“Wawancara Eksklusif dengan: Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Bandung. Dewan Pembina PERMAPEDIS JAWA BARAT. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat
Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) melalui Keppres RI No. 316 Tahun 1959, bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali nilai patriotisme dan nasionalisme dalam dunia pendidikan. Tema Hardiknas 2025, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, lahirnya gagasan Kurikulum Cinta dan Deep Learning menjadi respon nyata terhadap fenomena tantangan zaman, terutama menghadapi era Revolusi Industri 5.0 yang menuntut pendidikan berbasis karakter, kreativitas, dan pemahaman mendalam. Namun, terdapat GAP antara semangat Hardiknas dan implementasi nyata di lapangan, yakni masih minimnya adopsi pendekatan pendidikan berbasis nilai dan pembelajaran mendalam.
Tulisan ini penting untuk membuka perspektif baru: bagaimana Kurikulum Cinta dan Deep Learning dapat menjawab tantangan masa depan serta memperkuat daya saing bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Berikikut 3 perspektif baru untuk Kurikulum Kurikulum Cinta dan Deep Learning, Mari Kita Elaborasi satu-persatu:
Pertama: Nilai pembelajaran apa yang bisa digali dari Kurikulum Cinta dan Deep Learning terkait Hardiknas?
Kurikulum Cinta menekankan nilai-nilai kasih sayang, penghargaan terhadap keberagaman, empati, dan membangun koneksi hati dalam proses pembelajaran. Ini sejalan dengan spirit Ki Hadjar Dewantara: pendidikan adalah upaya menuntun kodrat anak agar berkembang secara lahir dan batin. Sementara Deep Learning mengajarkan kepada peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Deep Learning tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi pada pemahaman bermakna yang mendalam terhadap konsep dan penerapannya di dunia nyata.Dari kedua pendekatan ini, nilai pembelajaran yang bisa digali untuk memperkuat Hardiknas adalah: 1) Pendidikan berbasis nilai luhur dan karakter; 2) Pengembangan pola pikir kritis dan solutif; 3) Penumbuhan rasa memiliki terhadap bangsa dan peradaban.
Kedua: Apa target dari Kurikulum Cinta dan Deep Learning dalam Konteks Indonesia Emas 2045?
Dalam peta jalan Indonesia Emas 2045, target utamanya adalah mewujudkan generasi unggul: cerdas, berkarakter, berdaya saing global, dan berjiwa Pancasila. Kurikulum Cinta dan Deep Learning diorientasikan untuk: 1) Mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga matang emosional dan spiritual; 2) Membangun budaya inovasi dan kolaborasi lintas budaya; 3) Meningkatkan resiliensi dan daya adaptasi dalam menghadapi perubahan global.
Dengan kata lain, Kurikulum ini menyiapkan agent of change yang mampu membawa Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi memimpin dalam berbagai sektor pada 2045.
Ketiga: Bagaimana strateginya agar Kurikulum Cinta dan Deep Learning bisa terwujud?
Strategi utama dapat digunakan meliputi: 1) Integrasi Bertahap dalam Kurikulum Nasional: Pemerintah perlu mengadopsi nilai Kurikulum Cinta dan prinsip Deep Learning dalam standar nasional pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi; 2) Pemberdayaan Guru sebagai Agen Perubahan: Guru harus dibekali pelatihan tentang pendidikan berbasis nilai dan metodologi deep learning, termasuk penguatan literasi digital dan pedagogi inovatif; 3) Penguatan Kolaborasi Multipihak: Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan keluarga untuk mendukung ekosistem pembelajaran berbasis cinta dan pemahaman mendalam; 4) Pemanfaatan Teknologi Edukasi 5.0: Teknologi perlu dioptimalkan untuk mendukung personalized learning, gamifikasi berbasis nilai, dan pembelajaran kolaboratif lintas batas, dan 5) Evaluasi Berkelanjutan: Setiap implementasi harus dievaluasi secara berkala untuk mengukur dampak terhadap karakter, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi peserta didik.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025 mengajak seluruh insan pendidikan untuk bergerak bersama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Kurikulum Cinta dan Deep Learning menawarkan pendekatan solutif dalam mengatasi tantangan pendidikan era 5.0 serta membuka jalan menuju Indonesia Emas 2045. Rekomendasi untuk para pemangku kepentingan: 1) Segera susun roadmap nasional penerapan Kurikulum Cinta dan Deep Learning; 2) Fokuskan investasi pada pengembangan kapasitas guru dan kepala sekolah; 3) Bangun kemitraan lintas sektor untuk mempercepat adopsi teknologi edukasi berbasis nilai.
Dengan semangat Partisipasi Semesta, pendidikan Indonesia akan mampu melahirkan generasi emas: berkarakter kuat, berpengetahuan dalam, dan siap bersaing di panggung global. “Membangun pendidikan bermutu berbasis cinta dan deep learning untuk memperkuat daya saing bangsa menuju Indonesia Emas 2045.”
Wallahu A’lam