Khutbah Jum’at 29 Rabi’ul Awal 1448 H / 11 September 2026 M: Maulid Menjelang Akhir, Semangat Belajar Jangan Berakhir: Dari Cinta Rasul Menuju Ilmu dan Pengabdian

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ مُعَلِّمًا وَمُرَبِّيًا وَرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, serta ilmu pengetahuan. Pada hari Jum’at, 29 Rabi’ul Awal 1448 H bertepatan dengan 11 September 2026 M, kita berada di penghujung bulan yang mengingatkan umat Islam kepada kelahiran dan keteladanan Nabi Muhammad Saw. Rabi’ul Awal segera meninggalkan kita. Namun, semestinya kecintaan dan semangat meneladani Rasulullah tidak ikut meninggalkan kehidupan kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta seluruh umat yang istiqamah mengikuti petunjuk dan meneladani akhlak beliau hingga akhir zaman.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kesungguhan mencari ilmu, kejujuran menjalankan pekerjaan, ketulusan membimbing sesama, dan kesediaan menggunakan kemampuan untuk menghadirkan manfaat.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Penghujung Rabi’ul Awal tahun ini bertepatan dengan minggu kedua perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Ruang kuliah telah kembali hidup. Mahasiswa mulai membaca, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan berhadapan dengan berbagai tuntutan akademik. Para dosen kembali menjalankan amanah mengajar, membimbing, menilai, dan mengembangkan proses pembelajaran.

Minggu pertama mungkin masih dipenuhi semangat baru. Memasuki minggu kedua, pertanyaannya mulai berubah: apakah semangat itu mampu dipelihara? Demikian pula dengan Maulid. Ketika berbagai kegiatan peringatan mulai berakhir, pertanyaannya bukan lagi seberapa meriah kita memperingatinya, tetapi seberapa kuat keteladanan Rasulullah hidup setelah peringatan berlalu.

Inilah makna tema khutbah kita: “Dari Cinta Rasul Menuju Semangat Belajar dan Mengabdi.” Cinta kepada Rasulullah Saw. tidak cukup diungkapkan melalui lisan. Cinta perlu bergerak menjadi keteladanan, keteladanan menggerakkan semangat belajar, ilmu mendorong lahirnya karya, dan karya menemukan kemuliaannya ketika memberikan manfaat. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).

Ayat ini juga menjadi dasar utama pada templat khutbah sebelumnya untuk menempatkan Rasulullah Saw. sebagai teladan dalam kehidupan, termasuk dalam pengembangan ilmu dan pendidikan.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Pada penghujung Rabi’ul Awal dan memasuki minggu kedua perkuliahan ini, setidaknya terdapat empat ikhtiar untuk mengubah cinta Rasul menjadi semangat belajar dan pengabdian:  

Pertama: Cinta Rasul Harus Melahirkan Keteladanan; Mencintai Rasulullah Saw. bukan hanya mengingat kelahiran beliau, memperbanyak salawat, atau menghadiri kegiatan Maulid. Semua itu baik, tetapi cinta memperoleh kedalaman ketika mendorong seseorang mengikuti nilai-nilai yang dicontohkan beliau. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ayat ini menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak berhenti pada ungkapan lisan dan perasaan, tetapi perlu berlanjut menjadi ittiba’, yakni kesediaan mengikuti dan meneladani beliau dalam kehidupan nyata. Rasulullah Saw. adalah teladan dalam kejujuran, amanah, kecerdasan, kesabaran, kepedulian, dan kesungguhan membangun manusia. Karena itu, cinta Rasul perlu tampak pada perubahan perilaku.

Bagi mahasiswa, keteladanan dapat diwujudkan dengan belajar secara jujur, menghargai waktu, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, menghormati guru dan teman, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Memasuki minggu kedua perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, nilai keteladanan itu semestinya mulai terlihat bukan hanya dalam kehadiran di ruang kuliah, tetapi juga dalam disiplin, kesungguhan belajar, dan kualitas karya.

Bagi dosen dan pengajar, cinta Rasul tercermin dalam ketulusan membimbing, keadilan memberikan penilaian, kesediaan untuk terus belajar, serta kemampuan menjadi contoh melalui perilaku. Pendidikan akan memperoleh maknanya ketika ilmu yang diajarkan berjalan seiring dengan keteladanan orang yang mengajarkannya.

Cinta yang hanya disimpan dalam perasaan mudah berhenti sebagai kekaguman. Cinta yang melahirkan keteladanan akan mengubah kehidupan. Karena itu, penghujung Rabi’ul Awal hendaknya bukan menjadi akhir dari semangat Maulid, melainkan awal untuk membawa teladan Rasulullah Saw. ke ruang kuliah, ruang kerja, kehidupan keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Kedua: Cinta Rasul Harus Menyalakan Semangat Belajar; Salah satu pesan terbesar yang mengiringi risalah Nabi Muhammad Saw. adalah pentingnya ilmu. Wahyu pertama dimulai dengan perintah:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1).

Dalam templat khutbah sebelumnya, iqra’ dimaknai bukan hanya mengenali tulisan, tetapi juga memahami realitas, mengamati perubahan, berpikir kritis, serta mencari makna dan solusi.

Pesan tersebut sangat penting bagi kehidupan akademik. Kuliah jangan hanya menjadi rutinitas hadir di kelas, mencatat materi, mengumpulkan tugas, mengikuti ujian, kemudian mengejar nilai dan gelar. Pendidikan harus mengubah manusia.

Memasuki minggu kedua perkuliahan, mahasiswa perlu mulai bergerak dari sekadar beradaptasi menuju kesungguhan belajar. Membaca perlu menjadi kebiasaan. Bertanya perlu tumbuh menjadi keberanian intelektual. Diskusi harus mengembangkan kemampuan berpikir. Tugas harus menjadi latihan kompetensi.

Demikian pula dosen. Mengajar tidak cukup hanya menguasai materi. Pengajar juga harus terus membaca, memperbarui pengetahuan, memahami perkembangan teknologi, serta menemukan cara agar pembelajaran semakin bermakna.

Dengan demikian, belajar bukan pekerjaan mahasiswa saja. Pengajar pun adalah pembelajar sepanjang hayat.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Ketiga: Ilmu Harus Bergerak Menjadi Karya dan Kemanfaatan; Pengetahuan akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya tersimpan dalam pikiran, buku, dokumen, atau ruang kelas. Ilmu perlu bergerak menjadi amal, karya, dan kemanfaatan. Allah SWT berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat ini mengingatkan bahwa pengetahuan dan keimanan perlu memperoleh bentuk nyata dalam amal dan karya. Apa yang dipahami tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan; ia perlu diwujudkan menjadi tindakan yang baik dan memberi manfaat bagi kehidupan. Rasulullah Saw. juga mengajarkan pentingnya ilmu yang terus memberikan manfaat. Beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah, jamaah sekalian. Rasulullah Saw. tidak sekadar menyebut ilmu, tetapi عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ — ilmu yang dimanfaatkan. Di sinilah pendidikan menemukan salah satu tujuan mulianya: ilmu harus menghadirkan kemaslahatan.

Di perguruan tinggi, tugas mahasiswa seharusnya tidak selalu berakhir setelah dikumpulkan dan memperoleh nilai. Tugas dapat dikembangkan menjadi tulisan, penelitian, media pembelajaran, gagasan, inovasi, atau karya yang dapat dimanfaatkan orang lain. Karena itulah, arah pendidikan perlu terus digerakkan “dari materi menuju kompetensi, dari tugas menuju karya, dan dari ilmu menuju manfaat.”

Bagi dosen, ilmu juga perlu terus dibagikan melalui pengajaran, penelitian, tulisan, pembimbingan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang dibagikan secara benar tidak membuat pemiliknya kehilangan pengetahuan. Justru melalui dialog, kritik, penelitian, dan pengalaman, pengetahuan dapat semakin berkembang.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup ditandai oleh banyaknya materi yang selesai diajarkan atau tingginya nilai yang diperoleh. Pendidikan perlu menghasilkan kompetensi, karya, karakter, dan manfaat. Sebab pada akhirnya, kemuliaan ilmu bukan hanya terletak pada seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga pada seberapa jauh ilmu itu diamalkan, dikaryakan, dan dirasakan manfaatnya oleh sesama.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Keempat: Pengabdian Menjadi Bukti Keberlanjutan Cinta; Ilmu pada akhirnya membawa tanggung jawab. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula peluang sekaligus tanggung jawabnya untuk memberikan kontribusi dan kemanfaatan bagi sesama. Islam tidak mengajarkan ilmu berhenti pada pengetahuan, tetapi mendorongnya bergerak menjadi amal dan pengabdian. Allah SWT berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Artinya: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat ini mengingatkan bahwa kecintaan, keimanan, dan ilmu semestinya memiliki jejak dalam amal nyata. Apa yang diketahui harus mendorong seseorang untuk bekerja, berkarya, dan menghadirkan manfaat. Karena itu, pengabdian bukan sekadar kegiatan tambahan setelah belajar, melainkan salah satu buah dari ilmu yang telah Allah anugerahkan.

Pengabdian tidak selalu harus berupa pekerjaan besar. Seorang mahasiswa dapat mengabdi melalui ilmu yang dibagikan kepada teman, kegiatan sosial, tulisan yang mencerahkan, inovasi sederhana, atau kemampuan yang digunakan untuk membantu masyarakat. Seorang dosen mengabdi melalui ketulusan mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian yang relevan, menghasilkan karya, serta menghadirkan solusi bagi persoalan kehidupan. Semangat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani).

Inilah titik pertemuan antara cinta Rasul, ilmu, dan pengabdian. Cinta memberi arah. Belajar menumbuhkan kemampuan. Mengajar dan berkarya menyebarkan pengetahuan. Sedangkan pengabdian memperluas manfaat.

Maka jangan sampai semangat Maulid hanya kuat ketika Rabi’ul Awal datang, kemudian melemah ketika bulan berganti. Jangan pula semangat kuliah hanya tinggi pada minggu pertama, kemudian berkurang ketika tugas mulai berdatangan. Cinta Rasul yang sejati perlu dijaga melalui istiqamah belajar, kesungguhan berkarya, dan keberlanjutan mengabdi.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Penghujung Rabi’ul Awal memberi kita satu pelajaran penting: yang berakhir adalah bulannya, bukan keteladanannya; yang selesai adalah rangkaian peringatannya, bukan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Demikian pula perjalanan pendidikan. Kuliah bukan sekadar menyelesaikan satu semester. Ilmu bukan sekadar mengumpulkan nilai.

Gelar bukan titik akhir. Semua itu merupakan jalan untuk membangun kemampuan agar seseorang semakin mampu memberikan manfaat. Karena itu, mari kita bawa spirit Maulid memasuki hari-hari berikutnya. Cinta Rasul kita jaga melalui keteladanan. Keteladanan kita hidupkan melalui semangat belajar. Ilmu kita aktualisasikan melalui karya. Dan karya kita arahkan menjadi pengabdian.

Semoga mahasiswa kita menjadi pembelajar yang tekun, jujur, kritis, kreatif, dan berakhlak. Semoga para dosen dan guru menjadi pengajar yang terus belajar, ikhlas membimbing, adil, dan mampu memberikan keteladanan. Semoga lembaga pendidikan kita tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan manusia berilmu yang kehadirannya membawa manfaat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Pada penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan hati seraya memohon kepada Allah Swt. Semoga penghujung Rabi’ul Awal tidak menjadi penghujung kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. Jadikanlah kecintaan itu kekuatan untuk terus belajar, memperbaiki akhlak, menghasilkan karya, dan mengabdikan ilmu bagi kemaslahatan.

Ya Allah, jadikanlah para mahasiswa dan seluruh pencari ilmu sebagai pembelajar yang tekun, jujur, amanah, kritis, santun, dan bertanggung jawab. Berikan kepada mereka kekuatan untuk menjaga semangat belajar bukan hanya pada awal semester, tetapi hingga ilmu menjadi kemampuan dan kemampuan menjadi manfaat.

Ya Allah, karuniakan kepada para dosen, guru, pendidik, orang tua, dan pembimbing kesabaran, keluasan ilmu, ketulusan, keadilan, serta kebijaksanaan. Jadikan mereka teladan yang tidak pernah berhenti belajar dan tidak pernah lelah menumbuhkan generasi.

Ya Allah, berkahilah perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 ini. Jadikan ruang-ruang kuliah sebagai tempat bertumbuhnya ilmu, adab, kreativitas, tanggung jawab, dan kemanfaatan. Bimbinglah kami agar mampu bergerak dari materi menuju kompetensi, dari tugas menuju karya, dan dari ilmu menuju manfaat.

Ya Allah, jadikan ilmu yang kami pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat. Jadikan karya kami sebagai amal kebaikan. Jadikan pekerjaan dan profesi kami sebagai jalan pengabdian. Jauhkan kami dari kesombongan ilmu dan dari pengetahuan yang tidak membuahkan kemanfaatan.

Ya Allah, berkahilah para ulama, guru, dosen, mahasiswa, santri, pelajar, orang tua, serta seluruh masyarakat kami. Karuniakan kepada para pemimpin kami kekuatan untuk menjalankan amanah dengan jujur, adil, bijaksana, dan mengutamakan kemaslahatan rakyat.

Ya Allah, jagalah Indonesia sebagai negeri yang aman, damai, bersatu, maju, adil, makmur, berkeadaban, serta penuh keberkahan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَحِكْمَةً، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا وَعَمَلَنَا صَالِحًا وَأَخْلَاقَنَا كَرِيْمَةً.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِطُلَّابِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَأَسَاتِذَتِنَا، وَوَفِّقْهُمْ فِي التَّعَلُّمِ وَالتَّعْلِيْمِ، وَاجْعَلِ الْعِلْمَ فِي قُلُوْبِهِمْ نُوْرًا، وَفِي أَعْمَالِهِمْ هُدًى، وَفِي حَيَاتِهِمْ نَفْعًا وَبَرَكَةً.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مُتَّحِدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا مُزْدَهِرًا، وَافْتَحْ لَهَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالرَّحْمَةِ وَالْبَرَكَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *