Isu-isu Human Capital Dimata Dunia

Isu-isu Human Capital Dimata Dunia:Indonesia ada dimanana?

Peuguatan Materi Bimbingan Proposal Tesis dan Disertasi

 

Referensi standar tentang human capital baru muncul pada tahun 1964 saat buku berjudul ‘Human Capital’ yang ditulis oleh Becker dipublikasikan. Menurut Becker (1994), human capital mempunyai posisi yang sama dan tidak di bawah faktor produksi lain seperti pabrik dan mesin. Investasi dapat dilakukan pada human capital melalui pendidikan, pelatihan, dan layanan kesehatan. Karena ada tambahan biaya atau investasi pada manusia,  maka dipastikan akan diperoleh tambahan output. Saat ini, ketika knowledge economy berkembang pesat meninggalkan ekonomi sumberdaya alam dan ekonomi produksi, pengakuan terhadap penting dan strategisnya human capital semakin berkembang.

Teori pertumbuhan modern pun menyatakan bahwa human capital merupakan faktor penting pertumbuhan. Human capital merupakan sumberdaya strategis karena beberapa alasan yakni, berbeda dengan sumber daya alam dan fisik, human capital tidak terdeplesi meski digunakan secara terus-menerus. Penggunaan human capital secara berulang justru menambah nilai dan menyebabkan human capital berkembang. Human capital, khususnya pengetahuan, dapat dialihkan dan dibagi tanpa mengurangi nilai asalnya.

Saat ini, peran strategis human capital dalam penciptaan nilai dan kesejahteraan tidak perlu diragukan. Sesuai dengan laporan Cambridge University (UNEP UNU-IHPD. 2014), kesejahteraan suatu negara dapat diungkapkan melalui neraca kesejahteraan yang merepresentasikan kontribusi setiap sumber kesejahteraan negara (capital) yang meliputi sumberdaya alam (natural), sumberdaya fisik (physical) dan sumberdaya manusia (human). Neraca kesejahteraan tersebut secara sederhana dapat diungkapkan sebagaimana Tabel 1.

Tabel 1. Neraca Kesejahteraan

Sumber: UNEP UNU-IHPD, 2014, diolah.

Berdasarkan neraca kesejahteraan diketahui bahwa ratarata dari 20 negara yang dilaporkan, dan $294,7 triliun nilai kesejahteraan yang diciptakan, 66,77% atau $196,8 trilyun dihasilkan oleh human capital, sedangkan phisical capital dan natural capital hanya berkontribusi sebesar 37,33% kesejahteraan atau senilai $97,9 triliun. Kontribusi setiap sumberdaya dan atau modal digambarkan sebagaimana Bagan 1 dan Bagan 2.

Bagan 1 dan Bagan 2.

Kontribusi setiap sumberdaya dan atau modal

Sumber: UNEP UNU-IHPD, 2014, diolah.

Negara yang menghasilkan nilai kesejahteraan terbesar adalah Amerika Serikat dengan nilai kesejahteraan yang diciptakan mencapai $117,8 triliun. Kontribusi setiap modal/sumberdaya terhadap penciptaan kesejahteraan bangsa Amerika adalah 75,4% atau $88,9 triliun dihasilkan oleh human capital, 18,96% atau $22,3 triliun dihasilkan oleh phisical capital dan hanya 5,6% dihasilkan oleh natural capital. Pada sisi lain, negara yang menghasilkan nilai kesejahteraan terendah adalah Kenya yakni hanya $0,122 triliun atau hanya $122,8 milyar. Kontribusi setiap sumber kesejahteraan di Kenya adalah $30,5 milyar atau 24,8% dihasilkan oleh physical capital, $65,6 milyar atau 53,4% dihasilkan oleh human capital, dan $26,7 milyar atau 21,7% dihasilkan oleh natural capital. Negara dengan kontribusi human capital terhadap kesejahteraan tertinggi adalah:

Inggris                         HC 88,1%        NC 0,8%

Amerika Serikat          HC 75,4%        NC 5,8%

Prancis                        HC 73,9%        NC 1,3%

Jepang                         HC 71,1%        NC 1,1%

Jerman                        HC 68,6%        NC 6,2%

Sebaliknya negara dengan kontribusi human capital terhadap kesejahteraan terendah adalah:

Rusia                                       HC 20,7%        NC 66,4%

Nigeria                        HC 24,9%        NC 68,6%

Colombia                    HC 34,3%        NC 44,3%

Saudi Arabia               HC 35,1%        NC 54,6%

China                          HC 43,7%        NC 25,4%

Pada sisi lain, meskipun dari sisi nilai Amerika Serikat menghasilkan nilai kesejahteraan total tertinggi namun tidak demikian untuk nilai kesejahteraan perkapita. Nilai kesejahteraan perkapita penduduk Amerika berada di bawah kesejahteraan perkapita penduduk Jepang. Jepang menjadi negara dengan nilai kesejahteraan perkapita tertinggi dengan nilai $435.466 disusul oleh Amerika Serikat dengan nilai $386,351; Kanada $331,919; Norwegia $327,621 dan Australia $283.810. Sedangkan negara dengan nilai kesejahteraan perkapita terendah dialami oleh Kenya dengan nilai kesejahteraan perkapita hanya $3,194 atau hanya 0,73% dari nilai kesejahteraan perkapita masyarakat Jepang. Bila dibalik, masyarakat Jepang mempunyai nilai kesejahteraan perkapita 136 kali masyarakat Kenya. India pada urutan kedua dengan $5.176 disusul oleh Nigeria ($5,924); China ($15.027) dan Ekuador ($25.613). Catatan khusus patut diberikan kepada China. Negara dengan GNI cukup besar ini ternyata mempunyai nilai kesejahteraan perkapita hanya setara dengan 3,45% kesejahteraan perkapita masyarakat Jepang. Artinya, masyarakat Jepang 29 kali lebih sejahtera atau sekurang-kurangnya mempunyai nilai kesejahteraan perkapita dibandingkan masyarakat China. Peran strategis dan penting human capital terhadap penciptaan nilai kesejahteraan bangsa dan negara juga dapat dilihat dari korelasi yang terjadi antara kedua hal tersebut, sebagaimana direpresentasikan pada Bagan 3.

Bagan 3.

Relasi Tingkat Kesejahteraan dengan Indeks Human Capital

Sumber: UNEP UNU-IHPD, 2019, diolah.

Dari bagan tersebut diketahui bahwa negara-negara dengan nilai kesejahteraan perkapita tinggi adalah negara-negara yang memiliki indeks human capital yang tinggi pula. Jepang, misalnya. Negara dengan nilai kesejahteraan tertinggi ini mempunyai indeks human capital 6,12 (skala 0-9); sedangkan Amerika Serikat mempunyai indeks human capital 6,34 disusul Kanada (6,61), Norwegia (6,83) dan Australia (6,52). Sebaliknya, India yang mempunyai nilai kesejahteraan perkapita sangat rendah juga adalah negara yang memiliki indeks human capital yang rendah pula yakni 3,02 diikuti oleh China (3,48), Kolombia (3,6), dan Afrika Selatan (3,76). Secara statistik, bila nilai kedua hal tersebut dianalisis, diperoleh gambaran bahwa adjusted rsquare hubungan antara indeks human capital dengan kesejahteraan perkapita adalah 0,800. Hasil ini mengindikasikan bahwa secara statistik variasi yang terjadi pada nilai kesejahteraan perkapita mampu dijelaskan sebesar 80% oleh indeks human capital. Sisanya, yakni 20% dijelaskan oleh variabel yang lain, misalnya, physical capital, dan natural capital.

Kesimpulannya, adalah jelas bahwa kesejahteraan suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh banyaknya sumberdaya alam (natural) yang dikuasai atau dimiliki oleh bangsa tersebut. Natural capital hanya berkontribusi kurang lebih 11% terhadap penciptaan nilai kesejahteraan suatu bangsa. Penentu tingkat kesejahteraan suatu bangsa saat ini adalah human capital yang dimiliki bangsa tersebut. Human capital berkontribusi kurang lebih 80% terhadap penciptaan nilai kesejahteraan suatu bangsa.

REFENCI

Becker, Gary. 1994. Human Capital: A theoretical and empirical analysis with special reference to Education. The University of Chicago Press

UNDP. 2014. Human Development Report 2014-Sustaining Human Progress: Reducing Vulnerabilities and Building Resilience. 2014.

UNEP. UNU-IHPD. 2012. Inclusive Wealth Report 2012: Measuring  progress toward sustainability. Canbridge University Press.

Walker, D.Ch. 2001. Exploring the Human Capital Contribution to Productivity, Profitability, and the Market Evaluation of the Firm, Dissertation, Webster University.

Williams, S.M., 2001, Is Intellectual Capital Performance and Disclosure Practices Related, Journal of Intellectual Capital, No.3.Vol.2. hal.192203.

Leave a Reply

Your email address will not be published.