Penerapan Peta Konsep Dalam PBM

PENERAPAN PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN

(Sebuah alternatif dalam Pembelajaran Jarak jauh pada masa Covid-19)

 

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi pembelajaran bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa (Suryadi  menambahkan di sini –> Ini yang disebut Teknik Konstruktivisme). Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN PETA KONSEP

1.    Pengertian Konsep

Konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.

Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para siswa. Oleh karena itu konsep- onsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati, dan harus disimpulkan dari perilaku. Dahar menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar.

Menurut Flavell dikutif Dahar, (2006) dalam  dalam Suci Yuniati (2013: 131), ada tujuh macam konsep yaitu: (a) atribut, (b) struktur, (c) keabstrakkan, (d) keinklusifan, (e) generalitas atau keumuman, (f) ketepatan, dan (g) kekuatan, kekuatan suatu konsep ditentukan oleh sejauh mana orang setuju bahwa konsep tersebut penting.

Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).

George Posner dan Alan Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif.

Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002: 26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.

Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat.

2.    Ciri-ciri Peta Konsep

Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

  • Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
  • Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
  • Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.
  • Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

3.   Fungsi dan Kegunaan Peta Konsep

Secara umum dalam palam pendidikan, peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan. Sebuah peta konsep yang baik akan memberikan manfaat dalam pembelajaran sehingga tercapai pembelajaran yang bermakna. Menurut (Dahar, 2006), dalam Suci Yuniati (2013: 136), ada empat kegunaan peta konsep yang digunakan dalam pembelajaran yaitu:

Untuk Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa

Sebelumnya telah diketahui bahwa belajar bermakna membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki.Untuk memperlancar proses ini, baik dosen dan mahasiswa perlu mengetahui konsep-konsep apa yang telah dimiliki mahasiswa ketika pelajaran baru akan dimulai, sedangkan maha-siswa diharapkan dapat menunjukkan di mana mereka berada, atau konsep-konsep apa yang telah mereka miliki.dalam menghadapi pelajaran baru itu. Dengan menggunakan peta konsep dosen dapat melaksankan apa yang telah dikemukakan di atas, dan dengan demikian mahasiswa diharapkan akan mengalami belajar ber-makna. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dosen untuk maksud ini ialah dengan memilih satu konsep utama dari pokok bahasan yang akan dibahas, kemu-dian menyuruh mahasiswa untuk menyusun peta konsep dengan menghubungkan konsep-konsep itu. Selanjutnya mahasiswa diminta untuk menambahkan konsep-konsep dan mengaitkan konsep-konsep itu hingga mambentuk proposisi yang ber-makna. Dari peta konsep-peta konsep yang dihasilkan oleh mahasiswa, guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa tentang pokok bahasan yang akan diajarkan.

Untuk Mempelajari Cara Belajar

Bila seseorang dihadapkan pada suatu bab dari buku pelajaran , ia tidak akan begitu saja memahami apa yang dibacanya.Dengan diminta untuk menyusun peta konsep dari isi bab itu , ia akan berusaha untuk mengeluarkan konsep-konsep dari apa yang dibacanya, meletakkan konsep yang paling inklusif pada puncak pe-ta konsep yang dibuatnya, kemudian mengurutkan konsep-konsep yang lain yang kurang inklusif pada konsep yang paling inklusif, demikian seterusnya.

Untuk Mengungkapkan konsepsi salah

Selain kegunaan-kegunaan yang telah disebutkn di atas, peta konsep dapat pula mengungkapkan konsepsi salah (misconception) yang terjadi pada  mahasis-wa. Konsep salah biasanya timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.

Untuk Alat Evaluasi

Penerapan peta konsep dalam pendidikan yang terakhir dibahas adalah peta konsep sebagai alat evaluasi. Selama ini alat-alat evaluasi yang digunakan guru adalah tes obyektif atau tes esai. Walaupun cara evaluasi ini akan terus me-megang peranan dalam dunia pendidikan, teknik-teknik evaluasi baru perlu dipi-kirkan untuk memecahkan masalah-masalah evaluasi yang kita hadapi selama ini. Penggunaan peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan pada tiga gagasan dalam teori kognitif Ausubel yaitu: (1) struktur kognitif diatur secara hirarki, dengan konsep dan proposisi yang lebih inklufsif terhadap konsep dan proposisi yang kurang inklusif atau lebih khusus. (2) konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi progresif.

Secara khusus fungsi peta konsep dalam pembelajaran, Menurut Susilo dalam Parno (2007:8), antara lain, sbb. :

  • Merencanakan kuliah,
  • Merencanakan dan evaluasi kurikulum,
  • Mengembangkan pembelajaran dengan bertitik tolak pada identifikasi miskon-sepsi mahasiswa dari peta konsep,
  • Mendiskusikan peta konsep dalam kelas,
  • Peta konsep yang menghubungkan teori dasar dan prosedur eksperimen dalam praktikum mahasiswa,
  • Mempelajari buku teks,
  • Meminta mahasiswa mem-buat peta konsep dari soal tes, dan
  • Menganalisis miskonsepsi mahasiswa.

5.  Peranan Peta konsep dalam belajar bermakna

Belajar bermakna merupakan proses berkesinam- bungan, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan dibentuknya lebih banyak kaitan proposional. penyesuaian integratif. Prinsip belajar ini menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat, bila siswa menyadari hubungan-hubungan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi yang berhubungan. Menurut Ausubel (Dahar, 2006) ada dua jenis belajar yaitu: 1) belajar bermakna (meaningful learning) dan 2) belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke perubahan struktur konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur yang telah dipunyai siswa. Sedangkan belajar menghafal adalah siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Disinilah letak pentinya peta konsep. Dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan dalam peta konsep penyesuaian integratif ini diperlihatkan dengan adanya kaitan-kaitan silang (cross links) antara kumpulan-kumpulan konsep  (Dahar, 2006).

  • Peta konsep Sebagai Pendukung utama dalam belajar bermakna

Peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna, oleh karena itu hendaknya mahasiswa pandai menyusun peta konsep untuk menyakinkan bahwa pada mahasiswa tersebut telah berlangsung belajar bermakna. Ada beberapa langkah yang harus diikuti dalam menyusun peta konsep yaitu: (1) Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran, (2) Tentukan konsep-konsep yang relevan, (3)Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif, (4) Susunlah konsep-konsep itu di atas kertas, mulai dengan konsep yang paling inklusif di puncak ke konsep yang paling tidak inklusif; dan (5)Hubungkanlah konsep-konsep itu dengan kata atau kata-kata penghubung (Dahar, 2006).

Dalam peta konsep penyesuaian integratif ini diperlihatkan dengan adanya kaitan-kaitan silang (cross links) antara kumpulan-kumpulan konsep  (Dahar, 2006). Peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna, oleh karena itu hendaknya mahasiswa pandai menyusun peta konsep untuk menyakinkan bahwa pada mahasiswa tersebut telah berlangsung belajar bermakna. Ada beberapa langkah yang harus diikuti dalam menyusun peta konsep yaitu: (1) Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran, (2) Tentukan konsep-konsep yang relevan, (3) Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif, (4) Susunlah konsep-konsep itu di atas kertas, mulai dengan konsep yang paling inklusif di puncak ke konsep yang paling tidak inklusif, dan (5) Hubungkanlah konsep-konsep itu dengan kata atau kata-kata penghubung (dahar, 2006).

  • Peta konsep Sebagai Alat Ukur Alternatif  Tes

Disamping itu, peta koonsep juga berfunsi sebagai Alat Ukur Alternatif  Tes seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan.

  • Peta konsep Sebagai Alat Ukur Peneilaian Kinerja

Menurut Tukman dalam Supardi. (2013: 31) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif. Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984) dalam Dahar (1988: 143) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif.

Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep (Dahar,1988: 162).

Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu.

  • Skoring didasarkan atas preposisi yang valid.
  • Untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat.
  • Crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif.
  • Diharapkan siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukan oleh label konsep.

Alasan Peta Konsep dapat membantu Proses Belajar Jadi Lebih Mudah: Otak menjadi lebih aktif dan gampang menyerap materi. Peta konsep menjadi salah satu cara belajar yang paling mudah untuk memahami pelajaran. Meskipun sering dinilai terlalu ramai atau membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam membuatnya, peta konsep ini punya alasan yang jelas tentang seberapa efektif mereka bagi para pelajar. Berikut ada 5 alasan peta konsep bisa bantu proses belajar jadi lebih mudah, antara lain:

  • Media gambar yang mampu mewakilkan kata-kata

Kumpulan gambar dalam peta konsep merupakan alat grafis yang mampu mewakilkan kata-kata. Melalui warna, simbol dan singkatan materi panjang lebar bisa dituliskan jadi lebih ringkas. Ini bahkan bekerja lebih baik dari rangkuman biasa, peta konsep bekerja seajaib itu dalam membantu proses belajar.

  • Jembatan penghubung antar materi

Peta konsep menjadi jembatan antar materi yang bekerja melalui asosiasi alami. Maksudnya, dengan belajar lewat peta konsep otak akan secara otomatis bekerja mencari titik hubung antara satu materi dengan materi lainnya sehingga terbentuk suatu pemahaman luas yang tidak sulit untuk dicerna.

  • Mempermudah proses penyerapan banyak informasi

Bayangkan saja jika dalam satu bab kamu merangkum materi dalam bentuk tulisan, pasti membosankan banget dan sulit untuk diingat kan? Berbeda halnya dengan peta konsep yang bisa menyulap satu bab menjadi sebuah gambar jelas yang menyimpan banyak materi. Proses belajar dan penyerapan informasi akan lebih mudah dan cepat.

  • Mengasah kreativitas yang bisa memudahkan pemahaman

Berbeda dengan catatan biasa yang membuat penulisnya seolah mencotek gaya yang membosankan, hanya mengutip dan merangkum kembali materi dalam setumpuk tulisan. Peta konsep justru bikin orang yang membuatnya jadi lebih kreatif, karena peta konsep dirancang lebih praktis namun harus tetap memiliki efektifitasnya dalam menyampaikan materi.

  • Menstimulasi otak untuk bekerja secara maksimal

Peta konsep seperti bentuk miniatur dari otak manusia yang berkumpul dalam satu tempat dan saling menghubungkan informasi-informasi yang ada di dalamnya. Dengan begini peta konsep jelas menjadi lebih efektif dibandingkan catatan biasa yang membuat otak berpikir secara linear. (idntimes.com)

JENIS DAN MODEL PETA KONSEP

Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map). Adapun Trianto. (2013), mendesain Model jenis Peta Konsep sebagai berikut:

1. Peta Konsep Model Pohon Jaringan

Peta konsep pohon jaringan merupakan peta konsep yang ide-ide pokok suatu konsep dibuat dalam sebuah persegi empat, sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan dan dihubungkan dengan garis-garis penghubung, dan garis-garis penghubung tersebut menunjukkan hubungan antara ide-ide tersebut. Pada saat mengkontruksi peta konsep pohon jaringan (network tree), tulislah topik itu dan daftarlah konsep-konsep utama yang berkaitan dengan konsep itu. Periksalah daftar dan mulai menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu.

Peta konsep berbentuk pohon jaringan (network tree) sangat cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal sebagai berikut: 1) Menunjukkan sebab akibat; 2) Suatu hierarki; 3) Prosedur yang bercabang dan; 4) Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan. Contoh peta konsep berbentuk pohon jaringan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Peta Konsep Mdel Pohon Jaringan

Sumber: Trianto. 2013.

Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25). Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: (1) Menunjukan informasi sebab-akibat (2) Suatu hirarki (3) Prosedur yang bercabang.

2. Peta Konsep Model Rantai Kejadian

Peta konsep rantai kejadian, merupakan peta konsep yang dapat digunakan untuk menunjukkan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam sebuah prosedur, atau suatu tahapan dalam suatu proses, seperti halnya dapat digunakan dalam melakukan suatu eksperimen. Langkah pembuatan peta konsep menggunakan rantai kejadian, pertama-tama temukan suatu kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut kejadian awal. Kemudian, temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutkan sampai mencapai suatu hasil. Peta konsep rantai kejadian sangat cocok digunakan untuk memvisualisasikan langkah-langkah dalam suatu prosedur tertentu, memberikan tahapan-tahapan dalam suatu proses, dan urutan suatu kejadian. Contoh peta konsep rantai kejadian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 Peta Konsep Model Rantai Kejadian

Sumber: Trianto. 2013.

Nur dalam Erman (2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal yang– memberikan tahap-tahap suatu proses– langkah-langkah dalam suatu prosedur, dan– suatu urutan kejadian

3. Peta Konsep Model Siklus

Peta konsep siklus adalah peta konsep yang didalamnya memuat rangkaian kejadian yang tidak menghasilkan suatu hasil atau final. Kejadian terakhir pada rantai tersebut menghubungkan kembali pada kejadian awal, sehingga siklus berulang dengan sendirinya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukkan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. Contoh peta konsep siklus dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Peta Konsep Model Rantai Kejadian

Sumber: Trianto. 2013.

Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.

4. Peta Konsep Model Laba-laba

Peta konsep laba-laba merupakan peta konsep yang biasanya digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat, ide-ide berasal dari suatu ide yang sentral, sehingga dapat memperoleh beberapa ide yang bercampur aduk. Banyak ide-ide yang tumbuh dan berkaitan dengan ide sentral, namun belum tentu ide-ide tersebut berhubungan antara ide satu dengan yang lain. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan konsep yang tidak menurut hierarki, kategori yang tidak paralel dan hasil curah pendapat. Contoh peta konsep laba-laba dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. Peta Konsep Model Laba-laba

Sumber: Trianto. 2013.

MEMBUAT DAN MENERAPKAN PETA KONSEP

Langkah-langkah Pembuat Peta Konsep

Pembuatan peta konsep dilakukan dengan cara membuat suatu sajian visual atau diagram tentang bagaimana suatu ide-ide penting atau suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain. Dalam membuat peta konsep, konsep-konsep yang ada di dalamnya harus diurutkan secara hirarkis, mulai dari konsep paling inklusif ke konsep yang lebih khusus. Dengan kata lain, konsep yang paling inklusif berada pada bagian paling atas, sedangkan konsep paling khusus berada pada bagian paling bawah. (Sujana 2009).

Menurut Arens dalam Trianto (2013), langkah-langkah dalam membuat peta konsep adalah sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.
  • Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama.
  • Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta konsep.
  • Mengelompokkan ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Sedangkan menurut Budi (1990), langkah-langkah dalam menyusun peta konsep adalah sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi semua konsep yang akan dipetakan.
  • Menyatakan makna dari masing-masing konsep.
  • Meletakkan konsep-konsep tersebut dalam peta sesuai hubungannya mulai dari yang paling umum ke yang paling khusus.
  • Membuat garis-garis penghubung dan melukiskan hubungan pada garis penghubung tersebut.

Cara penilaian peta konsep yang telah dibuat harus memperlihatkan empat kriteria penilaian, yaitu:

  • Kesahihan proposisi, yaitu hubungan antara dua konsep yang diindikasikan oleh garis hubungan dan kata hubung.
  • Adanya hierarki, yaitu peta konsep yang digambarkan dari konsep yang paling umum diletakkan paling atas dan konsep yang khusus diletakkan dibawah.
  • Adanya ikatan silang, yaitu peta yang menunjukkan hubungan yang berarti antara satu segmen dari hierarki konsep dan segmen lain.
  • Adanya contoh-contoh, yaitu obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam tingkatan konsep.

Adapun, Langkah-langkah Model Pemetaan Konsep Menurut Ernes dalam Nuryani, (2015:88), ada 5 langkah dalam penyusunan peta konsep yaitu:

  • Menentukan topiknya
  • Membuat daftar konsep
  • Menyusun konep-konsep menjadi sebuah bagan
  • Menghubungkan konsepkonsep itu dengan kata-kata supaya terbentuk proposisi
  • Mengevaluasi keterkaitan konsep-konsep yang telah dibuat

Model Penerapan Pemetaan Konsep dalam Mata Kuliah Landasan Pendidikan

Untuk menerapkan model pemetaan konsep pada mata kuliah Landasan Pendidikan, mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi ideide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Maka penerapan peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu mahasiswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwan mereka mampu mencapai pembelajaran yang bermakna. Penerapan model pemetaan konsep pada mata kuliah Landasan Pendidikan dalam penelitian ini membahas sampai dengan setengah semester yaitu dimulai dari pembahasan mengenai manusia dan pendidikan, pengertian pendidikan, pendidikan sebagai ilmu dan seni dan pembahasan mengenai landasan filosofis pendidikan (Nuryani, 2015:91). Pembahasan setiap materi dibuat dengan menggunakan pemetaan konsep, hal ini di jabarkan sebagai berikut:

1. Manusia dan Pendidikan

Bagan 5. Peta konsep materi Manusia dan Pendidikan

Sumber: (Nuryani, 2015).

2. Pengertian Pendidikan

Bagan 6. Peta konsep materi Pengertian Pendidikan

Sumber: (Nuryani, 2015).

3. Pendidikan Sebagai Ilmu dan Seni

 Bagan.7 Peta konsep materi Pendidikan sebagai Ilmu dan Seni

Sumber: (Nuryani, 2015).

4. Landasan Filosofis Pendidikan

Bagan .8 Peta Konsep Materi Landasan Filosofis Pendidikan

Sumber: (Nuryani, 2015).

Penerapan model dilakukan melalui kegiatan presentasi dan diskusi yang menggunakan model pemetaan konsep yang mengandung materi dari mata kuliah Landasan Pendidikan. Hasil uji penerapan model pemetaan konsep menunjukkan adanya perubahan pembelajaran menjadi lebih bermakna pada mata kuliah Landasan Pendidikan, hal ini bisa dilihat dari perubahan hasil pre-test dan post test, (Nuryani, 2015:196).

PENUTUP

Berdasarkan berbagai uraian diatas, dapat diketahui pembuatanpeta konsep memerlukan beberapa syarat agar fungsinya tercapai secara maksimal. Syarat yang dimaksud adalah penggunaan beberapa gambar pendukung, peletakan kata, dan garis penghubungnya. Jika syarat tersebut terpenuhi, maka peta konsep bisa berfungsi secara maksimal. Selama masa pandemi ini penggunaan peta konsep dapat menjadi sebuah opsi untuk pembelajaran jarak jauh.

Cara yang efektif adalah dengan diiringi sedikit materi penunjang berupa outlinedan atau uraian yang jelas. Uraian yang jelas akan menghindari perbedaan persepsi siswa dan guru.Penggunaan peta konsep terbukti berdampak memudahkan siswa dalam belajar. Juga efektif dalam meningkatkan prestasi akademik siswa. Menggunakan peta konsep jugadapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa secara kritis. Penggunaannya pun tidak hanya terbatas untuk siswa sekolah dasar saja, namun juga dapat di gunakan oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Menggunakan peta konsep juga dapat menimbulkan interaksi aktif antar guru dan siswa. Keterbatasan yang ditemukan selama penulisan artikel ini adalah minimnya data yang relevan mengenaipeta konsep dan isu pandemi Covid-19. Maka dari itu, saran untuk penelitian selanjutnya adalah dengan menunggu waktu yang tepat agar data bisa lebih kredibel.

Daftar Pustaka

Ahmad, Abu & Uhbiyatu, Nur. (2001). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Budi, Kartika. (1990). Essensi dalam Pembelajaran Peta Konsep. Yogyakarta: Cipta Mandiri.

Buzan, Tony. (2010). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dahar, R.W. (2006). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Erman, (2003), Strategi Pembelajaran Kontemporer, UPI, Jakarta.

Kardi, (1997), Pengajaran Langsung, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.

Khuswatun Khasanah Peta Konsep Sebagai Strategi Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Jurnal EduTrained Volume 3 Nomor 2 (Oktober 2019), 152-164.

Muhimmati, Ifa. (2014). Penerapan Tugas Peta Konsep dalam Project Based Learning (PJBL) untuk Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM di Mata Kuliah Sumber Belajar dan Media Pembelajaran. Jurnal Saintifika, Vo.16, No.2. Jember: Universitas Jember.

Sudjana, Nana. (2009) Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyanto. (2013. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.

Supardi. (2013). Kinerja Guru. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Trianto. (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana.

Pupun Nuryani. Penerapan Model Pemetaan Konsep Dalam Peningkatan Pembelajaran Bermakna Pada Mata Kuliah Landasan Pendidikan. PEDAGOGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 13, No 1 (Januari, 2015), 183- 193

Leave a Reply

Your email address will not be published.