Wawancara Eksekutif Kamis, 9 Februari 2026:09;04 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Pegiat Komunitas Pena Berkarya Bersama di Kompasiana. Admin, Proposal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Di tengah disrupsi AI, pers diuji: sekadar bertahan atau justru memimpin arah peradaban bangsa?
Peringatan Hari Pers Nasional 2026 berlangsung di tengah lanskap yang berubah cepat. Pers tidak lagi hanya berhadapan dengan tekanan ekonomi dan politik, tetapi juga dengan lonjakan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. Fenomena banjir informasi, disinformasi, serta kelelahan publik terhadap berita instan menjadi latar krusial HPN 2026.
Secara teoretis, peran pers dapat dibaca melalui teori tanggung jawab sosial (Hutchins Commission) yang menekankan kewajiban moral media, serta teori ekologi media (McLuhan) yang melihat teknologi sebagai lingkungan pembentuk kesadaran publik. Namun, terdapat gap: kemajuan teknologi media tidak selalu diimbangi kedalaman etik, literasi kritis, dan kualitas sumber daya manusia pers.
Dari sisi kualifikasi akademik, tantangan ini menuntut pendekatan mixed-method: analisis normatif (nilai pers), empiris (praktik jurnalistik digital), dan reflektif (peran pendidikan). Tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan kunci HPN 2026: nilai peradaban, eksistensi pers di era AI, dan pesan manajemen pendidikan bagi perguruan tinggi.
1. Nilai dan Esensi HPN 2026 bagi Peradaban Bangsa
HPN 2026 menegaskan bahwa pers bukan sekadar industri informasi, melainkan institusi peradaban. Nilai utama yang dapat digali adalah nurani publik. Di tengah algoritma yang mendorong sensasi dan polarisasi, pers dipanggil menjaga akal sehat kolektif bangsa.
Dalam konteks peradaban, pers berfungsi sebagai penjernih makna: menghubungkan fakta dengan nilai, peristiwa dengan hikmah. Pers yang sehat tidak hanya mengabarkan “apa yang terjadi”, tetapi juga “mengapa itu penting bagi kemanusiaan dan kebangsaan”. HPN 2026 mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak diukur dari kecepatan viralitas, melainkan dari kedewasaan wacana publik yang dirawat pers secara konsisten.
2. Eksistensi dan Peran Pers di Era Digital AI
Era AI menghadirkan paradoks. Di satu sisi, AI meningkatkan efisiensi produksi berita. Di sisi lain, ia mengancam kedalaman, keaslian, dan empati jurnalistik. Eksistensi pers hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang tercepat, tetapi oleh siapa yang paling dapat dipercaya.
Peran pers bergeser dari content producer menjadi meaning curator. Pers harus menjadi penjaga verifikasi, etika, dan konteks wilayah yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin. AI dapat membantu kerja teknis, tetapi nurani, tanggung jawab sosial, dan keberpihakan pada kebenaran tetap domain manusia. Di sinilah pers menemukan kembali martabatnya.
3. Pesan Manajemen Pendidikan untuk Perguruan Tinggi Berkualitas
HPN 2026 menyampaikan pesan penting bagi manajemen pendidikan tinggi: kualitas tidak cukup dibangun melalui akreditasi dan infrastruktur, tetapi melalui ekosistem nilai. Perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan yang literat media, beretika digital, dan mampu berpikir kritis di tengah AI.
Manajemen pendidikan harus mengintegrasikan jurnalisme nilai, literasi digital, dan kepemimpinan etik dalam kurikulum lintas disiplin. Kampus yang berkualitas adalah kampus yang melahirkan insan akademik berani berpikir jernih, bukan sekadar pintar mengikuti algoritma. Di titik ini, pers dan perguruan tinggi bertemu sebagai mitra peradaban. Wallahu A’lam.


