Khutbah Jum’at 06 Rabi’ul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M: Merawat Istiqamah, Memanjangkan Usia Manfaat Ilmu Dan Pengabdian Di Bulan Rabiul Akhir

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَهَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَمَرَنَا بِالِاسْتِقَامَةِ فِي الطَّاعَةِ وَالْخَيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang terus dianugerahkan kepada kita: nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, ilmu, pekerjaan, serta kemampuan untuk terus belajar dan memberikan manfaat kepada sesama.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti petunjuk dan meneladani akhlak beliau hingga akhir zaman.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya kesungguhan memulai kebaikan, tetapi juga kemampuan merawat kebaikan agar tetap hidup dalam perjalanan waktu. Sebab tidak sedikit orang mampu memulai dengan semangat, tetapi tidak semuanya mampu melanjutkan dengan istiqamah.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Hari Jum’at, 18 September 2026, membawa kita memasuki bulan Rabi’ul Akhir 1448 H. Pergantian dari Rabi’ul Awal menuju Rabi’ul Akhir mengandung pelajaran penting. Jika Rabi’ul Awal menghidupkan kembali kecintaan dan kerinduan kita kepada Rasulullah Saw., maka Rabi’ul Akhir seharusnya menjadi ruang pembuktian: apakah kecintaan itu mampu bertahan ketika momentum peringatannya telah berlalu?

Cinta kepada Rasulullah Saw. tidak semestinya berakhir bersama berakhirnya rangkaian peringatan Maulid. Justru setelah momentum peringatan berlalu, cinta itu memperoleh pembuktiannya melalui ittibā’, yakni mengikuti jalan dan keteladanan Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31).

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta tidak berhenti pada perasaan dan ungkapan, tetapi menuntut ittibā’—mengikuti Rasulullah Saw. dalam kehidupan nyata. Karena itu, kecintaan yang tumbuh dan dikuatkan pada bulan Rabi’ul Awal perlu diteruskan pada Rabi’ul Akhir dan bulan-bulan berikutnya melalui keteladanan yang istiqamah.

Rasulullah Saw. juga bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka cinta kepada Rasulullah Saw. bukanlah cinta yang bersifat musiman. Rabi’ul Awal boleh berakhir, tetapi cinta kepada Rasul tidak berakhir; peringatan Maulid boleh selesai, tetapi keteladanan tidak boleh selesai. Cinta itu harus dilanjutkan menjadi pembiasaan berbuat baik, kesungguhan belajar, kejujuran bekerja, kesabaran mendidik, ketekunan menghasilkan karya, serta ketulusan mengabdikan ilmu bagi kemaslahatan umat. Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw. juga bersabda:

وَمَنْ أَحَبَّ سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِيَ فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa mencintai sunnahku, sungguh ia telah mencintaiku; dan barang siapa mencintaiku, ia akan bersamaku di surga.” (HR. at-Tirmidzi).

Riwayat terakhir ini dinilai berbeda oleh para ahli hadis. At-Tirmidzi menyebut jalurnya ḥasan gharīb, dan Ibn Hajar menilainya ḥasan, sementara sebagian ahli hadis lain melemahkan jalurnya. Karena itu, kandungan maknanya dapat menjadi penguat, sedangkan landasan utamanya tetap ayat Al-Qur’an dan hadis sahih di atas.

Dengan demikian, ukuran cinta kepada Rasulullah bukan hanya seberapa meriah kita mengenang kelahirannya, tetapi seberapa istiqamah kita menghidupkan keteladanannya setelah momentum peringatan berlalu. Di sinilah Rabi’ul Akhir memperoleh maknanya: dari mengenang menuju meneladani, dari mencintai menuju mengikuti, dan dari semangat menuju istiqamah,

Momentum ini juga bertepatan dengan dimulainya perjalanan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Di lingkungan perguruan tinggi, aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat kembali bergerak. Dosen mengajar dan membimbing. Mahasiswa belajar, berdiskusi, dan mengerjakan tugas. Penelitian dirancang dan dilaksanakan. Pengabdian kepada masyarakat dipersiapkan. Seluruhnya menjadi bagian dari amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pelaksanaannya tidak berhenti pada aktivitas, tetapi juga menuntut tanggung jawab dan pertanggungjawaban kinerja secara berkala.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Karena itu, persoalan kita bukan hanya bagaimana memulai pekerjaan dengan semangat, tetapi bagaimana menjaga agar semangat berubah menjadi konsistensi; konsistensi menjadi karya; karya melahirkan manfaat; dan manfaat itu tetap hidup bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.

Inilah makna tema khutbah kita: “Merawat Istiqamah, Memanjangkan Usia Manfaat Ilmu dan Pengabdian di Bulan Rabiul Akhir.” Dari itu semua, setidaknya terdapat empat ikhtiar yang perlu kita renungkan bersama:

Pertama: Merawat Istiqamah sebagai Fondasi Kemuliaan; Istiqamah merupakan kemampuan untuk tetap berada di jalan kebaikan setelah seseorang memutuskan untuk beriman dan beramal. Sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi RA pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang tidak akan kutanyakan lagi kepada siapa pun selain engkau.” Rasulullah Saw. menjawab:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim).

Hadis ini sangat singkat, tetapi mengandung perjalanan hidup yang sangat panjang. Iman tidak cukup hanya dinyatakan. Iman harus dipelihara melalui istiqamah. Allah Swt. juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fuṣṣilat [41]: 30).

Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kelelahan. Istiqamah juga bukan berarti perjalanan selalu mudah. Istiqamah adalah kesediaan untuk kembali kepada arah yang benar setiap kali semangat melemah.

Karena itu, istiqamah memerlukan tajdidun niyyah, pembaruan niat. Kita perlu berulang kali bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa pekerjaan ini dilakukan? Untuk apa ilmu ini dipelajari? Untuk apa jabatan dijalankan? Untuk apa karya dihasilkan? Ketika jawabannya kembali kepada rida Allah dan kemanfaatan bagi sesama, pekerjaan yang tampaknya biasa dapat berubah menjadi ibadah.

Istiqamah juga memerlukan bī’ah ṣāliḥah, lingkungan yang baik: keluarga, sahabat, komunitas akademik, dan lingkungan kerja yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Dan di atas semuanya, istiqamah memerlukan doa, sebab hati manusia mudah berubah dan hanya Allah yang mampu meneguhkannya.

Jamaah yang Dirahmati Allah, 

Kedua: Istiqamah Mengubah Semangat Menjadi Pembiasaan; Semangat sangat penting, tetapi semangat mempunyai sifat naik dan turun. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membangkitkan semangat. Pendidikan harus mengubah semangat menjadi pembiasaan yang baik.

Pada awal semester, mahasiswa mungkin bersemangat membeli buku, membuka bahan ajar, mengikuti perkuliahan, dan mengerjakan tugas. Para dosen pun menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan materi, penelitian, publikasi, dan pengabdian. Namun ukuran keberhasilan bukan hanya apa yang dilakukan pada minggu pertama atau kedua. Ukurannya adalah: apakah kebaikan itu tetap dilakukan pada minggu ketiga, keempat, pertengahan semester, hingga semester berakhir? Rasulullah Saw. bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan akademik dan kehidupan sehari-hari. Membaca sepuluh halaman setiap hari secara konsisten dapat lebih membentuk kemampuan daripada membaca ratusan halaman hanya ketika ujian mendekat. Menulis sedikit demi sedikit secara teratur dapat menghasilkan buku. Penelitian yang dikerjakan secara bertahap dapat menghasilkan pengetahuan. Pengabdian yang dilakukan terus-menerus dapat membangun perubahan sosial.

Maka jangan meremehkan langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah. Kebaikan besar sering kali bukan lahir dari satu tindakan luar biasa, melainkan dari tindakan-tindakan sederhana yang tidak berhenti dilakukan.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Ketiga: Memanjangkan Usia Manfaat Ilmu; Setiap manusia memiliki umur biologis yang terbatas. Akan datang waktunya ketika tubuh melemah, pekerjaan harus diserahkan kepada generasi berikutnya, jabatan berakhir, dan akhirnya manusia kembali menghadap Allah Swt. Tetapi Islam memberikan kemungkinan lain: usia manusia terbatas, tetapi usia manfaatnya tidak harus terbatas. Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah ungkapan عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ — ilmu yang dimanfaatkan. Bukan sekadar ilmu yang diketahui, bukan sekadar gelar yang diperoleh, bukan pula sekadar buku yang dimiliki. Yang dapat memperpanjang aliran pahala adalah ilmu yang benar-benar memberikan manfaat.

Selanjutnya, Bagaimana memanjangkan usia manfaat ilmu?  Ilmu perlu diajarkan. Seorang guru mungkin hanya mengajar satu generasi secara langsung, tetapi muridnya akan mengajarkan kembali kepada generasi berikutnya.

Ilmu perlu ditulis dan didokumentasikan. Lisan berhenti ketika seseorang meninggalkan majelis, tetapi tulisan dapat melintasi ruang dan waktu. Para ulama terdahulu telah wafat ratusan tahun lalu, tetapi kitab-kitab mereka masih dibaca, dikaji, diajarkan, dan menjadi petunjuk bagi jutaan manusia.

Pada zaman digital, kesempatan memperpanjang usia manfaat ilmu bahkan semakin terbuka. Buku, artikel ilmiah, modul pembelajaran, video pendidikan, perpustakaan digital, repositori, dan berbagai media dapat membawa ilmu menjangkau orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan penulis atau pengajarnya.

Namun teknologi hanyalah alat. Nilai utamanya tetap sama: apakah ilmu yang kita tinggalkan benar, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi manusia?

Ilmu juga perlu dilembagakan. Ketika pengetahuan menjadi sistem pendidikan, perpustakaan, pusat kajian, majelis taklim, komunitas belajar, atau lembaga sosial, manfaatnya tidak lagi bergantung kepada satu orang. Ia menjadi gerakan yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Di sinilah kita memahami bahwa menulis, mengajar, membimbing, meneliti, dan membangun lembaga bukan sekadar pekerjaan administratif. Semuanya dapat menjadi ikhtiar memanjangkan usia manfaat ilmu.

Jamaah yang Dirahmati Allah, 

Keempat: Pengabdian yang Berkelanjutan sebagai Buah Ilmu; Ilmu tidak semestinya berhenti di kepala. Ilmu harus turun ke hati menjadi kebijaksanaan dan takwa, kemudian bergerak melalui tangan menjadi karya dan pengabdian. Allah Swt. berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, demikian pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu memiliki konsekuensi amal. Pengetahuan melahirkan tanggung jawab. Di perguruan tinggi, semangat itu menemukan ruangnya dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya jangan dipahami sebagai tiga pekerjaan yang terpisah. Pendidikan menghasilkan dan mentransmisikan ilmu. Penelitian mengembangkan dan menguji ilmu. Pengabdian membawa ilmu bertemu dengan persoalan nyata masyarakat.

Dengan demikian, ilmu yang dipelajari di ruang kuliah seharusnya bergerak menuju penelitian; penelitian melahirkan pengetahuan dan solusi; kemudian pengetahuan kembali kepada masyarakat melalui pengabdian.

Bagi mahasiswa, pengabdian dapat dimulai dari kemampuan sederhana: membantu teman belajar, menulis informasi yang mencerahkan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghadirkan solusi bagi lingkungan.

Bagi dosen, guru, dan pendidik, begitu juga mahasiswam pengabdian hadir melalui ketulusan belajar dan mengajar, kesabaran membimbing, kesungguhan meneliti, keberanian menulis, dan kemauan membawa hasil keilmuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Bagi siapa pun, pengabdian berarti kesediaan menjadi khādimul ummah, pelayan umat. Bukan mempertanyakan terus-menerus, “Apa yang akan saya peroleh?”, melainkan mulai bertanya, “Manfaat apa yang dapat saya tinggalkan?”

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Dari empat pokok tersebut kita menemukan satu rangkaian yang saling berhubungan. Rabi’ul Awal membangkitkan cinta. Rabi’ul Akhir menguji keberlanjutannya. Cinta melahirkan keteladanan. Keteladanan membutuhkan istiqamah. Istiqamah membentuk pembiasaan. Pembiasaan melahirkan karya. Karya memperpanjang usia manfaat ilmu. Dan ilmu menemukan kemuliaannya ketika menjadi pengabdian. Maka jangan hanya bertanya berapa panjang usia yang Allah berikan kepada kita. Bertanyalah pula: seberapa panjang usia manfaat yang dapat kita tinggalkan?

Jabatan akan berakhir. Masa kerja akan selesai. Semester akan berganti. Tubuh akan menua. Bahkan nama kita suatu saat mungkin tidak lagi dikenal manusia. Tetapi selama ilmu yang kita ajarkan masih diamalkan, tulisan masih dibaca, peserta didik masih menyebarkan kebaikan, lembaga yang kita bangun masih melayani masyarakat, dan karya kita masih menghadirkan kemaslahatan, insyaallah jejak manfaat itu belum berhenti.

Karena itu, memasuki Rabi’ul Akhir ini marilah kita bergerak dari semangat menuju istiqamah, dari istiqamah menuju pembiasaan, dari pembiasaan menuju karya, dari karya menuju manfaat, dan dari manfaat menuju pengabdian yang berkelanjutan.

Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya manusia yang panjang umur, tetapi manusia yang panjang usia manfaatnya; bukan hanya manusia yang banyak mengetahui, tetapi manusia yang ilmunya menerangi; bukan hanya manusia yang selesai menjalankan tugas, tetapi manusia yang meninggalkan jejak pengabdian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati seraya memohon kepada Allah Swt. agar kita diberi kekuatan bukan hanya untuk memulai kebaikan, tetapi juga untuk menjaganya; bukan hanya memperoleh ilmu, tetapi mengamalkannya; bukan hanya menghasilkan karya, tetapi menjadikannya jalan pengabdian.

Ya Allah, teguhkan hati kami dalam iman dan ketaatan. Karuniakan kepada kami istiqamah dalam ibadah, belajar, bekerja, mendidik, meneliti, menulis, berkarya, dan mengabdi.

Ya Allah, ketika semangat kami melemah, kuatkanlah. Ketika niat kami berubah, luruskanlah. Ketika perjalanan terasa berat, sabarkanlah. Jangan Engkau biarkan kami menjadi orang yang bersemangat memulai kebaikan tetapi mudah meninggalkannya.

Ya Allah, berkahilah Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 ini. Jadikan ruang-ruang pendidikan sebagai tempat bertumbuhnya ilmu, iman, adab, kompetensi, kreativitas, kejujuran, tanggung jawab, dan kemanfaatan.

Ya Allah, berkahilah para mahasiswa dan seluruh pencari ilmu. Jadikan mereka pembelajar yang tekun, jujur, kritis, kreatif, santun, dan bertanggung jawab. Bimbing mereka agar mampu bergerak dari materi menuju kompetensi, dari tugas menuju karya, dari karya menuju manfaat, dan dari manfaat menuju pengabdian.

Ya Allah, berkahilah para dosen, guru, pendidik, peneliti, pustakawan, tenaga kependidikan, dan seluruh orang yang mengabdikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan. Luaskan ilmu mereka, ikhlaskan niat mereka, mudahkan pekerjaan mereka, dan jadikan ilmu serta karya mereka sebagai amal jariyah.

Ya Allah, berkahilah pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang kami lakukan. Jauhkan kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, pekerjaan yang kehilangan keikhlasan, karya yang tidak membawa kemaslahatan, dan kesibukan yang menjauhkan kami dari-Mu.

Ya Allah, panjangkanlah usia manfaat ilmu kami. Jika suatu hari lisan kami tidak lagi mampu mengajar, biarkan tulisan kami terus berbicara. Jika tangan kami tidak lagi mampu bekerja, biarkan karya kami terus memberi manfaat. Jika langkah kami telah berhenti, jadikan ilmu yang pernah kami ajarkan terus berjalan melalui generasi setelah kami.

Ya Allah, jadikan kami khādimul ummah, orang-orang yang ikhlas melayani dan memberikan manfaat kepada umat. Berikan kepada kami kemampuan menggunakan ilmu, jabatan, pekerjaan, harta, waktu, dan kesempatan sebagai jalan mendekat kepada-Mu.

Ya Allah, berkahilah para ulama, guru, dosen, mahasiswa, santri, pelajar, orang tua, dan seluruh masyarakat kami. Karuniakan kepada para pemimpin kami kekuatan menjalankan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat.

Ya Allah, jagalah Indonesia sebagai negeri yang aman, damai, bersatu, maju, adil, makmur, berkeadaban, dan penuh keberkahan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَوَفِّقْنَا لِلِاسْتِقَامَةِ فِي الطَّاعَةِ وَالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالْخِدْمَةِ.

اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَحِكْمَةً، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا وَعَمَلَنَا صَالِحًا وَخِدْمَتَنَا مُبَارَكَةً.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا صَدَقَةً جَارِيَةً، وَأَعْمَالَنَا نَافِعَةً، وَآثَارَنَا طَيِّبَةً، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيْحَ لِلْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ وَالنَّفْعِ لِعِبَادِكَ.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِطُلَّابِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَأَسَاتِذَتِنَا، وَوَفِّقْهُمْ فِي التَّعَلُّمِ وَالتَّعْلِيْمِ وَالْبَحْثِ وَخِدْمَةِ الْمُجْتَمَعِ، وَاجْعَلِ الْعِلْمَ فِي قُلُوْبِهِمْ نُوْرًا، وَفِي أَعْمَالِهِمْ هُدًى، وَفِي حَيَاتِهِمْ نَفْعًا وَبَرَكَةً.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مُتَّحِدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا مُزْدَهِرًا، وَافْتَحْ لَهَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالرَّحْمَةِ وَالْبَرَكَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *