Khutbah Jum’at 8 Mei 2026: Ketika Guru Dimuliakan, Peradaban Menemukan Arah

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعِلْمَ نُوْرًا، وَجَعَلَ الْمُعَلِّمِيْنَ وَرَثَةَ الْأَنْبِيَاءِ، وَأَمَرَنَا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap menghargai ilmu, memuliakan guru, dan membangun kehidupan yang berkeadilan. Pada hari ini, Jumat 8 Mei 2026, kita masih berada dalam suasana refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026 dengan tema: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah semata, tetapi amanah bersama seluruh elemen bangsa. Namun di tengah semangat membangun pendidikan nasional, kita juga menyaksikan polemik mengenai penataan guru non-ASN hingga akhir tahun 2026. Persoalan ini menghadirkan pertanyaan penting: apakah bangsa ini telah benar-benar memuliakan guru sebagai penjaga masa depan peradaban?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam perspektif Islam, penghormatan kepada guru sesungguhnya adalah penghormatan terhadap ilmu, akhlak, dan masa depan umat. Guru bukan sekadar pekerja pendidikan, tetapi pembimbing kehidupan yang menanamkan nilai disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan keimanan. Allah SWT berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah: 105).

Ayat ini mengandung pesan mendalam tentang kerja nyata, amanah, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks guru honorer, pengabdian mereka adalah amal nyata yang telah menjaga keberlangsungan pendidikan bangsa, bahkan di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari persoalan tersebut, ada empat pelajaran penting yang perlu kita renungkan bersama:

Pertama: Guru adalah Pewaris Ilmu dan Penjaga Peradaban; Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam karena mereka meneruskan tugas para nabi dalam menyampaikan ilmu dan membimbing manusia menuju kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam makna luas, guru adalah bagian dari pewaris tugas kenabian. Mereka mendidik akal, membina hati, dan membentuk karakter generasi. Karena itu, merendahkan guru sama halnya melemahkan fondasi masa depan bangsa. Allah SWT juga berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan orang-orang yang mengajarkannya memiliki kemuliaan di sisi Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa guru adalah pelita kehidupan yang menerangi hati manusia dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu dan akhlak. Menurut beliau, tugas guru bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk jiwa dan mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Karena itu, guru harus dimuliakan sebagaimana seseorang menghormati orang tua ruhani yang membimbing kehidupan akhiratnya. Senada dengan itu, Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada penghormatan murid kepada guru. Ilmu tidak akan memberikan manfaat sempurna tanpa adab kepada pendidik. Maka memuliakan guru sejatinya adalah menjaga keberlanjutan ilmu dan peradaban.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua: Menghormati Guru adalah Bagian dari Akhlak dan Keimanan; Islam mengajarkan adab sebelum ilmu. Murid yang berhasil bukan hanya yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang menghormati gurunya. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

مَا فَتَحَ اللَّهُ لِيْ فِي الْعِلْمِ إِلَّا بِالتَّوَاضُعِ لِلْمُعَلِّمِ

“Allah tidak membukakan ilmu kepadaku kecuali karena tawadhu kepada guru.”

Menghormati guru bukan sekadar tradisi budaya, tetapi bagian dari pembentukan akhlak mulia. Ketika penghormatan kepada guru mulai hilang, maka keberkahan ilmu juga akan memudar. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menegaskan pentingnya memuliakan orang-orang berilmu dan para pendidik. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menekankan bahwa seorang murid hendaknya bersikap tawadhu di hadapan guru, mendengarkan dengan penuh hormat, serta tidak menyombongkan diri atas ilmu yang dimiliki. Menurut beliau, adab kepada guru adalah pintu masuk keberkahan ilmu. Ilmu yang dipelajari tanpa adab akan kehilangan cahaya dan manfaatnya. Demikian pula Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menjelaskan bahwa di antara bentuk penghormatan kepada guru adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memotong pembicaraannya, serta senantiasa menjaga keridhaannya. Sebab ridha guru merupakan salah satu jalan datangnya keberkahan ilmu dan kemuliaan hidup.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketiga: Pengabdian Guru adalah Amal Saleh yang Bernilai Ibadah; Banyak guru honorer tetap mengajar dengan penuh keikhlasan meskipun berada dalam keterbatasan kesejahteraan. Mereka hadir mendidik generasi bukan semata karena materi, tetapi karena amanah dan pengabdian. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad);

Guru adalah orang-orang yang manfaatnya terus mengalir sepanjang waktu. Ilmu yang diajarkan akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ… أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara… salah satunya ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim).

Karena itu, pengabdian guru sesungguhnya adalah investasi peradaban yang pahalanya terus mengalir. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa mengajarkan ilmu termasuk ibadah paling utama setelah kenabian, karena melalui ilmu manusia mengenal Allah, memperbaiki akhlak, dan membangun kehidupan yang benar. Menurut beliau, seorang guru yang ikhlas akan memperoleh pahala yang terus mengalir selama ilmu itu diamalkan oleh murid-muridnya.

Sementara itu, Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat hanya akan lahir dari niat yang ikhlas. Menuntut dan mengajarkan ilmu hendaknya diniatkan untuk mencari ridha Allah, menghilangkan kebodohan, dan menegakkan agama, bukan sekadar mencari kedudukan duniawi. Karena itu, pengabdian guru yang dilandasi keikhlasan akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Keempat: Negara dan Masyarakat Wajib Menegakkan Keadilan bagi Guru; Ketulusan pengabdian guru harus diimbangi dengan kehadiran negara yang adil dan bertanggung jawab. Islam menegaskan pentingnya keadilan sosial, termasuk dalam penghargaan terhadap pekerja dan pendidik. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90),

Dan Rasulullah SAW bersabda:

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini mengajarkan bahwa penghargaan terhadap pekerja, termasuk guru, adalah bagian dari keadilan yang diperintahkan agama. Pendidikan yang bermartabat hanya akan lahir jika para gurunya juga dimuliakan secara manusiawi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa keadilan adalah fondasi utama tegaknya masyarakat dan negara. Ketika amanah tidak diberikan kepada ahlinya, atau hak-hak manusia diabaikan, maka akan lahir kerusakan sosial dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, memuliakan guru melalui kebijakan yang adil adalah bagian dari menjaga kemaslahatan umat.

Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim juga menegaskan bahwa ilmu dan pendidikan tidak akan berkembang dalam lingkungan yang meremehkan ahli ilmu. Karena itu, masyarakat dan pemimpin wajib menjaga kehormatan guru, memperhatikan kesejahteraannya, dan menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya ilmu pengetahuan. Sebab ketika guru dimuliakan, maka ilmu akan hidup, dan ketika ilmu hidup, peradaban akan tegak dengan penuh keberkahan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada akhirnya, penghormatan kepada guru bukan sekadar penghormatan kepada profesi, tetapi penghormatan terhadap masa depan bangsa. Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari perubahan kurikulum atau kemajuan teknologi, tetapi dari keberhasilan membangun ekosistem pendidikan yang manusiawi, bermartabat, dan berpihak kepada guru sebagai pusat pembangunan manusia. Ketika guru dihargai, maka pendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu menjaga keberlanjutan peradaban bangsa.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ…

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ…

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar bangsa ini diberikan pemimpin yang adil, pendidikan yang bermartabat, dan guru-guru yang dimuliakan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ…

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِي الْمُعَلِّمِيْنَ وَالْمُرَبِّيْنَ…

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا وَعَمَلَنَا صَالِحًا…

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْإِحْسَانَ فِي كُلِّ أُمُوْرِنَا…

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ…

فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ…

اَقِمِ الصَّلَاةَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *