Khutbah Jum’at 12 Desember 2025I Bencana sebagai Teguran: Saatnya Taubat Kolektif dan Merawat Bumi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ…

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً * ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النبي – صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ ” إِذَا ظَهَرَتِ المعاصي في أُمَّتِى عَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ “. فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَالَ ” بَلَى “. قَالَتْ فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ قَالَ ” يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ “.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi dari bagaimana kita hidup selaras dengan kehendak Allah, menjaga diri, menjaga sesama, dan menjaga alam ciptaan-Nya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Akhir tahun seharusnya menjadi ruang jeda untuk tafakur dan muhasabah. Namun akhir 2025 justru dipenuhi duka. Banjir bandang di Sumatera, longsor di berbagai wilayah Jawa Barat, erupsi Gunung Semeru, banjir rob di pesisir utara Jawa. Semua itu bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah alarm keras bagi nurani bangsa.

Banjir yang kembali melanda Bandung bukan hanya soal hujan deras dan luapan sungai. Ia adalah alarm keras bagi dunia pendidikan. Air yang mengalir deras di gang-gang sempit, rumah yang roboh, serta warga yang berlarian menyelamatkan diri seharusnya tidak hanya menjadi berita sesaat, tetapi menjadi bahan pelajaran kolektif terutama bagi generasi muda Jawa Barat. https://youtu.be/VIDayAGQMuU?si=fqk0Nh1sgXuwkxW4 ….Becana Alam di Bandung.

Bencana bukan hanya urusan geologi dan cuaca, melainkan cermin relasi manusia dengan alam dan dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النبي – صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ ” إِذَا ظَهَرَتِ المعاصي في أُمَّتِى عَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ “. فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَالَ ” بَلَى “. قَالَتْ فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ قَالَ ” يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ “.

 

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Bila perbuatan- perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah Swt akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?’ Beliau menjawab, “Benar.” Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang- orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah.” (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh Al Albani dalam  Shahihul Jami’ [5231] dan Sahih Sunan Abu Dawud [4347]. Lihat Ad Daa’ wa Ad Dawaa’, hal. 51).

Intinya “Jika kemaksiatan telah tampak di tengah umatku, maka Allah akan menimpakan azab secara merata…” Hadits ini mengajarkan bahwa musibah tidak hanya menimpa orang zalim, bahkan orang-orang shalih bisa ikut merasakannya, sebagai ujian, peringatan, dan penyucian. Allah berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“Peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja.” (QS. Al-Anfal: 25)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Apabila kita cermati bahwa, “Bencana bukan hanya urusan geologi dan cuaca, melainkan cermin relasi manusia dengan alam dan dengan Allah. Selain itu musibah tidak hanya menimpa orang zalim, bahkan orang-orang shalih bisa ikut merasakannya,” untuk itulah mari kita renungkanlah lima pelajaran besar dari rangkaian bencana ini:

Pelajaran Pertama: Bencana adalah Teguran, bukan Sekadar Musibah;  Bencana adalah Teguran, bukan Sekadar Musibah; adalah sebuah pandangan yang berakar kuat dalam perspektif keagamaan, filosofis, dan spiritual, yang mengundang refleksi mendalam mengenai hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Makna ayat di atas. Allah SWT menunjukkan adanya bencana dan kerusakan lingkungan (di darat dan laut) sebagai akibat dari tindakan buruk manusia, agar mereka merasakan konsekuensinya dan kembali ke jalan yang benar, seperti pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan ketidakseimbangan alam yang disebabkan oleh keserakahan manusia. Ayat ini juga merupakan peringatan/teguran dan pelajaran bahwa ulah manusia berdampak langsung pada lingkungan dan kesejahteraan mereka sendiri, bukan sekadar fenomena alam biasa. Teguran agar manusia menyadari kesalahannya, merasakan dampak negatifnya, dan kembali bertobat serta memperbaiki perilakunya terhadap alam dan Tuhannya.

Kita sering menyalahkan hujan, cuaca, dan alam. Padahal yang membuat banjir mematikan adalah hutan gundul, sungai dipersempit, bukit dibongkar, tata ruang dilanggar. Alam sedang “berbicara” karena manusia terlalu lama tidak mau mendengar.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pelajaran Kedua: Orang Shalih Pun Bisa Tertimpa, Maka Jangan Merasa Aman; Pernyataan tersebut benar adanya dan berfungsi sebagai pengingat yang kuat bagi semua orang beriman: tidak seorang pun, sekonsisten apa pun mereka dalam kesalehan, kebal terhadap cobaan, musibah, atau godaan. Bahkan orang-orang yang paling saleh pun menghadapi tantangan, dan hal ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari ketetapan ilahi dan ujian kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda, dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:

إِذَا ظَهَرَتِ المعاصي في أُمَّتِى عَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ “. فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَالَ ” بَلَى “. قَالَتْ فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ

“Jika kemaksiatan telah tampak di tengah umatku, maka Allah akan menimpakan azab secara merata…” Intinya hadits ini menegaskan: Bencana bisa menimpa semua, bukan karena semua sama dosanya, tetapi karena dosa telah menjadi budaya sosial. Ini mengajarkan kepada kita: (1) Jangan merasa cukup hanya dengan kesalehan pribadi. (2) Diam melihat kemungkaran adalah bahaya. (3) Membiarkan kerusakan sama dengan ikut menanggung akibat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pelajaran Ketiga: Kerusakan Alam Berakar dari Krisis Akhlak; Pemahaman bahwa kerusakan lingkungan berakar dari krisis moral atau etika adalah perspektif umum dalam diskusi etika lingkungan dan keberlanjutan. Argumen dasarnya adalah bahwa banyak kerusakan alam disebabkan oleh perilaku manusia yang didorong oleh keserakahan, kurangnya rasa tanggung jawab, dan pandangan antroposentris (berpusat pada manusia) bahwa alam hanyalah sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Allah berfirman:

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Tidaklah Kami membinasakan negeri-negeri melainkan karena penduduknya berbuat zalim.” (QS. Al-Qashash: 59).

Zalim tidak selalu berupa kekerasan. Zalim juga berarti: (1) Merusak hutan demi keuntungan, (2) Menyogok izin tambang, (3) Mengubah fungsi lahan seenaknya. Semua ini dosa ekologis yang sering kita anggap “urusan proyek”, padahal itu urusan iman.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pelajaran Keempat: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Harus Terlembaga; Maksudnya adalah bahwa upaya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran perlu dilakukan secara terorganisir, sistematis, dan melalui struktur kelembagaan (organisasi), bukan sekadar usaha perorangan yang bersifat sporadis. Tidak cukup hanya nasihat individu. Umat harus punya sistem: (1) Lembaga yang mengawasi kerusakan moral dan lingkungan.(2) Ulama yang berani menegur penguasa. (4) Akademisi dan guru yang membangun kesadaran ekologis. Ayat Al-Qur’an yang paling relevan dan sering digunakan sebagai dasar argumentasi untuk pandangan ini adalah firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Allah memerintahkan kita bukan hanya berbuat baik pribadi, tetapi membangun sistem kebaikan sosial.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pelajaran Kelima: Saatnya Taubat Kolektif, Bukan Sekadar Doa Saat Bencana; Bencana bukan hanya untuk ditangisi, tetapi untuk diubah menjadi titik balik. Taubat tidak cukup dengan istighfar di lisan, tetapi harus: (1) Mengubah gaya hidup, (2) Menghentikan budaya rakus, (3) Menghormati alam sebagai amanah. Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat di atas, adalah sebuah larangan tegas dari Allah SWT kepada umat manusia untuk tidak melakukan segala bentuk tindakan yang dapat merusak tatanan dan keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan dengan sempurna.

Ayat ini juga terkandung poin utama maknanya meliputi: (1) Menjaga Keseimbangan Alam: Allah telah menciptakan bumi dalam keadaan baik, seimbang, dan dapat menopang kehidupan. Ayat ini memerintahkan manusia untuk menjaga kondisi tersebut, bukan merusaknya; (2) Larangan Segala Bentuk Kerusakan: Kerusakan di sini tidak hanya berarti kerusakan lingkungan fisik (seperti polusi, penebangan liar, atau eksploitasi berlebihan), tetapi juga kerusakan dalam aspek sosial, moral, dan agama, seperti menyebarkan kemungkaran, ketidakadilan, atau peperangan yang mengganggu kedamaian; (3) Tanggung Jawab Manusia: Ayat ini menekankan peran manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan, bukan merusak, dan (4) Perintah untuk Berbuat Baik: Larangan berbuat kerusakan secara implisit juga merupakan perintah untuk melakukan kebaikan, memperbaiki, dan menjaga kelestarian bumi dan kehidupan di dalamnya.

Singkatnya, ayat ini adalah seruan moral dan etis yang mendalam bagi umat Islam, dan manusia pada umumnya, untuk menjadi agen pemelihara kehidupan di bumi dan menjauhi segala perbuatan yang membawa kehancuran.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Bencana adalah bahasa langit agar kita kembali. Bukan untuk menyalahkan alam, tetapi untuk menyelamatkan iman. Sebgai penutup; Kembali saya wasiatkan kepada jamaah dan diri saya untuk bertakwa kepada Allah SWT. Mari kita jadikan musibah sebagai pintu taubat, bukan sekadar cerita berita. Jadikan bencana sebagai madrasah iman, bukan hanya statistik korban.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، نحمده حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه، كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

اللهم اغفر لنا ذنوبنا وإسرافنا في أمرنا
اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين
اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا،
وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا،
وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا.

اللهم ادفع عنا الزلازل والفتن والبلايا والمحن
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

عباد الله…
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم
ولذكر الله أكبر

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته