Wawancara Eksklusif dengan: Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Kelahiran Ciamis, 21 April 1961: Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Bandung. Peraih Nominator Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. (Jum’at, 25 Juli 2025: 22:30),
“Skor 8:7 Indonesia atas Thailand bukan sekadar euforia, tapi cermin: pendidikan butuh proses, karakter, dan kerja sama yang tahan uji.”
Momentum 25 Juli 2025 menjadi titik temu dua peristiwa yang menyentuh hati bangsa: antusiasme tahun ajaran baru melalui MPLS Ramah 2025 dan euforia nasional atas kemenangan timnas Indonesia dalam laga adu penalti melawan Thailand. Dalam pertandingan yang menegangkan itu, Indonesia menang dengan skor dramatis 8:7, bukan hanya mengungguli lawan, tapi juga menaklukkan tekanan psikologis di momen krusial. Di tengah suasana pendidikan yang sedang bertransformasi menuju pendekatan kolaboratif dan berbasis karakter melalui Kurikulum Cinta dan Deep Learning, kemenangan ini menjadi cermin. Publik disatukan bukan hanya oleh skor, tapi oleh rasa haru: bahwa keberhasilan bukan hasil instan. Adu penalti tersebut menyentuh ruang batin bangsa mengajarkan bahwa kualitas dan kemenangan sejati dibangun dari proses panjang, latihan konsisten, keberanian menghadapi tekanan, dan kekuatan kerja sama. Maka, dalam konteks pendidikan, adu penalti ini bukan sekadar tontonan, tetapi tontonan yang menjadi tuntunan. Ia mengajarkan bahwa dalam dunia belajar, yang bertahan dengan nilai, strategi, dan mentalitaslah yang akan mampu mencetak “gol perubahan” bagi masa depan bangsa.
Dalam perspektif Human Capital Theory, kualitas sumber daya manusia terbentuk melalui investasi pendidikan yang konsisten, bukan sesaat. Thorndike juga menyatakan bahwa kesiapan mental dan lingkungan adalah fondasi belajar yang bermakna. Maka, pendidikan tidak hanya soal materi ajar, tetapi juga membangun kondisi psikologis dan sosial yang mendukung. Meskipun Kurikulum Cinta dan pendekatan Deep Learning telah digaungkan, pendidikan kita masih sering terjebak pada kultur kompetisi individual dan hasil ujian. MPLS pun kadang hanya menjadi seremonial tahunan, bukan awal yang kuat membentuk budaya belajar. Di sinilah refleksi dari adu penalti menjadi relevan—bahwa kolaborasi, strategi, dan ketahanan mental adalah kunci untuk membangun pendidikan kolaboratif di era 5.0.
Artkel ini, berupaya menjawab tiga pertanyaan dari rekan media mengenai nilai edukatif dari pertandingan dramatis tersebut, serta menggali implikasinya untuk memperkuat pendidikan karakter dan kolaboratif sejak hari pertama sekolah, dalam kerangka besar pembangunan bangsa. Berikut Jawaban atas 3 Pertanyaan Rekan Media:
Pertama: Esensi apa yang bisa digali dari laga dramatis adu penalti Indonesia vs Thailand? Pertandingan itu menggambarkan bahwa kualitas, kemenangan, dan daya tahan bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari proses panjang, latihan terstruktur, dan kekompakan tim. Adu penalti menjadi metafora tentang pentingnya kesiapan mental dan kepercayaan terhadap proses. Skor 8:7 mengajarkan bahwa dalam tekanan sekalipun, karakter dan konsistensi adalah penentu utama keberhasilan.
Kedua: Pendidikan apa yang bisa dielaborasi dari sepak bola tersebut? Sepak bola adalah miniatur pendidikan. Proses pelatihan teknis dan mental para pemain mencerminkan pentingnya pendidikan holistik. Guru seperti pelatih: bukan hanya memberi instruksi, tetapi membangun ketangguhan dan nilai. MPLS harus menjadi ruang menanam keberanian, gotong royong, dan semangat belajar yang tumbuh dari dalam, bukan hanya pengenalan struktur sekolah.
Ketiga: Pesan apa yang bisa disampaikan bagi peradaban bangsa? Bangsa yang kuat dibentuk oleh generasi yang siap menang bersama. Pendidikan tidak boleh mencetak pemenang tunggal, tetapi membangun sistem yang mendorong kerja tim, kolaborasi, dan saling dukung. Seperti timnas yang menang karena kekompakan, Indonesia masa depan hanya bisa unggul jika pendidikan mengajarkan menang bersama, bukan menang sendiri.
Refleksi dari skor 8:7 bukan soal euforia semata, melainkan soal arah pembentukan kualitas manusia Indonesia. Pendidikan di era 5.0 harus bergeser dari sistem selektif menuju sistem kolaboratif, dari evaluasi angka menuju evaluasi proses, dari sekolah sebagai tempat pelajaran menjadi sekolah sebagai ekosistem pembelajaran. Rekomendasi: 1) MPLS Ramah 2025 difokuskan pada penguatan nilai, rasa aman, dan semangat belajar kolektif, bukan sekadar penyampaian informasi; 2) Pelatihan guru harus menyentuh aspek emosional dan spiritual karena guru adalah pembentuk budaya sekolah, bukan sekadar pengajar konten; 3) Evaluasi berbasis portofolio dijadikan model nasional untuk merekam proses, refleksi, dan progres anak secara utuh.
Seorang sahabat pernah berseloroh, “Cing, dosa naon atuh sepak bola urang teu maju-maju?” Saya jawab, bukan soal dosa, tapi soal urus dan parab. Sama seperti pendidikan: bukan soal kurikulum semata, tapi soal siapa yang mengurus dan bagaimana anak-anak kita diberi perhatian. Mari kita jadikan MPLS sebagai awal pembinaan karakter, bukan sekadar kegiatan formal. Karena pendidikan bukan soal siapa yang paling cepat menendang bola, tetapi siapa yang paling siap menang bersama dalam pertandingan panjang bernama kehidupan. Wallahu A’lam.