Wawancara Eksekutif Ahad, 16 November 2025:20;35 dengan: Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru besar Manajemen Pendidikan; Anggota senat/Prosesi Wisuda ke-105, Admin, Prop0sal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
UIN Bandung berada di posisi ketiga bukan akhir. Inilah analisis akar masalah dan strategi ilmiah agar kampus kembali merebut posisi unggul
Rilis QS Asia University Rankings terbaru memicu diskusi publik seputar daya saing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). UIN Sunan Gunung Djati Bandung kini berada di posisi ketiga, tertinggal dari dua kampus lain yang lebih agresif menguatkan riset dan internasionalisasi. Fenomena ini penting dicermati, sebab peringkat bukan hanya angka, melainkan indikator kualitas tata kelola akademik, produktivitas dosen, dan kekuatan jaringan global kampus.
Artikel ini berpijak pada Teori Reputasi Institusi, Quality Assurance Theory, dan Triple Helix Model (University–Industry–Government). Ketiga teori menegaskan bahwa reputasi akademik, riset, dan kolaborasi adalah sumber utama daya saing universitas dalam ekosistem pendidikan tinggi modern. Kesenjangan performa UIN Bandung berada pada kerangka MICt (Management, Innovation, Collaboration, Technology) dan MET (Mobility, Exposure, Talent). Tantangan riset, kurangnya mobilitas internasional, dan ketimpangan kualifikasi akademik antar fakultas menunjukkan perlunya pembenahan struktural dan kultural.
Tujuan Penulisan ini untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar dari jurnalis Bedanews: bagaimana menyikapi posisi UIN Bandung yang turun, apa penyebabnya, dan bagaimana strategi ilmiah untuk merebut kembali posisi unggul:
Pertama: Bagaimana Tanggapan Prof., terhadap Posisi UIN Bandung Menjadi ke-3?; Posisi ketiga harus dipahami sebagai peringatan strategis, bukan penurunan martabat akademik. Dalam dinamika pemeringkatan, perubahan posisi adalah hal wajar, apalagi ketika kampus-kampus lain mempercepat langkah internasionalisasi dan peningkatan kualitas riset. UIN Bandung tetap berada di jajaran kampus PTKIN terbaik Indonesia, menandakan fondasi akademik yang kuat. Namun peringkat ini sekaligus menjadi cermin bahwa upaya yang dilakukan belum cukup untuk memenangkan kompetisi Asia. Sikap ilmiah yang ideal bukan meratapi perubahan, melainkan menjadikannya momentum introspeksi dan percepatan. Civitas akademika perlu melihat posisi ini sebagai energi baru untuk memperbaiki tata kelola riset, meningkatkan reputasi akademik, dan memperluas jejaring global. Dengan kata lain, posisi ketiga bukan kegagalan, tetapi titik balik untuk melompat lebih jauh.
Kedua: Mengapa Posisi UIN Bandung Turun? Apa Penyebabnya?; Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa UIN Bandung tertinggal dari kompetitor. Pertama, reputasi akademik melemah karena visibilitas ilmiah dosen belum merata; publikasi bertaraf internasional masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Kedua, reputasi pemberi kerja belum setinggi kampus pesaing yang lebih intens berkolaborasi dengan industri. Ketiga, kinerja riset meliputi sitasi, publikasi per dosen, dan kolaborasi global belum berada pada angka ideal dalam 11 indikator QS. Keempat, internasionalisasi masih menjadi titik lemah: jumlah mahasiswa asing, program exchange, dan kehadiran profesor internasional rendah. Kelima, kualifikasi akademik dosen S3 masih belum merata di seluruh fakultas, berdampak pada kualitas pembelajaran berbasis riset. Kombinasi faktor ini membuat kompetitor lebih unggul secara agregat, meskipun UIN Bandung memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Ketiga: Langkah Strategis agar UIN Bandung Kembali ke Posisi Pertama; Untuk kembali unggul, UIN Bandung harus mengambil tiga langkah strategis besar. Pertama, Reformasi Riset Terintegrasi: membangun pusat riset unggulan, memperkuat hibah internal, memperluas joint research, menyediakan klinik penulisan ilmiah, dan menyederhanakan beban administratif dosen. Dosen harus diberikan ruang dan insentif yang layak untuk produktivitas ilmiah. Kedua, Internasionalisasi Menyeluruh: meningkatkan program berbahasa Inggris, menambah mahasiswa asing, memperluas kemitraan riset, serta memperbanyak inbound–outbound mobility. Kehadiran profesor internasional dan kolaborasi global harus menjadi standar, bukan pengecualian. Ketiga, Perbaikan Tata Kelola Akademik: menyiapkan rekrutmen doktor internasional, memperkuat kurikulum berbasis industri, dan menerapkan sistem penilaian kinerja yang objektif dan berbasis output. Jika ketiga strategi ini dijalankan konsisten, peluang untuk kembali ke posisi pertama bukan sekadar target, tetapi keniscayaan akademik.
UIN Bandung berasa di posisi ketiga adalah alarm kualitas yang harus dijawab dengan perbaikan riset, peningkatan kinerja dosen, dan internasionalisasi total. Rekomendasi untuk para pemangku kepentingan: (1) perkuat pusat riset dan kolaborasi global, (2) tingkatkan proporsi dosen bergelar doktor, (3) optimalkan relasi industri untuk menaikkan reputasi lulusan, dan (4) pastikan tata kelola kampus mendukung budaya akademik yang progresif.
Tertinggal adalah peringatan. Namun bangkit adalah kehormatan ilmiah. Dengan strategi yang tepat dan keberanian melakukan perubahan, UIN Bandung dapat kembali merebut posisi unggul dan menjadi pusat rujukan PTKIN di Asia. Wallahu A’lam.


