seluruh insan pendidikan. Anugerahkan kepada mereka kesehatan, keselamatan, perlindungan, kesejahteraan, kesabaran, serta kesempatan meningkatkan kompetensi. Jadikan pengajaran mereka sebagai amal jariah. Jadikan penelitian mereka sebagai jalan menemukan kemaslahatan. Jadikan tulisan mereka sebagai sarana pencerahan. Jadikan pelayanan mereka sebagai bentuk kepedulian. Dan jadikan pengabdian mereka sebagai kebaikan yang terus memberikan manfaat.
Ya Allah, berkahilah sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, dan seluruh lembaga pendidikan kami. Bimbinglah para pemimpinnya agar mampu menjalankan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan bertanggung jawab. Tumbuhkan budaya kerja yang saling menghormati, mendukung peningkatan kompetensi, dan memberikan pelayanan yang manusiawi. Jadikan pendidikan kami bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk manusia yang beriman, berakhlak, kompeten, mandiri, dan bermanfaat.
Ya Allah, berkahilah para pemimpin bangsa kami. Bimbinglah mereka agar setiap kebijakan menghadirkan keadilan, setiap kewenangan digunakan untuk melayani, dan setiap keputusan memperhatikan kemaslahatan masyarakat. Jauhkan mereka dari penyalahgunaan amanah dan sikap yang mengabaikan kebutuhan rakyat.
Ya Allah, jagalah negeri kami, Indonesia. Jadikan negeri kami aman, damai, bersatu, adil, makmur, dan penuh keberkahan. Jauhkan bangsa kami dari perpecahan, permusuhan, fitnah, kekerasan, dan ketidakadilan. Tumbuhkan semangat gotong royong, persaudaraan, kejujuran, dan kepedulian. Jadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan kemajuan, pendidikan sebagai jalan pembentukan karakter, dan pengabdian sebagai jalan menghadirkan kesejahteraan bersama.
Ya Allah, menjelang berakhirnya bulan Rabi’ul Akhir ini, berikanlah kepada kami kesempatan memperbaiki amal sebelum waktu berlalu. Jadikan hari-hari yang akan datang lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bimbinglah kami agar semakin bertambah usia, semakin meningkat ketakwaan; semakin bertambah ilmu, semakin baik akhlak; dan semakin besar amanah, semakin luas manfaat yang kami berikan.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwa kami dan sucikanlah jiwa kami. Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemeliharanya.
اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَحِكْمَةً، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا وَعَمَلَنَا صَالِحًا وَخِدْمَتَنَا مُبَارَكَةً.
Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan. Ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Tambahkanlah ilmu, pemahaman, dan kebijaksanaan kepada kami. Jadikan ilmu kami bermanfaat, amal kami saleh, dan pelayanan kami penuh keberkahan.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي النِّيَّاتِ، وَالصِّدْقَ فِي الْأَقْوَالِ، وَالْأَمَانَةَ فِي الْأَعْمَالِ، وَالثَّبَاتَ عَلَى الْخَيْرِ، وَالْإِحْسَانَ فِي خِدْمَةِ عِبَادِكَ.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami keikhlasan dalam niat, kejujuran dalam perkataan, amanah dalam pekerjaan, keteguhan dalam kebaikan, dan kesungguhan berbuat baik ketika melayani sesama hamba-Mu.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِطُلَّابِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَأَسَاتِذَتِنَا، وَوَفِّقْهُمْ فِي التَّعَلُّمِ وَالتَّعْلِيْمِ وَالْبَحْثِ وَخِدْمَةِ الْمُجْتَمَعِ، وَاجْعَلِ الْعِلْمَ فِي قُلُوْبِهِمْ نُوْرًا، وَفِي أَعْمَالِهِمْ هُدًى، وَفِي حَيَاتِهِمْ نَفْعًا وَبَرَكَةً.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَنْفُسَنَا وَأَخْلَاقَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَأَعِنَّا عَلَى مُحَاسَبَةِ أَنْفُسِنَا وَتَزْكِيَةِ قُلُوْبِنَا، وَاجْعَلْ تَغْيِيْرَنَا لِلْخَيْرِ سَبَبًا لِنَفْعِ عِبَادِكَ وَخِدْمَةِ خَلْقِكَ.
Ya Allah, perbaikilah diri, akhlak, dan amal kami. Bantulah kami mengevaluasi diri dan menyucikan hati. Jadikan perubahan kami menuju kebaikan sebagai jalan memberikan manfaat dan pelayanan kepada sesama.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مُتَّحِدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا مُزْدَهِرًا، وَافْتَحْ لَهَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالرَّحْمَةِ وَالْبَرَكَةِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.