Optimalisasi Instrumen Penelitian

OPTIMALISASI  INSTRUMEN PENELITIAN

“Tanpa instrumen penelitian, peneliti dianggap gagal dalam penelitian ilmiah. Bagaimana bisa seorang peneliti tanpa  instrumen penelitian dapat memperoleh data yang akurat?”

PERMISI

alah satu hal yang paling krusial dalam penelitian adalah persoalan yang berkaitan dengan data. Masih banyak kalangan mahasiswa, yang akan dan sedang menyusus skripsi, tesis, maupun disertasi, belum memahami, makna, esensi, maupn cara pengolahan dan bahkan cara pengabikannya. Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data yang dipakai dalam suatu penelitian adalah data yang benar dan dapat dipercaya, karena jika data yang digunakan salah akan menghasilkan informasi yang salah. Padahal mereka cenderung memilih pada penelitian kalitiatif.

Dalam kaitannya dalam pengumpulan data, seorang peneliti haruslah membuat dan atau memiliki instrumen penelitian yang berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan data. Tanpa instrumen penelitian, peneliti dianggap gagal dalam penelitian ilmiah. Bagaimana bisa seorang peneliti tanpa  instrumen penelitian dapat memperoleh data yang akurat? Tentunya hal ini tidak mungkin. Penelitian sebagai suatu cara ilmiah dalam menyelesaikan masalah, akan selalu berhubungan dengan instrumen pengumpulan data. Tanpa instrumen yang tepat, penelitian tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Mengapa demikian? Karena penelitian membutuhkan data empiris, dan data tersebut hanya mungkin diperoleh melalui instrumen dan teknik pengumpulan data yang tepat. Dengan demikian  instrumen penelitian dapat menentukan kualitas penelitian itu sendiri. Oleh sebab itu, instrumen penelitian harus disusun dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian ilmiah.

Penelitian merupakan upaya untuk mengembangkan pengetahuan, serta mengembangkan dan menguji teori. Mc Millan dan Schumacer mengutip pendapat Walberg 1996, ada lima langkah pengembangan pengetahuan melalui penelitian, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah penelitian; (2) melakukan studi empiris; (3) melakukan replika atau pengulangan; (4) menyatukan (sintesis) dan meriview; (5) menggunakan dan mengevaluasi oleh pelaksana. Melalui tahapan itu akan didapatkan jawaban dari tujuan penelitian melalui cara-cara ilmiah yang dituntunoleh logika, sehingga hasil yang diperolehpun dapat diterima secara ilmiah dan logis (masuk akal). (Bachri, 2010).

Penelitian kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan seabgai sumber data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2017). Informan dalam metode kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan atau jenuh (redundancy). Peneliti merupakan key instrument dalam mengumpulkan data, peneliti harus terjun sendiri kelapangan secara aktif (Gunawan, 2013).

Tujuan penulisan ini, antara lain, adalah mendeskripsikan ”Optimalisasi Instrumen Penelitian Dalam Dengan Metode Observasi, Wawancara Karir”, dimulai dari pengenalan anket, observasi, dan wawancara. Seiring dengan dengan unkapan bahwa ”tanpa instrumen penelitian, peneliti dianggap gagal dalam penelitian ilmiah”. Tulisan ini, diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa dalam menagkal kegagalan dalam melaksanakan pennelitian.

A.  Apa itu Data dalam Konteks Penelitian?

1.   Hakikat data dan Fakta Penelitian

Data adalah hasil observasi langsung terhadap suatu  kejadian, yang merupakan perlambangan yang mewakili objek atau konsep dalam dunia nyata. Hal ini dilengkapi dengan nilai tertentu (Pendit,1992). Ralston dan Reilly (dalam Chamidi, 2004: 314), data didefinisikan sebagai fakta atau apa yang  dikatakan sebagai hasil dari suatu observasi terhad ap fenomena alam. Sebagai  hasil observasi langsung terhadap kejadian atau fak ta dari fenomena di alam nyata, data bisa berupa tulisan atau gambar yang di lengkapi dengan nilai tertentu. Contohnya, daftar hadir siswa semester 1 Ilmu Perpustakaan dan kearsipan adalah data. Daftar tersebut masih merupakan bentuk mentah karena belum memberikan informasi apa-apa. Sebagian besar orang awam sering memiliki pengertian yang agak rancu  terhadap data dan informasi. Sering terjadi pengert ian data digunakan untuk menyebut informasi. Demikian pula sebaliknya.

