Model Pembelajaran Daring yang Mencerahkan

POE2WE sebagai Alternatif Model Pembelajaran Manajemen SDM dan Kebijakan Pendidikan dalam Era WFH Cvid-9

 

Permisi

elang, dua minggu yang lalu ada seorang sahabat mengirimkan satu gambar terkait Covid-19. Gambar yang sama juga pernah diunggah Kang Emil atau Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, di Istagramnya pada 7 April 2020. Judulnya cukup menarik, “Siapakah Aku di Era Covid-19”? Kenapa saya katakan menarik, karena dalam gambar tersebut dibuat rentang dalam bentuk kurva, dimana posisi status diri kita berada pada saat berkembangnya Covid-19. Masing-masing curva diberinama zona, mulai dari zona diri kita dalam posisi ketakutan, belajar, dan bertumbuh.

         Saya pikir model ini cukup menarik untuk dikembangkan guna memotivasi mahasiswa yang sedang mengikuti pembelajaran Manajemen SDMP di S2 dan Kebijakan Pendidikan di S1, dan secara kebetulan pula  ada instruksi pimpinan yang mengharuskan semua dosen dalam masa WFH covid-19 untuk menulis KTI yang berkaitan dengan mata kuliah yang diampu serta berkenaan dengan copid-19. Baca juga POE2WE, di http://digilib.uinsgd.ac.id/30490/

         Memang yang disebut dalam tulisan “Siapakah Aku di Era Covid-19”, pada tiga zona ini orang pada dasarnya menyadari bahwa semua berusaha untuk melakukan yang terbaik, tidak pernah membagikan informasi yang tidak jelas kebenarannya, selalu menyadari sutasi dan berpikir positif untuk bertindak. Mereka yang masuk zona ini juga mulai menyadari kenyataan yang ada, berhenti membaca berita yang membuat cemas, stop belanja berlebihan dan mulai mengenal emosi diri sendiri. Orang yang masuk zona ini relatif lebih nyaman dan tidak akan terprovokasi dan memprovokasi terhadap situasi dan kondisi yang berkembang. Di era Covid-19 orang yang masuk pada ketiga zona ini selalu belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik dan berbuat lebih baik.

         Pandemi Covid-19 telah memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan. Jika selama ini manusia-manusia dipaksa hidup dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dan kejaran target pertumbuhan ekonomi dalam sistem kompetisi. Namun, persebaran virus Corona (Covid-19) yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa ‘berhenti’ dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dari kehidupan. Semua bangsa mempunyai tantangan besar dalam penanganan Covid-19.(Suharwoto, 2020). Dari semua aspek yang menjadi tantangan saat ini, tidak terkecuali pasa pada aspek pendidikan dan pembelajaran yang esensial untuk didiskusikan.

         Menghadapi pandemi Covid-19, kegiatan yang melibatkan banyak orang dibatasi, salah satunya adalah kegiatan pendidikan. Tidak ada lagi kegiatan pembelajaran di sekolah dan kampus. Sekolah dan kampus yang biasanya ramai dengan pelajar dan mahasiswa mendadak menjadi sepi. Format pembelajaran diubah menjadi daring (online) dengan belajar dari rumah. Tidak semua sekolah dan kampus siap dengan pembelajaran daring. Faktanya, pendidikan kita selama ini lebih banyak menggunakan mekanisme tatap muka di kelas daripada dengan daring. Lebih dari sekadar mekanisme pembelajaran daring, belajar dari rumah menuntut adanya pendidikan karakter. Paradigma pendidikan karakter ini sempat menjadi arus utama di masa Muhadjir Effendy mejabat sebagai Mendikbud (2014-2019). (Junaedi, 2020). Sayangnya, paradigma pendidikan karakter kini telah tidak lagi menjadi arus utama dalam kebijakan kementerian yang mengurusi pendidikan saat ini.

         Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya: (1) ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, (2) keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, (3) keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi  Pendidikan seperti internet dan kuota, (4) relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral. (Suharwoto, 2020).

         Pandemi Covid-19 memang menjadi efek kejut bagi kita semua. Dunia seolah melambat dan bahkan terhenti sejenak. Negara-negara besar dan modern terpukul dengan sebaran Virus Corona yang cepat, mengakibatkan ribuan korban meninggal yang tersebar di berbagai negara. Indonesia mendapatkan banyak tantangan dari Covid-19 ini, yang membuat kita semua harus bersama-sama saling menjaga. Isu-isu penting diatas akan menjadi penentu seberapa cepat kita akan mampu meratakan kurva kecemasan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan kita semua.

       Di tengah pandemi Covid-19 ini, sistem pendidikan kita harus siap melakukan lompatan untuk melakukan transformasi pembelajaran daring bagi semua siswa dan oleh semua guru. Kita memasuki era baru untuk membangun kreatifitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi.

Bagaima Seharusnya Kegiatan PMB, di Era ini?

        Tidak hanya dengan itu, tantangan baru dinamika kehidupan semakin kompleks. Dunia menuntut kegiatan pembelajaran yang tidak hanya mengulangi fakta dan fenomena yang diharapkan tetapi juga mencapai situasi baru yang tidak terduga. Karena didukung oleh perkembangan teknologi dan seni, pembelajaran diharapkan dapat mendorong kemampuan berpikir siswa dalam situasi yang tidak terduga. Untuk terus merangsang kreativitas dan keingintahuan siswa, kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah–langkah, berikut:  (1) kegiatan belajar memberikan atau merangsang siswa untuk mengamati fakta atau fenomena secara langsung dan/atau direkonstruksi sehingga mereka mencari informasi, membaca, melihat, dan mendengarkan fakta/fenomena ini. (2) kegiatan belajar memfasilitasi siswa untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan dalam menemukan konsep, prinsip, hukum, dan teori; (3) kegiatan belajar mendorong siswa untuk aktif melakukan percobaan; (4) kegiatan pembelajaran memaksimalkan penggunaan teknologi dalam memproses data, mengembangkan pemikiran, dan memprediksi fenomena; (5) kegiatan pembelajaran memberi kebebasan dan tantangan kreativitas dalam mengkomunikasikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui presentasi dan/atau kinerja dengan menerapkannya dalam situasi yang baru dan tidak terduga.(Nana&Surahman, 2020). Inti dari pembelajaran sains, seperti yang disarankan oleh (Pusat Kurikulum, 2007), adalah pembelajaran yang merangsang keterampilan berpikir siswa termasuk empat elemen utama: (1) sikap: rasa ingin tahu tentang hal-hal, fenomena alam, manusia, dan hubungan sebab-akibat yang disajikan masalah baru yang bisa diselesaikan melalui prosedur yang benar; (2) proses: prosedur penyelesaian masalah melalui metode ilmiah; (3) produk: dalam hal fakta, prinsip, teori, dan hukum; dan (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep subjek ilmu pengetahuan alam dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan elemen-elemen ini seharusnya membangun siswa dengan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah dan meniru cara bagaimana para ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta-fakta baru dalam proses pembelajaran.Pengetahuan Teknologi Konten Pedagogis (TPACK) adalah pengetahuan tentang cara memfasilitasi pembelajaran bagi siswa dari konten tertentu melalui pendekatan paedagogis dan teknologi (Mishra & Koehler, 2006). Guru biasa hanya berbicara, guru yang baik menjelaskan, guru yang unggul menunjukkan, dan guru yang hebat dapat memberikan inspirasi. Karena guru dapat menginspirasi siswa mereka, negara ini akan memiliki generasi muda yang dapat mempercepat peradaban Indonesia (Harris & Hofer, 2011).Pada saat ini, komputer pribadi sebagian besar digunakan di ruang kelas di banyak negara. Namun, guru yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) perlu diselidiki lebih lanjut. Diindikasikan bahwa guru sering menggunakan TIK untuk transmisi informasi mereka daripada media pembelajaran (Mishra & Koehler, 2006). Penggunaan ini menghasilkan tekanan pada bagaimana guru mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. TPACK dianggap sebagai kerangka kerja yang berpotensi dapat memberikan arahan baru kepada guru dalam memecahkan masalah terkait dengan mengintegrasikan TIK dalam proses belajar mengajar di kelas.Ada enam variabel yang memengaruhi TPACK, yaitu: (1) Pengetahuan Teknologi (TK), pengetahuan tentang cara mengoperasikan komputer dan perangkat lunak yang relevan; (2) Pengetahuan Pedagogis (PK), kemampuan dalam mengatur proses pembelajaran; (3) Konten Pengetahuan (CK), bahan pengetahuan yang menguasai seperti bahasa, matematika, ilmu alam, dll.; (4) Pengetahuan Konten Teknologi (TCK), pengetahuan tentang bagaimana konten dapat diselidiki atau didelegasikan oleh teknologi yaitu menggunakan simulasi yang edukatif dan dialogis; (5) Evaluasi hasil belajar; (5) Pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi mereka. (Cox & Graham, 2009).

        Implikasinya sederhana; Jika ada guru yang tidak memahami siswa, tidak dapat menjelaskan materi pembelajaran dengan baik, tidak dapat memberikan evaluasi tentang apa yang telah diajarkan, dan tidak dapat mengembangkan potensi siswa, guru ini tidak memiliki kompetensi pedagogik yang memadai. Hubungan tersebut diilustrasikan pada gambar 1 berikut:

Gambar 1. TPACK – Pengetahuan Konten Pedagosial Teknologi

Sumber: (Mishra, P., & Koehler, M. J. 2008) dalam Nana& Surahman (2020), dimodfikasi.

        Hubungan antara TPACK dan POE2WE adalah pada proses pembelajaran dengan model POE2WE. Setelah siswa membuat prediksi dan menjawab Lembar Kerja Siswa, mereka melakukan observasi dengan eksperimen. Mereka melakukan diskusi kelompok, untuk menjelaskan apa yang didiskusikan dalam expereiment. Oleh karena itu, teknologi dalam mencari bahan dari internet diperlukan untuk mendapatkan beberapa referensi untuk percobaan dan pengembangan.

Mengapa  Harus Belajar dengan Model POE2WE?

        Secara harrfiah, model pembelajaran Prediksi, Observasi, Penjelasan, Elaborasi, Tulis, dan Evaluasi, selanjutnya ditulis (POE2WE), dikembangkan dari model POEW dan model pembelajaran Kebijakan dengan Pendekatan Contructivist. Model POE2WE adalah model pembelajaran yang dikembangkan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang suatu konsep dengan pendekatan kontruktif. Model ini membangun pengetahuan dengan proses tertib dalam hal solusi prediksi, melakukan eksperimen untuk membuktikan prediksi, menjelaskan hasil eksperimen dalam teks lisan atau tertulis, membuat contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, mencatat hasil diskusi dan membuat evaluasi tentang pemahaman siswa secara lisan. dan secara tekstual, (Nana& Surahman, 2020)Model POE2WE mungkin melayani siswa sebagai subjek pembelajaran. Siswa aktif dalam menemukan konsep melalui pengamatan atau eksperimen langsung, bukan melalui menghafal buku teks atau penjelasan guru. Model ini memungkinkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, memberikan siswa kesempatan untuk membangun pengetahuan mereka, untuk mengkomunikasikan ide mereka, dan untuk merekam hasil diskusi mereka, sehingga siswa lebih menguasai dan memahami konsep yang secara simultan mempengaruhi peningkatan prestasi siswa. Hal ini sejalan dengan (Permatasari, 2011), yang menyatakan bahwa model ini memungkinkan siswa untuk memiliki kesempatan tersebut dan membuat mereka lebih mudah untuk menguasai konsep yang diajarkan. Kombinasi fase pembelajaran POEW dan model fisik pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis dijelaskan melalui fase atau tahapan pembelajaran model POE2WE sebagai berikut:

1.   Fase Prediksi

        Fase prediksi ini berfungsi untuk membantu memudahkan siswa dalam membuat predikasi awal pada suatu masalah. Masalah yang ditemukan adalah dari pernyataan dan gambar tentang gerakan lurus yang disediakan dalam Lembar Kerja Siswa atau Lembar Cacatan Kuliah (LCK), sebelum siswa membuat prediksi. Untuk membuat jawaban dalam fase prediksi dalam model POEW, identik dengan fase engangement dalam pendekatan konstruktivis. Guru/dosen mengajukan pertanyaan yang merangsang siswa untuk membuat prediksi atau jawaban sementara dari suatu masalah.

2.  Fase Observasi

        Tahap observasi bertujuan untuk membuktikan prediksi yang dibuat oleh siswa. Siswa didorong untuk melakukan percobaan terkait masalah yang ditemukan. Setelah itu, siswa mengamati apa yang terjadi, dan siswa kemudian mengirim validitas prediksi sementara. Fase pengamatan dalam model POEW identik dengan fase eksplorasi dalam pendekatan konstruktivis.

3.  Fase Penjelasan

        Fase penjelasan ini, mengacu pada siswa yang memberikan penjelasan tentang hasil percobaan. Penjelasan untuk siswa dilakukan melalui diskusi kelompok, dan setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. Jika prediksi terjadi dalam percobaan, guru membimbing siswa untuk membuat ringkasan dan memberikan penjelasan untuk memperkuat hasil percobaan. Sebaliknya, jika prediksi siswa tidak terjadi dalam percobaan, guru membantu siswa untuk menemukan penjelasan mengapa prediksi mereka tidak benar. Fase penjelasan identik dengan fase penjelasan dalam pendekatan konstruktivis.

4.   Fase Elaborasi

        Tahap elaborasi berhubungan dengan siswa yang membuat contoh atau menerapkan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Ini diadaptasi dari pendekatan konstruktivis. Pada fase ini, guru mendorong siswa untuk menerapkan konsep baru dalam situasi baru, sehingga mereka lebih memahami konsep tersebut. Fase ini merupakan pengembangan dari fase elaborasi dalam pendekatan konstruktivis.

5.   Fase Menulis

        Tahap menulis adalah melakukan komunikasi tertulis, yang mencerminkan pengetahuan dan gagasan siswa. Untuk hal itu, Yamin & Ansari (2012), mengemukakan bahwa menulis dapat membantu siswa untuk mengekspresikan pengetahuan dan ide-ide mereka. Siswa menulis hasil diskusi dan menjawab pertanyaan dalam Lembar Kerja Siswa Lembar Cacatan Kuliah (LCK),. Selain itu, mereka membuat kesimpulan dan melaporkan dari hasil percobaan. Fase ini merupakan pengembangan dari model TTW. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe Think, Talk, Write (TTW) yang dipadu dengan media buku berpengaruh pada hasil belajar kognitif siswa. aktivitas dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran mampu menentukan keberhasilan capaian hasil belajar kognitif siswa. Model pembelajaran kooperatif Think, Talk, Write (TTW) memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam pembelajaran melalui sintak yang ada pada model tersebut.Beberapa ahli menjelaskan dalam (Ramadhani, dkk. 2018),  bahwa; (1) pada tahap think, siswa bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan dengan ide-ide yang baru, sehingga siswa dituntut untuk paham terhadap materi yang sedang dipelajari; (2) tahap talk atau berbicara, siswa diajak untuk berdiskusi dengan temannya sehingga terjadi pertukaran pengetahuan. Proses diskusi pada tahap talk dapat membangun teori, pengetahuan,dan pemahaman siswa. (3) write atau menulis, menuntut siswa untuk berlatih menuliskan hasil diskusi secara sistematis. Penulisan hasil diskusi secara sistematis membantu siswa untuk lebih mudah dalam memahami materi, pada tahap write, penguasaan siswa terhadap suatu materi juga dapat dilihat melalui hubungan antara jawaban dengan teori. Menulis merupakan hakikat dari hasil pemikiran. Tryanasari (2012) memberikan penjelasan bahwa menulis merupakan proses berpikir yang bersifat aktif, konstruktif, dan bermakna. Tahap menulis siswa dituntut berpikir untuk menuangkan gagasannya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sehingga siswa lebih paham. (Ramadhani, dkk. 2018).

6. Evaluasi

        Tahap evaluasi adalah evaluasi terhadap pengetahuan siswa, keterampilan, dan perubahan proses berpikir. Dalam fase ini, siswa dievaluasi dalam hal materi gerakan lurus secara lisan dan teks. Fase ini merupakan pengembangan dari pendekatan konstruktivis.

Pencerahan apa yang didapat dari Model POE2WE

        Diatas, telah disinggung bahwa kombinasi fase pembelajaran POEW dan model fisik pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis dijelaskan melalui 6 fase atau tahapan pembelajaran. Sebanarnya model POE2WE telah dikembangkan dari dua model sebelumnya. Model ini hampir mirip dengan POEW karena semua fase POEW diadaptasi dalam model POE2WE. Namun, elaborasi (antara fase penjelasan dan penulisan) dan evaluasi (pada fase terakhir) ditambahkan sebagaimana diadaptasi dari Duffy & Jonassen (1992). Oleh karena itu, tersirat bahwa Model POE2WE menyempurnakan model POEW. Untuk memudahkan dalam memhamai  hubungan tugas pokok dan fungsi masing-masing atara pendidik dan peserta didik tersebut diilustrasikan dalam rentang dalam bentuk kurva pada gambar 1 berikut:

 

Gambar 1. Model Pembelajaran dengan pendekatan POE2WE  

Sumber: dikembangkan oleh penulis

        Pada gambar 1 menunjukkan bahwa setiap fase berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dalam hal kegiatan guru dan siswa dalam satu zona. Selain itu, ini juga untuk lebih mengoptimalkan hasil kerja praktek siswa. Tabel 1, dibawah ini tampak jelas fase kegiatan pembelajaran dengan tugas masing antara Guru dan siswa:

Table 1. Kegiatan pembelajaran Model Pembelajaran Model POE2WE

Sumber: diadaftasi Nana& Endang Surahman (2020)

        Tabel 2 menunjukkan bahwa setiap fase berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dalam hal kegiatan guru dan siswa. Kegiatan-kegiatan ini dikembangkan sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar. Selain itu, ini juga akan mengoptimalkan hasil kerja praktek siswa.

Simpulan

        Sebagai model pembelajaran, Model POE2WE baik dalam mengoptimalkan hasil kerja praktek siswa. Pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran POE2WE membuktikan bahwa Model POE2WE berlaku untuk pengajaran dan pembelajaran Kebijakan di era WFH copid-19. Lebih jauh lagi para ahli menyakini bahwa  Model POE2WE salah satu model pembelajaran yang tepat untuk dikembangkan pada era Revolusi Industri 4.0. dikarenakan  Karena internet digunakan dalam kolaborasi dengan Model POE2WE, disarankan agar dapat digunakan untuk mengembangkan materi pembelajaran dan media yang diterapkan dalam Model POE2WE.Namun sebagus apapun, yang diperoleh dari pemanfaatan model POE2WE, sebagai pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahsiswa pada masa WFH Pandemik Covid-19 ini, tetap perlu ditelusuri kebenarannya melalui kajian ilmiah, penelitian secara mendalam dan lebih spesipik

Daftar Pustaka

Andrea Ramadhani Maharlika, dkk. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think, Talk, Write  (TTW) yang Dipadu dengan Media Buku Komik Biologi erhadap Hasil Belajar Siswa SMA. Proceeding Biology Education Conference. 15, (1), 309-316 Tersedia dalam: https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/view/32448/21530.

Cox, S., & Graham, C. (2009). An elaborated model of the TPACK framework. In I. Gibson, R. Weber, K. McFerrin, R. Carlsen, & D. Willis (Eds.), Society for Information Technology & Teacher Education International Conference (pp. 4042–4049).

Fajar Junaedi, (2020). Belajar Daring saat Pandemi, Perlunya Pendidikan Karakter dan Kebijakan. Tersedia dalam https://www.timesindonesia.co.id/read/news/263666

Gogot Suharwoto.(2120). Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19, Tantangan yang Mendewasakan. Ttersdia dalam https://www. timesindonesia.co.id/read/news/261667.\

Harris, J. B., & Hofer, M. (2011). Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) in Journal of Research on Technology in Education, 43(3), 211–229.

Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological pedagogical content knowledge: A framework for teacher knowledge. Teachers College Record, 108, 1017–1054.

Nana& Endang Surahman (2020) POE2WE Model as an Alternative for Learning Physics in Industrial Revolution 4.0 Era. Atlatis Perss; Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 397 3rd (International Conference on Learning Innovation and Quality Education (ICLIQE 2019), 1013-1022. tersedia dalam: http://creativecommons. org/licenses/by-nc/4.0/).

Tryanasari. (2012).Menumbuhkan Karakter Baik (Good Character) melalui Menulis Kreatif. Jurnal OnlinePublikasi Ilmiah UMS.

Permatasari, O. I. (2011). Keefektifan model pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE) berbasis kontekstual dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa SMP kelas VIII pada pokok bahasan tekanan. Universitas Negeri Semarang.

Pusat Kurikulum. (2007). Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

Yamin, M., & Ansari, B. I. (2012). Taktik mengembangkan kemampuan individual siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published.