Wawancara Eksekutif Ahad, 15 November 2025:19;45 dengan: Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru besar Manajemen Pendidikan; Anggotasenat/Prosesi Wisuda ke-105, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
”Wisuda bukan hanya upacara kelulusan. Ia merekam nilai, arah, dan panggilan zaman. Apa makna tema wisuda ke-105 UIN Bandung bagi generasi muda?:
Gelaran Wisuda ke-105 UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Sabtu, 15 November 2025, diikuti lebih dari 1.000 lulusan sarjana dan pascasarjana. Namun prosesi ini menghadirkan makna yang lebih luas daripada sekadar penyerahan ijazah. Tema “Mencetak Generasi Ulul Albab: Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Saing” hadir di tengah dinamika sosial yang penuh ketidakpastian—pergeseran dunia kerja, derasnya arus digitalisasi, menurunnya daya literasi, dan menguatnya kompetisi global.
Konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an merujuk pada sosok yang menggabungkan akal kritis, kedalaman spiritual, dan kemampuan membaca tanda zaman. Sementara itu, teori 21st Century Skills (Trilling & Fadel) menekankan tiga kompetensi utama: critical thinking, character, dan citizenship dalam ekosistem digital. Pendidikan modern juga menuntut model integrated character education (Lickona) yang menggabungkan moral knowing, moral feeling, dan moral action.
Pertemuan tiga teori ini membuat tema wisuda UIN Bandung menjadi relevan: ia menggabungkan kecerdasan intelektual, kecakapan digital, dan integritas moral. Gap utama pendidikan tinggi saat ini adalah terpisahnya antara kompetensi akademik dengan kesiapan mental dan akhlak generasi muda. Banyak lulusan pintar tetapi tidak tahan menghadapi tekanan sosial maupun disrupsi teknologi. Dengan mengusung tema Ulul Albab, UIN Bandung menegaskan bahwa pendidikan harus melampaui keterampilan teknis menuju pembentukan manusia utuh. Tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan media Bedanews: (1) esensi edukasi dari tema wisuda ke-105:
Pertama: Apa esensi edukasi dari tema wisuda UIN Bandung ke-105?; Esensi edukasi dari tema “Mencetak Generasi Ulul Albab: Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Saing” adalah upaya mengintegrasikan akal–akhlak–aksi dalam diri setiap lulusan. Ada tiga lapis nilai edukatif: 1) Penguatan akal sehat publik. Generasi Ulul Albab dituntut mampu berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Bukan sekadar menghafal, tetapi membaca realitas dan mengambil keputusan berbasis nalar dan etika; 2) Peneguhan karakter dan spiritualitas. Nilai akhlak menjadi jangkar identitas di tengah disrupsi digital yang kerap memutus relasi sosial dan moral. Lulusan diarahkan menjadi pribadi yang jujur, beretika, dan moderat; 3) Daya saing dalam dunia kerja berbasis teknologi. Tantangan ekonomi digital menuntut kemampuan literasi data, adaptasi teknologi, komunikasi lintas budaya, dan kolaborasi lintas ilmu. Tema ini menegaskan bahwa akhlak dan daya saing tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, esensinya bukan hanya mencetak lulusan “siap kerja”, tetapi “siap hidup” yakni siap berkontribusi di masyarakat dengan kecerdasan, kepribadian, dan kreativitas.
Kedua: Bagaimana konteks tema wisuda dengan Hari Pahlawan? Tema wisuda ke-105 beririsan kuat dengan semangat Hari Pahlawan bertajuk “Pahlawanku Teladanku; Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.” Keduanya menekankan kesinambungan perjuangan lintas generasi. Ada tiga hubungan kontekstual: 1) Pahlawan masa kini adalah mereka yang berilmu dan berintegritas. Jika pahlawan dahulu berjuang dengan senjata, pahlawan hari ini berjuang dengan ilmu, riset, teknologi, dan inovasi. Tema Ulul Albab menegaskan bahwa kecerdasan moral adalah modal utama kepahlawanan modern. Perjuangan tidak berhenti pada peringatan, tetapi keberlanjutan karya. Wisuda bukan akhir, tetapi amanah untuk melanjutkan perjuangan akademik menjadi kontribusi nyata di lapangan sosial. 2) Moderasi dan keteladanan menjadi nilai pengikat. Pahlawan mengajarkan keberanian; Ulul Albab mengajarkan kebijaksanaan. Pertemuan dua nilai ini sangat relevan untuk generasi yang hidup dalam polarisasi sosial dan arus informasi yang tak terkendali.
Ketiaga: Pesan moral apa yang dapat disampaikan kepada generasi muda? Ada tiga pesan moral yang dapat ditekankan: 1) Gunakan ilmu sebagai cahaya, bukan ornamen. Ijazah adalah simbol, namun ilmu adalah kompas. Generasi muda perlu memanfaatkan ilmu untuk memecahkan persoalan masyarakat, bukan sekadar menaikkan status sosial; 3) Bangun akhlak sebagai pondasi karakter. Dunia digital membuka peluang sekaligus jebakan. Integritas, kejujuran, dan empati harus menjadi panduan agar teknologi tidak menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan. 4) Jadilah generasi tangguh, adaptif, dan peduli. Daya saing global hanya bisa dicapai oleh mereka yang terus belajar, berkolaborasi, dan menjaga kepedulian sosial. Tangguh bukan berarti keras, tetapi mampu bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.
Tema wisuda ke-105 UIN Bandung merangkum tiga pilar utama: kecerdasan intelektual, integritas moral, dan kemampuan bersaing di tengah perubahan. Keterhubungannya dengan Hari Pahlawan memperkuat pesan bahwa generasi muda harus siap mengambil alih estafet perjuangan bangsa dalam bentuk baru: melalui ilmu dan karya. Rekomendasi: Pemerintah, kampus, dan dunia industri perlu memperkuat ekosistem pembelajaran yang integratif—ilmu, akhlak, teknologi, dan karakter—agar generasi Ulul Albab dapat terwujud secara nyata dan produktif.
Wisuda hanyalah awal, bukan purna. Generasi muda tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus berhikmah; tidak cukup hanya kompetitif, tetapi harus berkarakter. Di pundak merekalah masa depan bangsa digantungkan—mereka yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing, sebagaimana amanat tema wisuda UIN Bandung ke-105.
