Nisfu Sya’ban: Tradisi Tahunan atau Strategi Perubahan Diri?

Wawancara Eksekutif Selasa, 4 Februari 2026:11;28 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Admin, Prop0sal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

“Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi, melainkan momen refleksi, menata hati, dan menyusun langkah ruhani sebelum memasuki Ramadan.”

Tulisan saya sebelumnya di Pikiran Rakyat kolom Jurnal Soreang memantik respons publik. Rekan media Bedanews mengajukan tiga pertanyaan mendasar tentang makna Nisfu Sya’ban. Fenomenanya jelas: sebagian umat merayakannya sebagai tradisi sosial (munggahan, botram, ziarah), namun sebagian lain memaknainya sebagai momentum spiritual.

Secara teoretis, psikologi pendidikan menjelaskan habit formation—karakter lahir dari latihan berulang. Dalam manajemen diri dikenal siklus plan–do–check–act. Islam lebih dulu menanamkan prinsip itu lewat muhasabah, taubat, dan istiqamah, sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ada celah (gap) antara ritual dan refleksi. Karena itu, tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan: urgensi Nisfu Sya’ban, nilai spiritualnya, serta pesan manajemen edukasi yang dapat dipetik:

Pertama: Mengapa Nisfu Sya’ban begitu penting bagi umat Islam? Nisfu Sya’ban penting karena ia berfungsi sebagai “ruang antara”: jembatan dari rutinitas biasa menuju Ramadan yang intens. Banyak riwayat menyebut malam ini sebagai momen ampunan dan pengangkatan catatan amal, sehingga umat terdorong melakukan evaluasi diri. Nilai urgensinya bukan pada kemeriahan ritual, melainkan kesadaran reflektif.

Al-Qur’an mengajarkan sikap antisipatif terhadap masa depan spiritual: “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Rasulullah ﷺ pun menegaskan pentingnya niat: “Sesungguhnya amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari-Muslim). Artinya, sebelum memperbanyak amal, hati harus dibenahi.

Dalam kerangka ini, Nisfu Sya’ban menjadi semacam audit ruhani tahunan. Kita menilai ulang ibadah, relasi sosial, dan arah hidup. Tanpa momen jeda seperti ini, Ramadan berisiko dijalani secara otomatis, bukan sadar. Karena itu, pentingnya Nisfu Sya’ban terletak pada fungsinya sebagai alarm spiritual membangunkan hati sebelum memasuki bulan latihan besar. Ia bukan malam magis, melainkan momen strategis untuk perubahan diri.

Kedua: Nilai spiritual apa yang bisa digali dari Nisfu Sya’ban? Ada tiga nilai utama: muhasabah, rekonsiliasi, dan pembiasaan ibadah. Muhasabah menuntun kita menilai diri dengan jujur—apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disyukuri. Rekonsiliasi mendorong perbaikan hubungan sosial lewat silaturahmi dan saling memaafkan. Pembiasaan ibadah melatih konsistensi melalui qiyamul lail, tilawah, istighfar, dan puasa sunnah.

Nilai-nilai ini ditegaskan dalam dalil agama. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10) menekankan dimensi sosial iman. Sementara hadis, “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit” (HR. Bukhari-Muslim), menekankan dimensi konsistensi.

Secara spiritual, Nisfu Sya’ban mengajarkan bahwa iman bukan ledakan sesaat, tetapi proses bertahap. Ibarat menyalakan lampu di ruangan gelap, hati perlu dibersihkan dari dendam, kesombongan, dan kelalaian. Dari situ lahir ketenangan. Jadi, nilai terdalam Nisfu Sya’ban adalah transformasi batin: dari lalai menjadi sadar, dari egois menjadi peduli, dari rutinitas menjadi makna.

Ketiga: Pesan manajemen edukasi apa yang bisa disampaikan dari Nisfu Sya’ban? Dari perspektif manajemen pendidikan, Nisfu Sya’ban mengajarkan prinsip perencanaan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Ia serupa siklus manajemen Pendidikan: refleksi (check), perbaikan niat (plan), praktik ibadah (do), lalu evaluasi ulang (act). Pola ini relevan bagi pendidik, siswa, dan pemimpin lembaga.

Pertama, pentingnya self-regulated learning: mengelola diri sebelum mengelola orang lain. Kedua, membangun budaya kecil namun konsisten membaca harian, disiplin waktu, sedekah rutin karena karakter lahir dari kebiasaan. Ketiga, mengintegrasikan nilai spiritual dan sosial dalam pendidikan, agar belajar tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Rasulullah ﷺ memberi teladan manajemen berbasis keteladanan, bukan sekadar instruksi. Dalam konteks ini, Nisfu Sya’ban adalah “kelas refleksi” tahunan: mengukur capaian, memperbaiki strategi, dan menata tujuan. Pesannya jelas pendidikan sejati dimulai dari pembinaan hati. Ketika hati tertata, ilmu menjadi cahaya; ketika hati lalai, ilmu hanya angka. Singkatnya, Nisfu Sya’ban bukan hanya tradisi, melainkan strategi ruhani dan edukasi menata diri sebelum menata dunia. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *