Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H: Idul Fitri Di Tengah Gejolak Dunia: Meneguhkan Nilai-Nilai Islam Sebagai Jalan Perdamaian

IDUL FITRI DI TENGAH GEJOLAK DUNIA: MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAM SEBAGAI JALAN PERDAMAIAN

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

للهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ

  أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Pagi ini bumi dipenuhi gema takbir. Langit seakan ikut bersaksi atas kemenangan manusia yang berhasil menundukkan hawa nafsunya. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadan, kita sampai pada hari kemenangan: Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah.  Di tengah gema takbir Idul Fitri 1447 H (2026), suasana kemenangan ini terasa getir bagi saudara-saudara kita di Iran. Berikut adalah kelanjutan narasi tersebut berdasarkan situasi terkini: Semetara disana Saudara kita dalam situasi di tengah gejolak perang yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat, saudara kita umat Islam di Iran harus merayakan hari kemenangan di bawah bayang-bayang dentuman rudal dan sirine peringatan. Hingga pertengahan Maret 2026, krisis kemanusiaan semakin mendalam dengan laporan lebih dari 1.400 korban jiwa dan kehancuran infrastruktur sipil yang masif akibat eskalasi serangan udara.

Momen kembali ke fitrah kali ini menjadi ujian kesabaran yang luar biasa, di mana: 1) Hujan bom menggantikan keceriaan kembang api di langit Teheran dan kota-kota strategis lainnya; 2) Keluarga terpisah dan tradisi mudik terhambat akibat penutupan wilayah udara dan ketidakpastian keamanan; 3) Ketegangan internal meningkat dengan adanya penangkapan ratusan orang yang dituduh sebagai mata-mata di tengah situasi yang kacau. Meskipun dalam kepungan konflik, doa-doa tetap dipanjatkan agar Idul Fitri membawa pesan perdamaian yang nyata, bukan sekadar jeda di antara serangan.

Idul Fitri Kali ini bukan sekadar hari raya. Ia adalah hari penyucian jiwa. Para ulama menjelaskan bahwa kata fitri berarti kembali kepada keadaan asli manusia yang bersih dari dosa. Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, makna Idul Fitri berkaitan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu Al-‘Afwu. Jika Al-Ghafur berarti menutup dosa, maka Al-‘Afwu berarti menghapus dosa hingga tidak tersisa bekasnya. Seperti noda yang dihapus hingga benar-benar hilang.

Karena itu Idul Fitri adalah simbol lahirnya kembali manusia baru: manusia yang lebih bersih hatinya, lebih lembut akhlaknya, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Perlu di Maklumi bersama; Idul Fitri tahun ini hadir dalam suasana dunia yang penuh gejolak. Di berbagai belahan bumi, manusia masih menyaksikan konflik, peperangan, dan krisis kemanusiaan. Dalam perspektif ilmu sosial, para pemikir seperti Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf menjelaskan bahwa konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.

Konflik sering muncul karena perbedaan kepentingan, ketimpangan kekuasaan, serta perebutan sumber daya. Namun Islam tidak berhenti pada memahami konflik. Islam menawarkan jalan keluar berupa keadilan, rekonsiliasi, dan perdamaian. Allah SWT berfirman:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

Yang artinya; “Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128).

Ayat ini memastikan bahwa Islam adalah agama yang mengutamakan perdamaian (as-salam) dan rekonsiliasi (islah) di atas perpecahan. Prinsip ini menegaskan bahwa konflik, sejatinya dapat diselesaikan dengan mengedepankan keadilan, pemaafan, dan musyawarah demi mencapai kemaslahatan bersama. Perdamaian bukan hanya sekadar absennya konflik, melainkan penciptaan harmoni sosial yang berakar pada keadilan dan tanggung jawab sosial, sehingga perdamaian (ishlah) dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengakhiri perselisihan.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Dalam memahami realitas dunia, manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teori sosial. Akan tetapi dalam perspektif Islam, ilmu tidak berjalan tanpa arah. Wahyu memandu ilmu. Ilmu membantu manusia memahami realitas konflik, sementara wahyu menuntun manusia menuju kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Para ulama mengatakan:

العقل كالعين والوحي كالنور

Maknanya “Akal itu seperti mata, dan wahyu seperti cahaya.” Mata tidak dapat melihat tanpa cahaya, dan cahaya tidak berguna tanpa mata. Karena itu ketika ilmu bertemu dengan wahyu, lahirlah peradaban yang adil dan damai.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Islam juga mengajarkan prinsip moderasi beragama (wasathiyah) sebagai jalan tengah dalam kehidupan manusia. Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat yang moderat.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Moderasi beragama berarti sikap seimbang: tidak ekstrem, tidak radikal, dan tidak pula mengabaikan nilai agama. Moderasi beragama mengajarkan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Di tengah dunia yang penuh konflik, nilai-nilai inilah yang dibutuhkan oleh umat manusia.

Dari refleksi spiritual Ramadan, para ulama menjelaskan bahwa ibadah puasa bukan sekadar latihan fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan proses tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa yang melahirkan perubahan karakter manusia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa tujuan utama ibadah adalah membentuk akhlak yang mulia dan membersihkan hati dari penyakit seperti kesombongan, kebencian, dan permusuhan.

Demikian pula Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ibadah yang benar akan melahirkan transformasi batin yang tampak dalam perilaku manusia sehari-hari. Ibadah tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan akhlak yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama. Sementara itu, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mengumpulkan berbagai hadis yang menunjukkan bahwa kesempurnaan iman tampak pada akhlak yang baik, seperti menjaga lisan, menahan amarah, dan memberi manfaat kepada manusia.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Karena itu, para ulama sering menegaskan bahwa orang yang berhasil menjalani Ramadan akan lahir kembali sebagai manusia yang lebih baik, “manusia Baru” dengan Ke-Fitian-nya, seakan-akan menjadi manusia baru yang hatinya lebih bersih dan perilakunya lebih mulia. Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat tujuh tanda manusia baru setelah Ramadan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, hatinya lebih lembut dan mudah memaafkan; Kalimat “Pertama, hatinya lebih lembut dan mudah memaafkan” menggambarkan ciri kepribadian yang mulia, sering dikaitkan dengan kelembutan hati yang memudahkan seseorang untuk melepaskan dendam, bersikap empati, dan menerima kesalahan orang lain. Ramadan mendidik hati manusia menjadi lembut karena ia dilatih dengan puasa, doa, dan istighfar. Ketika manusia merasakan rahmat dan ampunan Allah, maka ia terdorong untuk menebarkan maaf kepada sesama. Inilah makna spiritual dari sifat Al-‘Afwu, yaitu penghapusan dosa yang melahirkan hati yang bersih. Allah SWT berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampuni kamu?” (QS. An-Nur: 22).

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari kebencian dan dendam. Orang yang hatinya dipenuhi rahmat akan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain, karena ia menyadari bahwa dirinya sendiri sangat membutuhkan ampunan Allah. Karena itu, tanda manusia baru setelah Ramadan adalah hatinya menjadi lebih lapang. Ia tidak lagi mudah menyimpan dendam, tetapi lebih memilih jalan maaf dan rekonsiliasi. Dari hati yang lembut inilah lahir kedamaian dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan manusia secara luas.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Kedua, lisannya terjaga dari kebencian dan permusuhan; Menjaga lisan dari kebencian dan permusuhan adalah prinsip dasar akhlak mulia dalam Islam, yang bertujuan untuk menciptakan harmoni dan menghindari perpecahan. Lisan yang terjaga berarti tidak mengeluarkan perkataan keji, fitnah, adu domba (namimah), atau ujaran kebencian yang dapat menyakiti orang lain. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR. Bukhari).

Untuk hal itu, Ayat Al-Qur’an juga mengingatkan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatatnya.” (QS. Qaf: 18).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan iman, karena banyak kerusakan sosial lahir dari kata-kata yang kasar dan penuh kebencian. Karena itu manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang lisannya lebih bijak. Ia tidak mudah menyebarkan fitnah, tidak gemar menghina, dan tidak memprovokasi permusuhan. Lisannya menjadi sumber kebaikan, doa, dan nasihat. Ketika lisan manusia terjaga, maka kehidupan sosial akan lebih damai dan penuh penghormatan.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Ketiga, tangannya ringan membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah; Ringan tangan dalam membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah merupakan perwujudan kepedulian sosial, ketaatan kepada Allah SWT, dan sarana pembersihan harta maupun jiwa. Ramadan adalah bulan solidaritas sosial. Ibadah zakat, infak, dan sedekah mengajarkan bahwa harta bukan sekadar milik pribadi, tetapi juga memiliki hak bagi orang lain. Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Menurut Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, solidaritas sosial adalah kekuatan yang menjaga keseimbangan masyarakat. Ketika orang kaya membantu yang lemah, maka tercipta stabilitas sosial dan keadilan ekonomi. Karena itu manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang tangannya ringan menolong. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan orang lain. Dari sikap berbagi ini lahir rasa persaudaraan dan keadilan sosial yang menjadi fondasi perdamaian masyarakat.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Keempat, pikirannya terbuka terhadap dialog dan perdamaian; Sikap ini merupakan fondasi penting dalam membangun kerukunan antarumat beragama, di mana perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai realitas sosial yang harus diterima. Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah dialog dan musyawarah. Al-Qur’an menegaskan:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38).

Islam juga mengajarkan dialog dengan cara yang bijak:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa Islam adalah agama moderasi yang menolak ekstremisme. Prinsip wasathiyah mengajarkan keseimbangan, toleransi, dan keterbukaan terhadap dialog. Karena itu manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang pikirannya terbuka. Ia tidak mudah menghakimi orang lain, tetapi berusaha memahami perbedaan dengan bijaksana. Dari sikap dialogis ini lahir budaya damai dalam kehidupan masyarakat yang plural.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Yang Kelima, ia mampu menahan amarah; Pernyataan “Yang Kelima, ia mampu menahan amarah” merujuk pada salah satu ciri utama orang yang bertaqwa atau orang yang memiliki kekuatan diri yang tinggi, terutama dalam konteks akhlak Islam. Allah berfirman:

وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali Imran: 134).  Rasulullah SAW juga bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa amarah yang tidak terkendali adalah pintu bagi berbagai kerusakan moral dan sosial. Sebaliknya, orang yang mampu menahan amarah menunjukkan kedewasaan spiritual. Karena itu manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang lebih sabar. Ia tidak mudah terpancing emosi, tidak cepat membalas keburukan, dan lebih memilih jalan kebijaksanaan.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Yang Keenam, ia peduli terhadap penderitaan sesama manusia; Mgisaratkan kepada seseorang manusia; ia peduli terhadap penderitaan sesama manusia; ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka, menunjukkan belas kasih yang nyata (berbelarasa), dan tidak tinggal diam (tidak egois) terhadap kebutuhan orang lain. Islam mengajarkan empati sebagai dasar kehidupan sosial. Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

“Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang mereka seperti satu tubuh.”(HR. Muslim).

Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya kepedulian sosial:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Dialah yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Ma’un: 1-2).

Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid, kepedulian terhadap orang lemah merupakan tanda keimanan yang hidup dalam hati. Karena itu manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang peka terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak menutup mata terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan kesulitan sesama.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Yang Terakhir Ketujuh, ia menjadi pribadi yang membawa rahmat bagi lingkungannya;  Ciri seseorang, ia menjadi pribadi yang membawa rahmat bagi lingkungannya; kehadirannya memberikan rasa aman, ketenangan, serta membawa manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Allah juga menegaskan misi Islam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Menurut Imam Asy-Syatibi, tujuan syariat adalah menjaga kemaslahatan manusia. Karena itu seorang Muslim sejati harus menjadi sumber manfaat bagi lingkungannya. Manusia baru setelah Ramadan adalah manusia yang membawa rahmat: menebarkan kebaikan, menolong sesama, dan menjaga harmoni kehidupan.

اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) اللهُ أَكْبَرُ (٣×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 

Jika manusia seperti ini lahir dari Ramadan, maka dunia akan menjadi lebih damai. Perdamaian dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik atau militer, tetapi juga oleh kebersihan hati manusia. Dari hati yang bersih lahir perilaku yang adil, dari perilaku yang adil lahir masyarakat yang damai, dan dari masyarakat yang damai lahir peradaban manusia yang lebih bermartabat. Itulah barangkali makna Idul Fitri yang sejatinya: bukan sekadar pergantian hari dari Ramadan menuju Syawal, tetapi momentum kelahiran kembali manusia yang lebih jernih hatinya, lebih lembut akhlaknya, dan lebih luas kasih sayangnya.

Jika selama Ramadan kita belajar menahan diri, maka setelah Ramadan kita belajar menebarkan kedamaian. Jika selama Ramadan kita memohon ampunan Allah melalui sifat-Nya Al-‘Afwu yang menghapus dosa, maka setelah Idul Fitri kita pun dipanggil untuk menghapus kesalahan sesama manusia dengan hati yang lapang. Inilah makna kembali kepada fitrah: manusia yang tidak lagi dikuasai oleh kebencian, tetapi dipenuhi oleh rahmat dan kasih sayang.

Apabila manusia-manusia seperti ini lahir dari Ramadan, maka dunia yang penuh konflik akan menemukan harapan baru. Perdamaian tidak hanya dibangun oleh kekuatan politik dan kekuasaan, tetapi oleh hati-hati manusia yang bersih, yang mampu memaafkan, menolong, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Semoga Idul Fitri ini benar-benar melahirkan manusia-manusia baru yang membawa rahmat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh umat manusia. Wallahu a‘lam bish-shawab.

للهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ; Demikianlah Khutbah Idul Fitri kali ini, semoga bisa kita resapi dan kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah senantiasa mempertahankan kesucian kita di Hari Raya Idul Fitri seperti bayi yang terlahir kembali. Amin.

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *