Di Era AI, Pers Menjaga Nurani atau Kehilangan Arah Demokrasi?

Wawancara Eksekutif Kamis, 10 Februari 2026:09;37 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

“Di tengah kecerdasan buatan, pers diuji: menjaga etik dan nurani publik, atau larut dalam kecepatan mesin yang tanpa arah?”

Disrupsi kecerdasan buatan (AI) mengubah lanskap jurnalistik secara mendasar. Produksi berita menjadi lebih cepat, distribusi lebih luas, dan analisis data semakin presisi. Namun di balik efisiensi itu, muncul persoalan serius: menipisnya kedalaman, empati, dan tanggung jawab etik. Publik dibanjiri informasi, tetapi justru mengalami kelelahan dan kebingungan.

Kerapuhan ini paralel dengan potret buram pendidikan nasional. Kita pernah dikejutkan oleh kabar pilu seorang anak usia sepuluh tahun yang mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung biaya sekolah. Di wilayah seperti NTT, biaya transportasi, seragam, dan buku masih membebani keluarga miskin. Anggaran pendidikan besar di atas kertas, tetapi tidak selalu sampai kepada yang paling membutuhkan.

Secara teoretis, pendidikan dan informasi sama-sama diposisikan sebagai public good—hak warga negara yang harus dijamin negara demi keadilan sosial. Prinsip ini sejalan dengan Al-Qur’an (QS. An-Nisa: 75) dan hadis Nabi tentang tanggung jawab kolektif. Namun terdapat gap antara ideal normatif dan praktik empirik. Dalam refleksi tajamnya, Imam Suprayogo mengingatkan, “Pendidikan kita sedang sakit di bagian hati; tes psikologi hanya memotret gejala, namun Ruhiologi memberikan penyembuhan.” Di sinilah pers, pendidikan, dan nurani publik saling berkelindan. Tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan kunci dari rekan Media Bedanews dengan pendekatan normatif–empirik–reflektif:

Bagaimana Menjaga Kode Etik dan Profesionalisme Wartawan di Era AI?

AI dapat membantu riset, transkripsi, dan analisis data, tetapi ia tidak memiliki tanggung jawab moral. Karena itu, kode etik jurnalistik justru harus diperkuat, bukan dilonggarkan. Prinsip verifikasi, independensi, dan keberimbangan tetap menjadi fondasi utama.  Secara empirik, tantangan terbesar adalah godaan kecepatan. AI mendorong produksi instan, sementara etika menuntut kehati-hatian. Profesionalisme wartawan di era AI ditandai oleh kemampuan human-in-the-loop: manusia tetap menjadi pengambil keputusan akhir. Refleksinya, pelatihan etik, literasi AI, dan penguatan redaksi menjadi kunci agar teknologi melayani kebenaran, bukan sebaliknya.

Bagaimana Eksistensi Pers di Era AI?

Eksistensi pers hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat, tetapi oleh siapa yang paling dapat dipercaya. Di tengah banjir konten, publik mencari makna, bukan sekadar informasi. Karena itu, peran pers bergeser dari content producer menjadi meaning curator. Secara teori ekologi media, teknologi membentuk cara berpikir masyarakat. Empiriknya, algoritma cenderung mendorong sensasi. Refleksinya, pers harus hadir sebagai penjernih: memberi konteks, perspektif lokal, dan kedalaman analisis. Di sinilah pers menemukan kembali martabatnya bukan menyaingi mesin, tetapi melampauinya dengan nilai.

Mengapa Pers Tetap Menjadi Penopang Demokrasi di Era AI?

Demokrasi membutuhkan warga yang terinformasi secara benar. AI bisa mempercepat arus informasi, tetapi juga memperbesar risiko disinformasi. Tanpa pers yang independen dan beretika, ruang publik mudah dikuasai narasi manipulatif.

Empiriknya, pers berfungsi sebagai pengawas kekuasaan, penyalur suara kelompok rentan, dan ruang dialog kebangsaan. Refleksinya, justru di era AI peran pers sebagai penopang demokrasi semakin vital. Pers menjaga agar teknologi tidak menggantikan akal sehat publik, melainkan memperkuatnya.

Singkatnya di era AI, pers dihadapkan pada pilihan mendasar: sekadar mengikuti mesin atau tetap menjaga nurani. Jawaban atas tiga pertanyaan di atas menegaskan satu hal: pers bermartabat lahir dari integrasi teknologi dengan etika, profesionalisme, dan tanggung jawab demokratis. Selama pers setia pada nurani publik, ia akan tetap menjadi pilar peradaban bukan korban disrupsi. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *