Wawancara Eksekutif Selasa, 20 Januari 2026:21;28 dengan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM. Guru Besar Manajemen Pendidikan; Admin, Prop0sal Pendirian UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
“Sya’ban sering sunyi, tapi justru di sini iman diuji: disiplin, muhasabah, damai sosial, dan kesiapan ruhani sebelum panen Ramadan.”
Sya’ban berada di antara Rajab dan Ramadan dua bulan yang lebih “ramai” di ruang public sehingga ia kerap diperlakukan sebagai jeda, bukan fase pembinaan. Fenomena ini terlihat dalam kebiasaan beragama: semangat melonjak di awal Ramadan, tetapi cepat turun karena fondasi prosesnya belum matang. Dalam kacamata pendidikan karakter dan pembentukan kebiasaan (habit formation), perubahan yang bertahan lahir dari latihan kecil yang konsisten, bukan dari “ledakan” motivasi sesaat. Dalam tradisi tazkiyatun-nafs, proses juga lebih penting daripada euforia: hati dibersihkan, niat ditata, lalu amal dijaga. Ada kesenjangan antara semangat ibadah musiman dan pembiasaan ibadah yang berkelanjutan. Tulisan ini memakai pendekatan reflektif-naratif (pengalaman sosial-keagamaan awal 2026) dipadukan dengan rujukan nash dan kerangka pendidikan karakter. Tujuan penulisan ini, merupakan tiga jawaban ringkas-mendalam atas pertanyaan Bedanews: nilai spiritual, pesan edukasi, dan hakikat Sya’ban bagi umat Islam.
Pertama. Nilai spiritual apa yang bisa digali dari bulan Sya’ban?;
Nilai spiritual Sya’ban adalah pemurnian kualitas, bukan penambahan sensasi. Ia mengajari disiplin proses: amal kecil yang dijaga lebih kuat daripada amal besar yang putus. Sya’ban juga bernilai muhasabah karena manusia mudah terjebak merasa “sudah baik” saat memasuki Ramadan, padahal yang dibutuhkan adalah evaluasi niat, adab, dan konsistensi. Nilai berikutnya adalah kesiapan ruhani: puasa sunnah, tilawah, zikir, dan doa berfungsi sebagai “pemanasan” agar ibadah Ramadan tidak terasa berat. Ada pula nilai pembersihan hati sosial: memutus rantai dendam, merawat silaturahmi, dan mengubah konflik menjadi rekonsiliasi karena hati yang keruh sulit menikmati ampunan. Puncaknya, Sya’ban menegaskan integrasi iman-ilmu: menulis, mengajar, bekerja, dan melayani menjadi ibadah bila diniatkan lillah membawa ruh ihsan ke ruang pendidikan dan peradaban.
Kedua: Pesan edukasi apa yang bisa diungkap dari bulan Sya’ban?
Pesan edukasi Sya’ban adalah pendidikan ketahanan karakter. Pertama, ia menanamkan self-regulated learning versi spiritual: menetapkan target realistis (tilawah, sedekah, puasa sunnah), memonitor kemajuan, lalu memperbaiki strategi. Kedua, Sya’ban melatih keteraturan emosional: tidak mudah terpancing, tidak reaktif, karena keberhasilan ibadah sangat dipengaruhi stabilitas batin. Ketiga, ia mengajarkan moderasi dan kesinambungan: semangat boleh tinggi, tetapi harus ditopang ritme yang terukur. Keempat, Sya’ban memperkuat etika sosial belajar: membersihkan relasi, meminta maaf, mengurangi prasangka sebab suasana hati memengaruhi fokus, empati, dan daya serap ilmu. Kelima, ia relevan untuk semester genap 2025/2026: peserta didik dan pendidik membutuhkan pola “menyiram” (konsisten, reflektif, terarah) agar capaian akademik dan akhlak tidak bergantung pada momen seremonial.
Ketiga: Apa hakikat bulan Sya’ban bagi umat Islam?
Hakikat Sya’ban adalah bulan transisi pembuktian: jembatan dari niat baik menuju keteguhan amal. Jika Rajab menandai kesadaran memulai, maka Sya’ban adalah fase perawatan menguatkan akar agar tidak mudah tumbang saat ujian. Di titik ini, Sya’ban berfungsi seperti “ruang praktik”: memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak istighfar, menertibkan waktu, dan menundukkan ego sosial. Hakikat lainnya: membangun kesiapan panen. Ramadan bukan sekadar kalender ibadah, melainkan musim perubahan perilaku; namun perubahan tidak lahir dari hari pertama Ramadan, melainkan dari latihan yang dimulai sebelumnya. Karena itu, Sya’ban adalah bulan “mendidik pelan”: menormalkan kebaikan hingga menjadi karakter. Dalam napas kebangsaan selaras dengan semangat rukun dan sinergi Sya’ban mengingatkan bahwa peradaban dirawat oleh konsistensi, bukan kegaduhan: menyiram yang ditanam, agar panen iman benar-benar matang.
Singkatnya, tulisan apresiasi ini terasa relevan dan menenangkan. Banyak netizen menilai Sya’ban sering terlewat karena fokus langsung ke Ramadan, padahal justru di sinilah kualitas iman dibentuk. Analogi “menyiram sebelum panen” dianggap sederhana namun mengena, mudah dipahami lintas kalangan. Pesan tentang konsistensi, muhasabah, dan pembersihan relasi sosial dinilai kontekstual dengan kehidupan modern yang serba tergesa. Netizen juga mengapresiasi keterkaitan Sya’ban dengan dunia pendidikan dan pembentukan karakter, bukan sekadar ritual ibadah. Artikel ini dinilai reflektif, edukatif, dan mengajak pembaca mempersiapkan Ramadan secara lebih matang dan bermakna. Wallahu A’lam.