Singkatnya Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain.

Fakta  dalam bahasa Latin disebut factus, ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi suatu kenyataan. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data. Data adalah fakta berupa angka, karakter, symbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan, suara, bunyi yang merepresentasikan keadaan sebenarnya yang selanjutnya digunakan sebagai masukan suatu Sistem Informasi. Dalam bahasa sehari-hari data adalah fakta tersurat (dalam bentuk catatan atau tulisan) tentang suatu obyek. (Dani, V. 2008:103).

2.   Tujuan Pengumpulan Data

Kegiatan penelitian yang terpenting adalah pengumpulan data. Menyusun instrumen adalah pekerjaan penting di dalam langkah penelitian, tetapi mengumpulkan data jauh lebih penting lagi, terutama jika peneliti menggunakan metode yang rawan terhadap masuknya unsur subjektif peneliti. Itulah sebabnya menyusun instrumen pengumpulan data harus ditangani secara serius agar diperoleh hasil yang sesuai dengan kegunaannya yaitu pengumpulan variabel yang tepat.

Pengumpulan data dalam penelitian perlu dipantau agar data yang diperoleh dapat terjaga tingkat pvaliditas dan reliabilitas. Walaupun telah menggunakan instrumen yang valid dan reliabel tetapi jika dalam proses penelitian tidak diperhatikan bisa jadi data yang terkumpul hanya onggokkan sampah.

Peneliti yang memiliki jawaban responden sesuai keinginannya akan semakin tidak reliabel. Petugas pengumpulan data yng mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadinya, akan semakin condong (bias) data yang terkumpul.

Oleh karena itu, pengumpul data walaupun tampaknya hanya sekedar pengumpul data tetapi harus tetap memenuhi persyaratan tertentu yaitu yang mempunyai keahlian yang cukup untuk melakukannya (Sandu Siyoto & M. Ali Sodik, 2015).

3.  Syarat keberhasilan Pengumpulan Data

Keberhasilan dalam pengumpulan data banyak di tentukan oleh kemampuan peneliti menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian (Yusuf, 2014). Untuk menentukan bentuk teknik pengumpulan data yang dibutuhkan: (1)Peneliti hendaknya mengidentifikasi pertanyaan-prtanyaan yang dirumuskan dalam fokus penelitian. (2)Setiap rumusan pertanyaan yang ada dalam fokus penelitian, boleh jadi membutuhkan teknik pengumpulan data yang berbeda­beda pula. Misalnya rumusan pertanyaan nomor satu hanya membutuhkan teknik wawancara, rumusan pertanyaan nomor dua selain membutuhkan teknik wawancara juga membutuhkan teknik observasi dan dokumentasi, dan (5)Untuk keperluan memaparkan teknik pengumpulan data dalam subbab ini merupakan akumulasi dari semua teknik pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan pertanyaan nomor satu dan dua, yakni teknik pengumpulan data berbentuk wawancara, observasi, dokumentasi (Murni, 2017).

B.  Apa dan Bagaiman Instrumen penelitian

1.   Instrumen penelitian

Instrumen penelitian  adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen penelitiansangat erat kaitannya dengan teknik pengumpulan data. Setiap teknik pengumpulan data akan memiliki bentuk instrumen yang berbeda pula.  Perlu kita pahami, tidak semua instrumen cocok digunakan dalam semua jenis penelitian. Instrumen yang dapat digunakan sangat tergantung pada jenis data yang diperlukan sesuai dengan masalah penelitian. Oleh karena itu, sebelum kita menetapkan instrumen penelitian, maka terlebih dahulu kita perlu memahami jenis data yang akan kita kumpulkan dalam penelitian.

