Khutbah Jum’at: 1 Agustus 2025: Empat Syarat Selamat Dunia Akhirat: Iman, Amal, Nasihat, dan Sabar

 الْحَمْدُ للهِ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ, خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat. Nikmat yang harus digunakan dalam rangka memenuhi syariat yang telah ditetapkan-Nya. Shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Salah satu nikmat besar yang sering umat manusia lupakan adalah nikmat waktu. Waktu adalah modal utama dalam hidup, dan sekaligus ujian yang paling halus. Ia terus berjalan tanpa menunggu, tanpa bisa diulang, tanpa bisa dibeli kembali. Namun, seringkali disia-siakan, dan dihabiskan untuk hal yang sia-sia, tanpa sadar bahwa kelalaian yang dilakukan pada hari ini akan menjadi penyesalan di hari kemudian.

Sebagai agama, Islam dengan tegas memberi peringatan kepada umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an Allah SWT memberikan pengingat bahwa kebanyakan manusia jatuh dalam kerugian karena menyia-nyakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Allah berfirman dalam surat Al-Ashr ayat 1-3:

وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran”. (Qs. Al-Ashr: 1-3).

Pada ayat di atas Allah SWT dengan tegas memberikan pengingat kepada umat manusia agar tidak termasuk orang yang merugi. Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa kebanyakan dari umat manusia jatuh dalam kerugian ketika hidup di dunia.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsirnya Marah Labid juz II hal 661 menjelaskan bahwa maksud dari kerugian pada ayat di atas ialah; tertipu dalam perjalanan hidup di dunia dengan menghabiskan umur dalam kemaksiatan, atau bermakna kerugian karena tidak bisa beramal ibadah setelah tua dan meninggal dunia.

إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) أَيْ لَفِيْ غُبْنٍ فِيْ مَسَاعِيْهِمْ وَصَرْفِ أَعْمَارِهِمْ فِيْ مَبَاغِيْهِمْ أَوْ فِيْ نُقْصَانِ عَمَلِهِ بَعْدَ الْهَرَمِ وَالْمَوْتِ

Artinya: “Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian yakni tertipu dalam perjalanan hidup dan menghabiskan umur dalam kemaksiatan atau sebab kurangnya amal ibadah karena masa tua dan kematian.”

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Syekh Nawawi mengibaratkan mereka sebagai orang yang tidak merugi dalam bertransaksi dengan Allah SWT. Simak penjelasan Syekh Nawawi berikut:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ فإِنَّهُمْ فِيْ تِجَارَةٍ لَنْ تَبُوْرَ حَيْثُ اسْتَبْدَلُوْا الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ بِالْغَادِيَّاتِ الرَّائِحَاتِ، وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ أيْ تَحَاثَوْا بِكُلِّ مَا حَكَمَ الشَّرْعُ بِصِحَّتِهِ مِنْ عِلْمٍ وَعَمَلٍ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) أيْ تَحَاثَوْا بِالصَّبْرِ عَلَى أَدَاءِ فَرَائِضِ اللهِ وَاجْتِنَابِ مَعَاصِيْهِ

Artinya: “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka berada dalam transaksi jual beli yang tidak ada kerugian di dalamnya sebab mereka menukar amal-amal saleh dengan kehidupan yang baik. Saling menasihati untuk kebenaran yakni menasihati sesuai dengan aturan syariat baik dalam keilmuan maupun amal perbuatan, serta saling menasihati dengan kesabaran dalam melaksanakan kewajiban dari Allah dan menjauhi larangan-Nya.” (Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsirnya Marah Labid juz II hal 661).

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Lebih lanjut, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa terdapat 4 syarat agar umat manusia tidak termasuk ke dalam bagian orang yang merugi. Mereka adalah orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati untuk kebaikan dan kesabaran:

Syarat Pertama; Agar manusia tidak termasuk ke dalam golongan yang merugi, syarat pertama adalah beriman. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keyakinan yang mantap di dalam hati serta tercermin dalam sikap hidup sehari-hari. Iman mencakup kepercayaan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir, baik yang baik maupun yang buruk. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. Al-Baqarah [2]: 82).

Rasulullah SAW bersabda:

“الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ”

“Iman itu ada lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘La ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim).

Disilah, Iman menjadi fondasi utama dalam setiap amal. Tanpa iman, amal tidak bernilai di sisi Allah. Maka memperkuat iman dengan ilmu, zikir, dan muhasabah diri adalah kebutuhan pokok setiap muslim.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Syarat Kedua: Beramal Saleh; Syarat kedua agar tidak menjadi orang yang merugi adalah beramal saleh. Amal saleh adalah segala bentuk perbuatan yang sesuai dengan syariat dan diniatkan karena Allah. Ia mencakup ibadah wajib seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, serta amal sosial seperti menolong sesama, menjaga lingkungan, dan menegakkan keadilan. Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97).

Amal saleh harus dilandasi keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi SAW. Jika tidak, amal itu bisa tertolak. Dalam hadis Raullah, disebutkan:

“إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى”

Artinya, “Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya”

Hadis ini menegaskan bahwa niat yang ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah. Jika niatnya tidak ikhlas atau hanya untuk mencari pujian manusia, maka amal tersebut bisa tertolak. Selain itu, amal saleh juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, karena beliau adalah suri tauladan terbaik dalam beribadah. Jadi, amal saleh yang dilandasi keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi SAW akan diterima Allah SWT, sedangkan amal yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa tertolak Maka seorang mukmin hendaknya senantiasa memperbanyak amal saleh di segala kondisi sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Syarat ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran (tawāṣaw bil-ḥaqq), yakni menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Ini adalah ciri utama masyarakat yang tidak rugi. Kebenaran yang dimaksud adalah semua yang ditetapkan oleh syariat: akidah yang lurus, ibadah yang benar, dan akhlak yang mulia. Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104).

Maksudnya, Allah SWT menyuruh para hamba yang beriman untuk menempuh jalan lurus serta mengajak orang lain terhadap kebaikan dan menghalangi dari keburukan. Di mana mereka yang menyeru demikian, maka Dia janjikan sebagai orang beruntung nantinya.  Rasulullah SAW bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ

“Agama itu adalah nasihat.” Para sahabat bertanya: ‘Untuk siapa, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam secara umum.'” (HR. Muslim).

Nasihat harus dilakukan dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang. Tanpa saling menasihati, masyarakat akan dikuasai hawa nafsu dan kebatilan.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Syarat yang Keempat adalah saling menasihati dalam kesabaran (tawāṣaw bis-ṣabr). Kesabaran diperlukan dalam menjalankan ketaatan, meninggalkan maksiat, dan menghadapi takdir yang berat. Dalam perjalanan iman, akan selalu ada ujian dan tantangan, maka kesabaran menjadi pondasi utama dalam mempertahankan keistiqamahan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan), serta bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 200).

Ayat ini mengandung empat perintah utama bagi orang-orang yang beriman: 1)  Bersabar: Maksudnya adalah menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat dan bersabar dalam menghadapi musibah; 2) Kuatkanlah kesabaranmu: Artinya, jangan hanya bersabar, tapi juga berusaha untuk memperkuat kesabaran.; 3) Tetaplah bersiap siaga: Maksudnya, waspada dan bersiap siaga dalam menghadapi musuh, baik musuh nyata maupun musuh dalam diri sendiri.dan 4) Bertakwalah kepada Allah: Artinya, taatilah perintah Allah dan jauhi larangan-Nya.

Dengan melaksanakan keempat perintah ini, diharapkan seorang mukmin akan meraih keberuntungan. Untuk hal itu, Rasulullah SAW juga bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Dan ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi).

Saling menasihati dalam kesabaran artinya kita menguatkan saudara seiman dalam menghadapi cobaan hidup dan tidak saling menjatuhkan. Inilah pilar solidaritas umat yang kokoh.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Salah satu anugerah paling berharga yang Allah berikan kepada kita semua adalah nikmat waktu. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu memanfaatkannya dengan baik. Padahal, dalam Islam, waktu bukan hanya dianggap sebagai karunia, tapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif. Artinya, kita didorong untuk mampu mengelola waktu secara seimbang, antara ibadah, bekerja, menuntut ilmu, dan berkontribusi dalam kegiatan sosial.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan teladan yang jelas tentang bagaimana cara menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, salah satunya adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ

Artinya: “Di antara tanda Islam berpengaruh baik terhadap seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi).

Dari hadits tersebut, kita bisa memahami bahwa salah satu tanda keislaman seseorang yang baik adalah kesadarannya untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia, yang tidak membawa manfaat. Seorang muslim sejati adalah mereka yang menjadikan setiap detik kehidupannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup, mari kita sama-sama menjadikan waktu sebagai ladang amal dan investasi akhirat. Kita perlu terus mengevaluasi bagaimana kita mengisi waktu, agar tidak berlalu begitu saja tanpa makna. Ingatlah, waktu adalah aset yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang, dan tidak akan menunggu siapa pun. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi pedoman agar kita menjadi muslim yang produktif dan tidak tergolong sebagai orang-orang yang merugi:

  1. Niatkan setiap aktivitas positif, baik bekerja, belajar, maupun membantu sesama, sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
  2. Buatlah perencanaan dan susun skala prioritas, lalu isi dengan aktivitas yang positif seperti membaca, menulis, berdzikir, dan amal ibadah lainnya.
  3. Hindarilah pemborosan waktu, termasuk penggunaan media sosial yang berlebihan, serta kegiatan yang tidak bermanfaat.
  4. Manfaatkan waktu luang untuk menambah ilmu agama dan meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial.

Semoga kita semua termasuk ke dalam hamba-hamba Allah yang pandai memanfaatkan waktu. Semoga setiap detik hidup kita menjadi bernilai dan membawa manfaat, diberi kekuatan untuk terus berada dalam ketaatan, dijauhkan dari sifat malas dan menunda-nunda, serta tergolong dalam golongan orang-orang yang selamat dari kerugian.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰ لِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *