Wawancara Eksekutif Kamis, 14 Februari 2026:11;37 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
”Tiga pertanyaan kunci pasca-wisuda: nilai manajemen apa, relevansi “kurikulum cinta” di era AI, dan pesan moral bagi para lulusan?”
Wisuda ke-106 UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengusung tema “Cerdas Spiritual, Tangguh Digital” sebuah pesan yang terasa makin penting ketika pendidikan masih dihadapkan pada ketimpangan akses, tekanan biaya, dan disrupsi teknologi. Di satu sisi, AI membuka peluang efisiensi dan inovasi; di sisi lain, ia berisiko menajamkan jurang jika empati dan keadilan tidak menjadi kompas.
Secara teoritik, tema ini bertumpu pada dua poros: (a) manajemen pendidikan modern yang menuntut tata kelola berbasis mutu, akuntabilitas, dan data; serta (b) etos keislaman tentang amanah, keadilan, dan kemaslahatan. Gap-nya jelas: transformasi digital sering cepat, tetapi transformasi nilai (integritas, empati, keberpihakan) sering tertinggal. Karena itu, tulisan ini memakai pendekatan reflektif-analitis (menghubungkan fenomena, konsep, dan implikasi kebijakan) untuk menjawab tiga pertanyaan rekan Bedanews: nilai manajemen, konteks kurikulum cinta di era AI, dan pesan moral bagi wisudawan:
1. Nilai manajemen pendidikan apa yang bisa digali dari tema wisuda ke-106?
Tema ini memuat “paket” nilai manajemen pendidikan yang sangat operasional. Pertama, kepemimpinan berbasis nilai: digitalisasi kampus bukan sekadar membeli aplikasi, melainkan memastikan teknologi melayani misi kampus—membangun manusia berilmu dan berakhlak. Ini menuntut rektorat dan fakultas menjadikan spiritualitas sebagai north star kebijakan: transparansi, anti-korupsi, dan keberpihakan pada mahasiswa rentan. Kedua, manajemen mutu dan akuntabilitas: “tangguh digital” mengandaikan proses akademik yang terukur kurikulum adaptif, pembelajaran berbasis data (learning analytics), serta evaluasi yang adil. Namun “cerdas spiritual” mengingatkan agar ukuran mutu tidak semata ranking, melainkan juga integritas lulusan, etika profesi, dan kontribusi sosial. Ketiga, efisiensi yang bermartabat: kampus dituntut efisien, tetapi bukan dengan memangkas hak belajar. Efisiensi bermakna menutup kebocoran, menyederhanakan birokrasi, dan mengarahkan anggaran pada layanan inti: dosen, riset, literasi digital, dan beasiswa. Keempat, manajemen risiko dan ketahanan: era AI penuh ketidakpastian (hoaks, plagiarisme, bias algoritma, kebocoran data). Kampus perlu SOP etika AI, keamanan siber, dan literasi informasi—agar ketangguhan digital menjadi nyata, bukan slogan.
2. Bagaimana konteks tema wisuda dengan era “kurikulum cinta” di era AI?
“Kurikulum cinta” dapat dibaca sebagai kurikulum yang menempatkan kasih sayang, empati, dan penghormatan martabat manusia sebagai ruh pembelajaran. Di era AI, konteksnya menjadi sangat relevan karena AI unggul dalam kecepatan dan pola, tetapi lemah dalam rasa. Maka tema “cerdas spiritual” adalah fondasi kurikulum cinta: membentuk nurani, adab, dan orientasi kemaslahatan; sedangkan “tangguh digital” adalah perangkatnya: literasi AI, kemampuan verifikasi informasi, dan kecakapan kolaborasi digital. Implikasinya pada desain kurikulum: (1) AI sebagai alat, bukan pengganti akhlak: mahasiswa boleh menggunakan AI untuk riset awal, ringkas bacaan, atau simulasi, namun tetap wajib menunjukkan proses berpikir, sitasi, dan integritas akademik. (2) Pembelajaran berbasis proyek kemanusiaan: proyek yang menyentuh masalah nyata (pendampingan literasi, edukasi finansial keluarga, pengabdian desa digital) agar teknologi bertemu empati. (3) Penilaian yang manusiawi: tidak hanya output, tetapi juga proses, kejujuran, kerja tim, dan dampak sosial. (4) Etika AI dan bias: kurikulum cinta menuntut kesadaran bahwa algoritma bisa bias; karena itu mahasiswa harus mampu mengkritisi data dan mengambil sikap adil.
Dengan begitu, tema wisuda menjadi jembatan: spiritualitas menjaga arah, AI memperkuat daya jelajah, dan cinta memastikan pendidikan tetap memanusiakan.
3. Pesan moral apa bagi para wisudawan dari tema tersebut?
Ada tiga pesan moral utama. Pertama, jadikan iman dan adab sebagai “sistem operasi” hidup. Gelar akademik mudah dipamerkan, tetapi karakter diuji dalam pilihan kecil: jujur saat tidak diawasi, amanah saat memegang wewenang, dan rendah hati saat sukses. “Cerdas spiritual” berarti menjadikan syukur, doa, dan bakti kepada orang tua sebagai energi etik bukan sekadar ritual. Kedua, kuasai teknologi tanpa kehilangan empati. “Tangguh digital” bukan berarti paling canggih, melainkan paling siap menghadapi perubahan: belajar ulang, menyaring informasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab. Lulusan yang baik bukan yang “menang” dari orang lain, tetapi yang membuat orang lain ikut terangkat. Ketiga, ukur keberhasilan dengan kebermanfaatan. Indonesia Emas 2045 tidak ditopang oleh individualisme prestasi, tetapi oleh kerja kolektif: profesi yang melayani, riset yang menyelesaikan masalah, dan kepemimpinan yang adil. Jika kelak menjadi birokrat, guru, pengusaha, atau akademisi, pegang prinsip: jangan biarkan teknologi memperlebar ketimpangan. Buatlah inovasi yang memperluas akses, menurunkan biaya sosial, dan menghadirkan keadilan. Singkatnya: wisuda adalah awal pengabdian spiritualitas menjaga nurani, digitalitas memperkuat kapasitas, dan keduanya harus berujung pada maslahat. Wallahu A’lam.