2. Posisi Peneliti sebagai Instrumen dalam Penelitian Kualitatif

Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpil data. Instrumen selain manusia (seperti; angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan sebagainya) dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti adalah mutlak, karena peneliti harus berinteraksi dengan lingkungan baik manusia dan non manusia yang ada dalam kancah penelitian. Kehadirannya di lapangan eneliti harus dijelaskan, apakah kehadirannya diketahui atau tidak diketahui oleh subyek penelitian. Ini berkaitan dengan keterlibatan peneliti dalam kancah penelitian, apakah terlibat aktif atau pasif (Murni, 2017).

Nasution (dalam Sugiyono, 2017); menyatakan bahwa peneliti sebagai instrumen penelitian serasi untuk penelitian serupa karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Peneliti sebagai alat peka dan bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian. (2) Penelitian sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus. (3) Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia. (4) Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata untuk memahaminya kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita. (5) Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannnya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika, dan (6) Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan dan pelakan.

3. Kriteria Penyusunan Instrumen dalam Penelitian

Untuk menghasilkan data yang akurat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian: (1) Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variabel, harus jelas dan spesifik, sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis-jenis instrumen yang diperlukan. (2) Sumber data atau informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika, dan sistematika item dalam instrumen penelitian. (3) Keterangan dalam instrumen itu sendiri sebagai alat pengumpul data baik dari keajekan, kesahihan, maupun objektivitasnya. (4) Jenis data yang diharapkan dari penggunaan instrumen harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara analisis data guna memecahkan masalah penelitian, dan (5) Mudah dan praktis digunakan, tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan. (Sujana dan Ibrahim (1989) (dalam Wina Sanjaya 2015).

Apabila posisi peneli sebagai instrumen dan kriteria tersebut disederhanakan dalam gambar, akan tampak sebagai berikut:

Gambar 1 : Kriteria Instrumen Penelitian

Sumber: diolah Penulis

4.  Apa Kegunaan Instrumen dalam Penelitian?

Kegunaan instrumen penelitian (Setiawan, 2013) antara lain:

  1. Sebagai pencatat informasi yang disampaikan oleh responden
  2. Sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara
  3. Sebai alat evakuasi performa pekerjaan stafpeneliti

Apabila kegunaan instrumen tersebut disederhanakan dalam gambar, akan tampak sebagai berikut:

Gambar 2 : Kegunaan Instrumen Penelitian

Sumber: diolah Penulis

Perbedaan penting kedua pendekatan berkaitan dengan pengumpulan data. Dalam tradisi kuantitatif instrumen yang digunakan telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibilitas, masukan imajinatif dan refleksitas. Instrumen yang biasa dipakai adalah angket (kuesioner). Dalam tradisi kualitatif, peneliti harus menggunakan diri mereka sebagai instrumen, mengikuti asumsi-asumsi kultural sekaligus mengikuti data (Mulyadi, 2011).

C. Jenis-jenis Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat pengumpulan data yang sangat penting untuk membantu perolehan data dilapangan. Sebelum menyusun instrument penelitian, penting untuk diketahui pula bentuk-bentuk instrumen yang digunakan dalam penelitian (Gulo, 2000), yaitu tes, angket, observasi dan wawancara, sebagai berikut:

Gambar 3 : Jenis Instrumen Penelitian

Sumber: diadaftasi dari (Gulo 2000), dikembangkan olah Penulis

1.  Jenis Tes

Tes adalah instrumen atau alat untuk mengumpulkan data tentang kemampuan subjek peneliti dengan cara pengukuran, misalnya untuk mengukur kemampuan subjek penelitian dalam menguasai nateri pelajaran tertentu digunakan tes tertulis tentang materi tersebut. Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-soal ter terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir soal mewakili satu jenis variabel yang diukur. Berdasarkan sasaran dan objek yang diteliti, terdapatt beberapa macam tes, yaitu:

  1. Tes kepribadian, digunakan untuk mengungkap kepribadian seseoranng yang menyangkut konsep pribadi, kreativitas, disiplin, kemampuan, bakat khusus, dan sebagainya
  2. Tes bakat atau aptitude test, tes ini digunkan untuk mengetahui bakat seseorang.
  3. Tes inteligensi atau intelligence test, dilakukan untuk memperkirakan tingkat intelektual seseorang.
  4. Tes sikap atau attitude test, digunakan untuk mengukur berbagai sikap oranng dalam menghadapi suatu kondisi,
  5. Tes minat atau measures of interest, ditunjukan untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu,
  6. Tes prestasi atau achievement test, digunakan untuk mengetahui pencapaian sesorang setelah dia mempelajari sesuatu.

Bentuk instrumen ini dapat dipergunkan salah satunya dalam mengevaluasi kemampuan hasil belajar siswa disekolah dasar, tentu dengan memperhatikan aspek aspek mendasar seperti kemampuan dalam pengetahuan, sikap serta keterampilan yang dimiliki baik setelah mennyelesaikan salah satu materi tertentu atau seluruh materi yang telah disampaikan.

Kapasitasnya tes adalah instrumen atau alat untuk mengumpulkan data, memiliki Kriteria sebai berikut:

a. Reliabilitas Tes

Tes sebagai instrumen atau alat pengumpul data dikatakan reliabel manakala tes tersebut bersifat handal. Tes yang handal adalah tes yang dapat mengumpulkan data sesuai dengan kemampuan subjek yang sesungguhnya, yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi termasuk oleh letak geografis.

b. Validitas Tes

Tes sebagai instrumen untuk mengumpulkan data dikatakan valid manakala tes itu bersifat sahih, atau item-item tes mampu mengukur apa yang hendak diukur. Terdapat dua cara uji validitas yaitu, validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis diperoleh dengan cara judgment ahli yang kompeten. Validitas empiris adalah validitas yang diperoleh melalui uji coba tes pada sejumlah subjek yang memiliki karakteristik yang diasumsikan sama dengan subjek penelitian.

2. Angket (Quisioner)

Angket atau questioner adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan serangkaian pernyataan atau pertanyaan tertulis yang diajukan kepada responden untuk memperoleh jawaban secara tertulis. (Purwoko&Indah, 2007:7). Angket (Quisioner); adalah instrumen penelitian  berupa daftar pertanyaan atau pernyataan secara tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden sesuai dengan petunjuk pengisiannya. Angket dapat digunakan peneliti untuk penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Sebagai instrumen penelitian, angket memiliki kelebihan di antaranya sebagai berikut:

  1. Angket dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari sejumlah responden atau sumber data yang jumlahnya cukup besar.
  2. Data yang terkumpul melalui angket akan mudah dianalisis.
  3. Responden akan memiliki kebebasan untuk menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan keyakinannya.
  4. Responden tidak akan terburu-buru menjawab setiap pertanyaan, pengisian angket tidak terlalu terikat oleh waktu.

Angket juga memiliki kelemahan, di antaranya:

  1. Belum menjamin responden akan memberikan jawaban tepat sesuai dengan keyakinannya.
  2. Angket hanya mungkin dapat digunakan oleh responden yang dapat membaca dan menulis.
  3. Angket hanya dapat menggali masalah yang terbatas.
  4. Kadang-kadang ada responden yang tidak bersedia untuk mengisi angket karena alasan kesibukan dan, atau alasan pribadi lainnya.

Langkah-langkah membuat instrument, sebagaimana diuraikan oleh Purwoko&Indah (2007:8), dengan contoh objek “kesiapan” antara lain:

a.  Menentukan batasan objek

-Menentukan batasan objek yang akan diungkap: Angket dalam penelitian digunakan untuk memperoleh data tentang kesiapan kerja peserta didik.

-Menetukan tujuan: Untuk meningkatkan kesiapan kerja peserta didik

-Menentukan indikator objek yang akan kamu ungkap

b.  Definisi Konsep: Kesiapan Kerja Peserta Didik

Kesiapan kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menunjukkan adanya keserasian antara kematangan fisik, mental serta pengalaman sehingga individu mempunyai kemampuan untuk melaksanakan suatu kegiatan tertentu dalam hubungannya dengan pekerjaan atau kegiatan. (Yanto, 2006: 9), Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kesiapan kerja yang dimiliki remaja yaitu sedikitnya informasi pekerjaan yang dimiliki, usaha yang dilakukan untuk mencari pekerjaan dan kurang matangnya perencanaan karir sehingga mengakibatkan banyak remaja lulusan SMK yang tidak tertampung dalam dunia kerja dikarenakan dunia industri membutuhkan tenaga yang matang dan siap untuk bekerja (Yanto,2006: 9),

Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan mempengaruhi kecenderungan untuk memberi respons. Kondisi setidaknya mencakup tiga aspek yaitu: (1) Kondisi fisik, mental dan emosional; (2) Kebutuhan-kebutuhan, motif, minat serta tujuan; (3) Ketrampilan, pengetahuan dan pengertian yang telah dipelajari. (Slameto, 2006: 59).

c.   Definisi Operasional Kesiapan Kerja

Kesiapan Kerja Peserta Didik adalah  suatu kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik untuk dapat langsung bekerja setelah lulus SMA yang meliputi kematangan fisik, kematangan mental dan serta pengalaman.

d.  Indikator Kesiapan Kerja

Indikator Kesiapan Kerja Peserta Didik adalah cirri-ciri yang melekat pada peserta didik, yaitu: (1) Kematangan fisik; (2) Kematangan mental; (3) Pengalaman

e.  Merumuskan butir, dan membuat Kisi-kisi penelitian

Dalam merumuskan butir dari Indikator Kesiapan Kerja Peserta Didik, dengan menggunakan Kisi-kisi Instrumen Kesiapan Kerja, seperti pada tabel berikut:

Tabel; 1 Kisi-kisi Instrumen Kesiapan Kerja

Contoh Angket dalam Bidang Karir

Kesiapan Kerja Peserta Didik

Dibawah ini terdapat 20 pernyataan. Baca dan fahamilah baik-baik setiap pernyataan berikut. Kemudian Anda diminta untuk menyatakan apakah isi pernyataan itu sesuai dengan diri Anda, dengana cara memberikan tanda centang pada salah satu pilihan jawaban  yang disediakan.

Adapun pilihan jawaban tersebut adalah:

SS        : Sangat Setuju

S          : Setuju

TS        : Tidak Setuju

STS     : Sangat Tidak Setuju

Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda, oleh karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda, karena tidak ada jawaban yang dianggap salah. Contoh pada table berikut:

Tabel 2: Contoh Angket dalam Bidang Karir

3. Observasi

Observasi adalah suatu cara mengumpulkan data atau keterangan atau informasi tentang diri sesorang yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap suatu obyek (kegiatan yang sedang berlangsung) dalam periode tertentu sehingga diperoleh data tingkah laku apa yang nampak apa yang diperbuat dan dikatakan. (Purwoko dan Pertiwi, 2007:5)

Observasi adalah metode penghimpunan data yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti melalui penggunaan panca indra. Untuk itu, Bungin (2005:134), menerangkan bahwa:

a.  Observasi ditinjau dari segi proses pelaksanaan pengumpulan d

Ditinjau dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dibedakan atas observasi berperanserta dan nonparticipan. Adapun penjelasannya sebagai berikut: (1) Observasi berperanserta, peneliti terlibat secara langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber penelitian; dan (2)Observasi nonparticipan, peneliti tidak terlibat secara langsung dengan sumber penelitian dan hanya sebagai pengamat atau independen. (Sugiyono (2017: 204).

b.  Observasi ditinjau dari segi proses pelaksanaan pengumpulan d

Ditinjau dari segi instrumentasi yang digunakan, observasi dibedakan atas observasi terstruktur dan tidak terstruktur. Adapun penjelasannya sebagai berikut: (1) Observasi terstruktur, observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk melakuakan observasi, dan (2)Observasi tidak terstruktur, observasi yang tidak ditetapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. (Sugiyono (2017: 204)

LEMBAR OBSERVASI KESIAPAN KERJA PESERTA DIDIK

  1. Hari/ tgl observasi :
  2. Observasi ke :
  3. Tempat observasi :
  4. Waktu :
  5. Aspek yang diobservasi :   Kesiapan kerja peserta didik
  6. Petunjuk :   Berilah tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan pernyataan atau gejala yang  nampak pada individu yang diobservasi.

Tabel 3:  Contoh Lembar Observasi

Keterangan:

Tabel 4:  Contoh Keterangan Lembar Observasi

Komentar/ Kesimpulan :

…………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………

Bandung, ……………………. 2020

Observer : …………………………..

(………………………………………….)

4. Wawancara (interview)

Wawancara (interview) adalah teknik pengumpulan data yang dilaksanakan dengan cara dialog baik secara langsung (tatap muka) maupun melalui saluran media tertentu antara pewawancara dengan yang diwawancarai sebagai sumber data. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif.

Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan dan dijawab responden secara langsung, secara lisan pula. (PurwokoPratiwi, 2007: 36), Langkah-langkah penyelenggaraan wawancara adalah:

a.      Tahap Persiapan

Tahap persiapan, meliputi langkah menetapkan variabel yang akan diukur,  memerinci variabel, indicator, predictor, dan menyusun item-item pertanyaan, membuat pedoman wawancara;

b.      Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan, meliputi mempersiapkan pedoman wawancara, menetapkan kapan dan dimana wawancara akan dilaksanakan, menentukan taktik wawancara, kode etik wawancara dan sikap pewawancara?

c.       Tahap Analisis Hasil

Tahap ktiga, analisis hasil, meliputi: pengelompokan variabel yang akan ditabulasi, penyekoran jawaban, kesimpulan dan penginterpretasian.

 PEDOMAN WAWANCARA

  1. Wawancara ke          : ………………………………………….
  2. Waktu wawancara   : ………………………………………….
  3. Tempat wawancara : ………………………………………….
  4. Masalah                     : Kesiapan Kerja Peserta Didik
  5. Nama siswa               : ………………………………………….
  6. Proses wawancara   : ………………………………………….

Tabel  5:  Model Pedoman Wawancara

Model Trankrip Wawancara

  1. Wawancara ke          : ………………………………………….
  2. Waktu wawancara   : ………………………………………….
  3. Tempat wawancara : ………………………………………….
  4. Masalah                     : Kesiapan Kerja Peserta Didik
  5. Nama siswa               : ………………………………………….
  6. Proses wawancara   : …………………………………………

Tabel 6: Model Trankrip Wawancara

Apabila kajian diatas disederhana dalam bentuk gambar maka “optimalisasi penggunana instumen penelitaian akan tampaka pada gambar sebagai berikut:

Gambar 4 : Optimalisasi Instrumen Penelitian

Sumber:  dikembangkan olah Penulis

D. Kesimpilan

Data adalah catatan atas kumpulan fakta.  Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, pengumpul data walaupun tampaknya hanya sekedar pengumpul data tetapi harus tetap memenuhi persyaratan tertentu yaitu yang mempunyai keahlian yang cukup untuk melakukannya.

Instrumen penelitian  merupakan alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen penelitian sangat erat kaitannya dengan teknik pengumpulan data. Setiap teknik pengumpulan data akan memiliki bentuk instrumen yang berbeda pula.  Perlu kita pahami, tidak semua instrumen cocok digunakan dalam semua jenis penelitian. Instrumen yang dapat digunakan sangat tergantung pada jenis data yang diperlukan sesuai dengan masalah penelitian.  Oleh karena itu, sebelum peneliti menetapkan instrumen penelitian, maka terlebih dahulu peneliti perlu memahami jenis data yang akan kita kumpulkan dalam penelitian.

Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpil data. Instrumen selain manusia (seperti; angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan sebagainya) dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti adalah mutlak, karena peneliti harus berinteraksi dengan lingkungan baik manusia dan non manusia yang ada dalam kancah penelitian. Kehadirannya di lapangan eneliti harus dijelaskan, apakah kehadirannya diketahui atau tidak diketahui oleh subyek penelitian.

Kajian ini merekomendasikan bahwa, optimalisasi keberhasilan dalam pengumpulan data, menuntut kemampuan peneliti untuk menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian. Untuk menentukan bentuk teknik pengumpulan data yang dibutuhkan, melalui instumen penelitian antala lain: (1) Peneliti hendaknya mengidentifikasi pertanyaan-prtanyaan yang dirumuskan dalam fokus penelitian. (2) Setiap rumusan pertanyaan yang ada dalam fokus penelitian, boleh jadi membutuhkan teknik pengumpulan data yang berbeda­beda pula. Misalnya rumusan pertanyaan nomor satu hanya membutuhkan teknik wawancara, rumusan pertanyaan nomor dua selain membutuhkan teknik wawancara juga membutuhkan teknik observasi dan dokumentasi, dan (3) Untuk keperluan memaparkan teknik pengumpulan data dalam subbab ini merupakan akumulasi dari semua teknik pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan pertanyaan nomor satu dan dua, yakni teknik pengumpulan data berbentuk wawancara, observasi, dokumentasi.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Fitri Yanto. (2006). Ketidaksiapan Memasuki Dunia Kerja Karena Pendidikan. Jakarta: Dinamika  Cipta.

Bachri, B. S. (2010). Meyakinkan validitas data melalui triangulasi pada penelitian kualitatif. Jurnal Teknologi Pendidikan, 10 (1), 46-62.

Budi Purwoko dan Titin Indah Pratiwi. (2007). Pemahaman Individu Melalui Teknik Non Tes. Surabaya: Unesa University Press.

Burhan Bungin. (2005) Metodologi Penelitian Kuantitaif. Jakarta: Kencana

Chamidi, Safrudin. (2004). “Kaitan antara Data dan  Informasi Pendidikan dengan Perencanaan Pendidikan,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (48)  10, hlm. 311-328.

Gulo, W. 2000. Metodologi Penelitian . Jakarta: PT Grasindo Anggota IKAPI

Gunawan, Imam. (2013). Metode penelitian kualitatif. Jakarta:BumiAksara

Mulyadi, M. (2011). Penelitian kuantitatif dan kualitatif serta pemikiran dasar menggabungkannya. Jurnal studi komunikasi dan media, 15(1), 128-137.

Mustari, M., & Rahman, M. T. (2012). Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta : LaksBang. PRESSindo.

Pendit, Putu Laxman. (1992). Makna Informasi: lanjutan dari suatu perdebatan dalam Bunga rampai 40 tahun Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia. Ed. A.Bangun. Jakarta: Kesaint Blanc.

Sandu Siyoto & M. Ali Sodik. (2015). Dasar metodologi penelitian. Yogyakarta: Katalog Dalam Terbitan

Sanjaya, Wina. (2015). Penelitian Pendidikan. Bandung: Kecana Prenada Media Group.

Slameto. (2006). Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta : Rineka Cipta

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta

Sugiyono.(2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta,

Vardiansyah, Dani. (2008) Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Jakarta; Indeks,

Yusuf, Muri. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Kencana

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *