Wawancara Eksekutif Kamis, 5 Februari 2026:11;28 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Admin, Prop0sal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
“Di usia ke-79, HMI diuji: sekadar simbol sejarah atau wahana pembelajaran yang menata ulang manajemen, peradaban, dan moral generasi muda?”
Awal Februari selalu menjadi momentum reflektif bagi dunia pendidikan dan gerakan mahasiswa. Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir di tengah ironi pendidikan nasional: akses yang belum merata, biaya pendidikan yang menekan, dan orientasi kebijakan yang kerap mengutamakan administrasi ketimbang ruh pendidikan. Fenomena ini menegaskan bahwa persoalan pendidikan bukan hanya teknis, tetapi juga moral. Secara teoretis, manajemen pendidikan modern menekankan value-based leadership dan learning organization organisasi yang belajar dari praktik, refleksi, dan pelayanan. Dalam perspektif ini, organisasi mahasiswa idealnya menjadi ruang kaderisasi nilai, bukan sekadar struktur kegiatan. Kesenjangan (gap) tampak antara cita ideal pendidikan berkarakter dan praktik lapangan yang masih berorientasi output jangka pendek. Di sinilah organisasi mahasiswa berperan sebagai jembatan nilai antara gagasan akademik dan realitas sosial. Sebagaimana refleksi Imam Suprayogo, “pendidikan kita sedang sakit di bagian hati,” sehingga membutuhkan sentuhan etik dan spiritual. Karena itu, tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan kunci terkait Milad HMI ke-79: nilai manajemen pendidikan organisasi, eksistensi dan kiprah peradaban, serta pesan moral bagi generasi muda:
Pertama: Nilai manajemen pendidikan organisasi dari Milad HMI ke-79; Milad HMI ke-79 menyuguhkan pelajaran penting tentang manajemen pendidikan organisasi berbasis nilai. Kesatu, manajemen kaderisasi berkelanjutan. HMI menempatkan proses pembelajaran kader sebagai inti organisasi mulai dari basic training hingga pengabdian sosial yang menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses jangka panjang, bukan event seremonial. Kedua, kepemimpinan berbasis etika. Prinsip Insan Cita menekankan keseimbangan iman, ilmu, dan amal. Ini selaras dengan manajemen pendidikan bermutu yang menuntut integritas pemimpin sebagai teladan, bukan sekadar pengelola program. Ketiga, organisasi sebagai learning organization. HMI berfungsi sebagai wahana pembelajaran tempat refleksi, dialog, dan koreksi diri. Model ini relevan untuk dunia pendidikan yang membutuhkan budaya belajar kolektif. Milad ke-79 menegaskan bahwa manajemen pendidikan tidak cukup diukur oleh output, tetapi oleh konsistensi nilai dan karakter yang dibentuk.
Kedua: Eksistensi dan kiprah HMI dalam membangun peradaban bangsa; Eksistensi HMI tidak terpisah dari sejarah peradaban Indonesia. Alumni HMI hadir di berbagai sektor: pendidikan, birokrasi, sosial, dan keagamaan. Kiprah ini menunjukkan bahwa HMI berfungsi sebagai inkubator kepemimpinan bangsa. Lebih dari itu, HMI berkontribusi pada peradaban intelektual melalui tradisi diskusi, literasi, dan advokasi sosial. Di tengah perubahan zaman, eksistensi HMI diuji bukan oleh usia, melainkan relevansi. Ketika HMI konsisten pada khidmat melayani umat dan bangsa ia tetap menjadi aktor peradaban, bukan sekadar penonton sejarah. Milad ke-79 menjadi momentum untuk memperkuat peran tersebut melalui kerja nyata, khususnya di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Ketiga: Pesan moral bagi generasi muda di Milad HMI ke-79; Pesan moral utama bagi generasi muda adalah menjadikan organisasi sebagai ruang belajar, bukan panggung eksistensi. Insan Cita mengajarkan bahwa kualitas diri dibangun melalui disiplin, keikhlasan, dan keberanian melayani. Generasi muda perlu memahami bahwa perubahan besar lahir dari kerja sunyi dan konsistensi. Di era digital yang bising, nilai HMI menegaskan pentingnya etika, empati, dan keberpihakan pada yang lemah. Milad ke-79 mengingatkan: intelektual sejati bukan yang paling lantang berbicara, tetapi yang paling siap bekerja untuk kemaslahatan bersama.
Singkatnya Milad HMI ke-79 bukan sekadar perayaan usia, melainkan cermin evaluasi. Ketika nilai manajemen, kiprah peradaban, dan pesan moral dijalankan secara konsisten, HMI akan terus relevan sebagai wahana pembelajaran bagi Insan Cita dan bangsa. Wallahu A’lam.


