اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَةِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ فِيْهَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Syukur alhamdulillah marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan yang masih diberikan kepada kita sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan ibadah salat Jumat dengan penuh kekhusyukan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Melalui mimbar Jumat yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan ketakwaan, hidup akan memperoleh keberkahan, ketenangan, dan keselamatan dunia akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita saat ini berada di penghujung bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Bulan-bulan haram adalah momentum spiritual untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, serta menjauhi segala bentuk kedzaliman dan kemaksiatan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu mendzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36).
Ayat ini mengandung pesan bahwa bulan Dzulqa’dah bukan sekadar penanda waktu, tetapi ruang muhasabah dan peningkatan kualitas iman. dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, juz 4, halaman 44 mengatakan bahwa “bulan haram menjadi ladang untuk memanen pahala dari Allah swt yang sangat banyak. Amal saleh pada bulan-bulan haram dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan dzalim dan maksiat juga dilipatgandakan dosanya. Karena itu, penghujung bulan Dzulqa’dah hendaknya menjadi momentum memperbanyak ibadah, memperkuat silaturahmi, memperbaiki akhlak, dan membersihkan hati dari kebencian serta kedzaliman.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita renungkan di penghujung bulan Dzulqa’dah ini.
Pertama: Bulan Haram adalah Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri; Bulan Dzulqa’dah mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga hati, ucapan, dan perbuatan. Banyak manusia mampu menjaga penampilan lahiriah, tetapi belum tentu mampu menjaga kebersihan hati dari iri, dengki, dan kedzaliman. Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari akhlak dan perilaku sosialnya. Rasulullah SAW bersabda:
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa kedzaliman tidak selalu berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat hadir melalui ucapan, fitnah, penghinaan, serta tindakan yang menyakiti orang lain. Karena itu, penghujung Dzulqa’dah menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua: Meninggalkan Kedzaliman adalah Jalan Menuju Cahaya Kehidupan; Islam sangat keras melarang segala bentuk kedzaliman. Rasulullah SAW bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kalian terhadap kedzaliman, karena sesungguhnya kedzaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Kedzaliman dapat muncul dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, bahkan media sosial. Ketika seseorang merendahkan orang lain, menyebarkan kebohongan, mengambil hak orang lain, atau memutus silaturahmi, sesungguhnya ia sedang menanam kegelapan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang menjaga keadilan, memaafkan, dan menebarkan kebaikan akan memperoleh cahaya keberkahan dalam hidupnya. Allah SWT berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang dzalim.” (QS. Asy-Syura: 40).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga: Penghujung Dzulqa’dah adalah Waktu Memperbanyak Amal Saleh; Hari-hari terakhir Dzulqa’dah hendaknya tidak berlalu sia-sia. Momentum ini dapat diisi dengan memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu sesama, dan memperkuat kepedulian sosial. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, istiqamah dalam kebaikan lebih penting daripada semangat sesaat tanpa keberlanjutan. Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan dan godaan, menjaga konsistensi ibadah merupakan bentuk kemenangan spiritual yang sangat berharga.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat: Menjaga Takwa untuk Menyambut Hari-Hari yang Lebih Baik; Penghujung bulan Dzulqa’dah juga mengajarkan bahwa hidup terus berjalan dan waktu tidak pernah kembali. Setiap detik yang berlalu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Karena itu, orang beriman harus menjadikan waktu sebagai sarana memperbanyak amal dan memperbaiki kualitas hidupnya. Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu pun ikut pergi.”
Nasihat ini mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan umur dalam kemaksiatan dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, mari kita isi kehidupan dengan ilmu, ibadah, akhlak mulia, dan pengabdian kepada sesama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada akhirnya, penghujung bulan Dzulqa’dah mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan hidup tidak lahir dari harta dan jabatan, tetapi dari ketakwaan, keikhlasan, dan kemampuan menjaga diri dari kedzaliman. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang istiqamah dalam kebaikan, mampu menjaga lisan dan perbuatan, serta memperoleh keberkahan hidup dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal saleh, menjaga persaudaraan, dan menjauhi segala bentuk kedzaliman. Semoga penghujung bulan Dzulqa’dah ini menjadi momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih berkah, dan lebih diridhai Allah SWT.
