Talenta dari Ujung Desa (Bagian: III) Inspirasi dari Rekreasi

Inspirasi dari Rekreasi

 

Bandung dimata orang kampung ataupun desa menjadi wah, yang jaraknyapun lebih dari 135 km, belum yang lainnya, tapi bagi orang senang petualang itu adalah hiburan, siapa yang tidak senang hiburan. Tapi mungkin juga bagi sebagian besar orang Desa berlibur ke Kota selama 3 hari adalah hal yang membuang-buang uang. Hal ini tentunya harus sudah dipikirkan matang-matang dengan berbagai pertimbangan. Tapi bagi orang yang berangkat ke Bandung dengan gratis itu kan jadi kehormatan. Apalagi kalau kita ingat waktu kecil ketika sorang ibu memomomg anaknya supaya segera tidur sambil di gendong atau diayun Ibu tercinta menyajikan lagu; ”Nelengkung-nelenengkung, geura gede geura djangkung, geura sakola ka Bandung, Ibu rama geura pundjung”. Itulah yang ada di benaku, sehingga menjadi pertanyan bagiku, ada di Bandung?.

Namun kali ini kepergiaku ke Bandung bersama ayaku bukan untuk ”sakola” seperti yang dinyanyikan oleh ibu tadi. Tapi kali merupakan sekedar menikmati sebuah penghargaan (bonus) dari seorang Kuwu (Kepala Desa), Pa. RE Kusdinar, kepada kami, teutama ayahku selaku pengatur utama bahasa kren sekarang minijer dalam melasanakan Renovasi Mesjid Desa Cinyasag, tentang renovasi Mesjid Deasa Cinyasag tahun 1974 telah diceriterakan pada bagian awal, aku diangkat menjadi tukang tembok.

Hari Keberangkatan

Sejak pagi kami telah membenahi perlengkapan pakaian, bekal leupeut dan goregan yang tak bisa ditingagalkan itu menjadi khas bagi orang desa kami apabila mau piknik, dan memang sudah dipersiapkan oleh ibuku sehari sebelum keberangkatan. Masing-masing dari kami membawa kantog/tas pakaian, adapula tentengan leupet dan gorengan yang terpisah dengan kantong salin (pakaian) untuk tiga hari. Jam 06.30 kami sudah berada di halaman Pak Kuwu, kala itu Ibu kuwu sudah siap dan ngabsen kami. Ibu kuwu sebagai penanggunjawab rombongan anak kecil 4 orang anaknyanya pa Kuwu Dedi, Yani, dan Rudi dan Roni, pengasuh dan ayahku dan aku, yaah kurang lebih 10 orang rombongan kami. Bagi bu Kuwu kebandung merupakan pulang kampung, memang Ibu aslinya orang Bandung, wajarkan jadi penangunjawab rombongan sebab Pa Kuwu tidak ikut.

Jam 07.00 berkumpul dihalaman bale desa sudah tersedia Oplet ”AT” namanya yang senganya dibuking oleh pak Kuwu dari Kawali, waktu itu Kawali sebagai Ibukota Kewadanan di Kabupaten Ciamis bagian Timur, masih jarang pengusaha oplet semacam ”AT” di tingkat Kewedaan.

Diperjalanan

Setelah semua kelengkapan dicek oleh Sopir dan kernet, sudah lengkap tidak adak yang ketinggalan, sopir mulai menstater mobilnya, dan perjalanan di mulai. Begitu keluar dari gerbang Desa yang jaraknya hanya 100 m dari alun-alun desa yang tadi kami mulai naik mobil, mobil mulai menapaki jalan aspal, mengarah ke utara jalan propinsi, ketika itu sopir berbicara ”Ibu-Bapak, kita akan jalan lewat Cikinjing, Talaga, Majalengka, Kadipaten, Sumedang, Tanjungsari, nanti nyampai ke bandung” aku siap pasang mata kesana kesini menikmati pemandangan, yang teringat di benakku ketika di kelas IV belajar peta Ilmu bumi menyelusuri peta Jawa Barat, kota kecamatan kota kabupaten, jalan sungai dan sebagainya. Ketika nyapai di Majalengka, benaku bicara oh… ini kota Majalengka, begitu nyampai di Sumedang, lain dari ingatan sebelumnya, begitu lewat pendopo dan alun-alun Sumedang, melihat tulisan ”Sumedang tandang nyandang kahayang” itu  merupankan semboyan sumedang, mukin dari sejak dulu karena sumedang mempunyai sejarah khusus dalam melawan penjajah. Keluar dari Kota Sumenadang mengarah ke barat kurang lebih 5-10 KM,  melewati Cadas Pangeran yang diceriterakan dalam sejarah Danles membangun jalan Anyer-Panarukan yang di daerah itu pembangunan jalannya dipimpin oleh Pangeran Kornel, ketika oplet melaju pelan-pelan, benaku bicara ….oh ini cadas pangeran… teh, yang ada dipiranku alat apa yang diperguna, seberapa banyak tenaga yang dipekerjakan, maklum pada waktu itu pikiranku sebagai tukang kan, yang sejatinya harus berpikir jadi insinyur.

Begitu nyampai ke Tanjungsari, melihat patok jalan ada tulisan 30 KM, menandakan jarak ke Bandung 30 KM lagi, sedangkan waktu telah menunjukan pukul 12 san, berati perjalan sudah hapir 4 jaman, melihat kiri kanan masih banyak Delman/Keretek, oplet sedang ngetem, dengan nada kernet mengajak orang, ”banduuuung, banduuuung” benak aku bicara ”oh oplet spurben itu mungkin jurusan bandung. Begitu meihat Delaman, mengingatkanku waktu kelas 3 SD pada salah satu bacaan buku Taman pamekar yang menceriterakan angkutan dari Tanjungsari, maupun dari Cicalengka ke kota Bandung menggunakan Keretek/Delman, hatiku bicara lah… kalau arah Cicalangka dari siani kemana yah, padahal Ceritera UMI dan UDI bertamasya ke Bandung Naik delman, sudah lah nati juga ketemu kalau dipikirkan terus nantu jadi binggung.

Sampai di Bandung

Tak terasa jam sudah sudah hapir jam 13.00, ketika melirik ke sebelah kanan melihat tulisan IAIN Sunan Gununu Djati Bandung, berarti sudah nyampe ke Kota Bandung, hati saya bertanya lagi, kenapa kota Bandung begini yah……? inimah sama aja dengan di lembur!!!, tidak lama kemudian melirik ke sebelah kiri melihat tulisan Wisma Manglayang Patal Cipadung, hal ini lain megingatkan aku waktu ujian kelas enam SD, bahwa patal Cipadung adalah industri besar Perusahaan Negara yang bergerak dalam hal pemintalan benang, yang dibagun tahun  awal orde baru tahun 67 han. Belum terpikir waktu saya jadi penduduk Cipadung dan Pegwai IAIN.

Tak lama kemudian nyampai di Cicadas, sebelum nyampai sampai di Kosambi melirik ke sebelah kiri ada tulisan CV. Setuju, entah Cap Loceng atau apa lah, tapi yang jelas itu pabrik tenun, kalau diingat-ingan tempat itu, sekarang jadi Hotel Bandung Permai, pas berhadapan dengan Kantor Disbudpar Kota Bandung ke arah barat sedikit Lapang Persib dan Dinas Pendidikan Kota Bandung. Apa yang ada di ingatanku kalau mendengar kata CV, mengingatkan pada waktu SD sudah punya celana atau baju kain CV itu sudah bergengsi, warna kain CV, spengetahuan ku waktu kecil itu warna yang sekarang dipakai seragam Pemda. Sedangkan kain warna Cap Loceng adalah warna biru yang biasa dipakai seragam SMP kebawahnya.

Tak lama kemudian melewati rel sebelum ke Kosambi ada tulisan Cikudapateuh, nama Cikudapateuh, maupun Kosambi itu  dalam bacaan waktu di SD, hanya berkata dalam hati ooh…!, telah melewati kosambi tak lama kemudian di sebelah kanan melihat tulisan ”Gedung Merdeka” mengingatku dalam pelajaran sejarah entah apa bawa Gedung Merdeka tempatnya Konperensi Asia Aprika tahun 1955, dua tahun sebelum saya lahir. Setelah itu nyampai di Alun-alun Bandung, hati saya berkata ooooh ini yang kota Bandung. Nampakny tempat yang dituju sudah dekat dari alun-alun itu, sebab dari alun-alun sebelah timur, belok ke selatan sedikit lurus, langsung masuk Jalan Lengkong Kecil Masuk lagi Jalan Lengkong Baesar, nyampailah ke tempat yang dituju waktu itu jam tangan menujukan pukul 2 siang. Tempat tersebut kalau sekaran pas di depan Kampus Unpas Jalan Lengkong Basar.

Ketika kami dijamu tidak jauh beda dengan di kampung setiap ada orang datang tamu, selalu di hormat itu mungkin kebiasaan orang timur lebih-lebih kebiasaan orang sunda, selahu menghormati tamunya. Bisa diawali dengan yang ringan-ringan disuguhi Colenak, kan baru tau namanya dari lagukan ”colenak” baru saat itu merasakan. Tidak lama kemudian sudah ada yang menyuruh makan, ibu Kuwu menyahut, nah ini namanya ”Oncom Bandung”, beda kan dengan yang di lembur dari Cikijing, ternyata baik bentuk, maupun rasa beda sekali dengan oncom yang biasa Ema beli dari Bi Nimoh pedangan suhun orang Cikijing.

Keseokan harinya ke Kebun Binatang, lewat ITB, Unisba, tidak lama di kebun Binatang melaju kesebelah Utara menuju ke Tangkuban  Perahu, melewati IKIP, Lembang, yang sudah narang tentu tempat-tempat itu ada kaitangnya dengan pelajaran waktu sekolah, yang teringat dibenaku mengenai Gedung Isola IKIP, yang bainya ingat sedikit-sedikit ”Isola Bumi Siliwangi, liliwatan Bandung Lembang, ……. Suku tangkuban Parahu ngabedega alam endah agreng Sigrong………”.

Sepulang dari Gunung Takuban Perahu lewat Komplek MaKodam VI Siliwangi waktu itu, sekarang Kodam III Siliwangi, kira-kira di daerah Jalan Aceh. Hal itu  mengingatkanku akan sejarah penyelemantan Panji Siliwangi yang tepatnya di Kampung Cirikip Desa Cinyasag sekitar 1 kilo meteran dari pusat pemerintahan Desa Cinyasag. Kejadian itu kira-kira tahun 46 katanya, Siliwangi waktu Hijrah  dari Yogya ke Bandung di daerah kami di hadang oleh tentara belanda dan panjinya diselematkan oleh seorang Kepala Kampung Cirikip namanya Pak Sunahwi, panji di masukan pada ruas bahasa cinyasag, kalau bahasa daerah lain nyebutnya lodong yang peruntukannya untuk menyadap nira, setelah itu di simpan di atas pohon Kelapa yang berada tepat di Halaman Pa Sunahwi, mungkin waktunya tanggal 20 Mei, sebab setiap tanggal 20 Mei selalu diperingati Hari Kejayaan Siliwagi, biasanya waktu di jaman Orde Baru, peringatan 20 Mei itu sangat meriah, semua komponen di kerahkan anak SD, SMP, MTs. para Guru, PNS se Kecamatan atau mungkin se Kabupaten ikut memeriahkan hari itu. Apalagi Petinngi Kodam Siliwangi.

Pernah Panglima dan para petinggi Kodam III Siliwangi datang Ke-Cinyasag, teringat di pikiran ku waktu peresmian Monumen Siliwagi entah tahun berapa tapi Pangdamnya waktu itu Kolonel Himawan Sutanto. Dalam rangka Upacara peringatan 20 Mei, peresmian Monumen Siliwagi, dan sekaligus pelepasan peserta Napak Tilas, Siliwani biasa dilakukan setiap tahun. Star dari Cinyasag, melewati Panjalu, Batarujeg, Lemah Sugih Majalengka, lalu masuk ke daerah Wado, Koata Sumedang, Legok berujung di Conggeang Buah Dua. Pesertanya dari komponen Abri, Menwa, AMS, Pemuda, Pramuka,  dan ormas lainnya.

Sebelum sebelum pelepasan keberangkatan, para peserta biasannya bermalam di Desa kami, disebar ke rumah-rumah penduduk, ada yang dua orang, ada yang tiga orang peserta dan seterusnya. Malam itu juga disediakan hiburan bagi masyarakat.

Dikarenakan sangat pentingnya momentum tersebut, sampai-sampai anak SD di sekitar Desa Cinyasag waktu itu wajib hapal lagu Siliwangi, yang baitnya kurang lebih,  begini ”Lembur kuring Cinyasag, purwana Muncang Pandak, asa seswe Sililiwangi, kapungkur ku Pajajaran   diserahken ka Mataram, kiwari jadi lataran”.

Meninggalkan Kota Bandung

Hari ketiga pulang dari Bandung menuju Desa Kami Desa Cinyasag melintasi jalur Sumedang, Kadipaten, Majalengka,  Talaga, Cikijing, dan sampailah ke Cinyasag. Apa yang jadi pikiran di benaku waktu itu setibanya pulang dari Bandung, yang terpikir ”kapan lagi aku bisa ke Bandung yah”. Ah sudah yang sudahmah, nasi sudah jadi bubur, kalau terus dipikiran tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegiatan harianku berjalan sebiasanya pergi nyangkul, ke sawah, di sela-sela beres nyawah, biasa ada yang nyuruh bangun rumah, karena budaya lama di Cinyasag kalau sesorang, mau Bangun Rumah, Hajatan Nikah, Nyunat, dan sebagainya, hal itu biasa ”diantjoken” setelah musim panen, maklum kehidupan utamnaya bagi warga Cinyasag dari tani, waktu itu, eh tapi pernah melejit bagi kehidupan orang Cinyasag khususnya mualai tahun 70 han sampai 80 yaitu sedang jaya-jayanya harga Cengkih nyampe harga Rp. 10,000, per kilonya, harga tersebut sanggup membanding antara 1 kg cengkih berbanding dengan harga 1 dacin padi yang harganya Rp. 10. 000 per dacin (kl 62.5 kg) Perihal 1 dacin sudah di sampaikan dimuka upah tukang untuk sepuluh hari dibayarnya satu dacin.

Yang penting dari 3 hari perjalan ke bandung menjadi  pembelajaran yang di dapat, pertama apa yang diajarkan di SD, terutama yang berkaitan dengan Ilmu bumi dan sejarah sebagian dapat membuktinya dengan melihat, merasakan, memginpirasi betapa pentingnya pengalaman  bagi seorang guru ketika menceriterakan/mengajarkannya kepada muridnya hal-hal yang sudah dikuasai lebih baik lagi sudah dialami, tegasnya mengusai materi bahan ajar, hal itu mejadi kompetensi inti. Kedua,  mempunyai harapan, keinginan dambaan itu penting, dan itu mungkin jadi kodrat manusia, yang perlu dilakukan adalah menemukan keinginan-keinginan yang selalu mendorong seseorang untuk meraihnya atau melakukannya. Konon, di setiap diri manusia sudah dipasang semacam stasiun radio yang selalu menyuarakan dorongan kepada kita untuk melakukan sesuatu yang sifatnya sangat spesifik. Inilah yang disebut hasrat sejati atau talenta yaitu sebuah hasrat yang terus menggelora di dalam diri kita. Supaya hasrat sejati itu teratur dan tersalurkan, cobalah merumuskan dan memperjuangkan tujuan hidup yang sudah kita buat berdasarkan kemampuan kita hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.