Menghadapi Kecemasan Berlebihan

HILANGKAN KECEMASAN BANGUN PRIBADI YANG TANGUH

(Menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk apapun adalah obat terbaik)

Mukadimah

       Banyaknya informasi yang beredar dalam mas media mengenai virus corona (COVID-19) bisa saja memengaruhi kesehatan mental. Rasa panik, stres, takut kehilangan orang-orang tercinta, dan perubahan aktivitas adalah segelintir dampak dari mewabahnya virus yang mengancam pernapasan ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus corona sebagai pandemi pada hari Rabu (11/3/2020). Hal ini membuat pemerintah dan masyarakat dunia makin waspada dengan penyebaran virus corona. Meski penting untuk mencari informasi terpercaya, Anda juga perlu mengetahui langkah-langkah untuk membentengi diri dari stres dan panik berlebih di tengah wabahnya corona. Berdanpak pada psikologis.

       Mengikuti perkembangan tentang virus corona memang penting untuk kewaspadaan. Namun terus-menerus terpapar informasi, baik yang terpercaya maupun tidak, juga dapat membuat seseorang menjadi lebih stres. Orang yang sebelumnya sudah mengalami gangguan mental adalah kelompok yang mungkin paling rentan terkena dampak psikis dari krisis ini. Begitu pula dengan anak-anak dan orang-orang yang turun langsung di lapangan untuk menghadapi virus corona, khususnya dokter atau tenaga kesehatan lain. Efek fisik maupun psikologis yang bisa muncul meliputi rasa takut dan khawatir atau kecemasan berlebihan terhadap kesehatan diri sendiri maupun orang-orang tercinta, perubahan pola tidur dan pola makan, serta memburuknya masalah kesehatan yang sudah ada. Hal demikian, tak jarang bagi orang-orang yang belum biasa menjadi nambah beban pekerjaan. Menurut Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan Inggris, sekitar 526.000 karyawan menderita stres, depresi atau kecemasan karena pekerjaan.(Puspita, 2018).

Hal-Ikwal Kecemasan dan Penyembuhannya

       Kecemasan atau disebut (Anxiety) itu timbul akibat dari faktor-faktort yang mempengaruhinya, Blacburn & Davidson (dalam Triantoro & Nofrans, 2012: 51) menjelaskan faktor-faktor yang menimbulakan kecemasan, seperti pengetahuan yang dimiliki seseorang mengenai situasi yang sedang dirasakannya, apakah situasi tersebut mengancam atau tidak memberikan ancaman, serta adanya pengetahuan mengenai kemampuan diri untuk mengendalikan dirinya (seperti keadaan emosi serta focus kepermasalahannya).

       Kemudian Adler dan Rodman (dalam Ghufron & Risnawita,  2014: 145- 146) menyatakan terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu: (1)  Pengalaman negatif pada masa lalu, Sebab utama dari timbulnya rasa cemas kembali pada masa kanak-kanak, yaitu timbulnya rasa tidak menyenangkan mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu menghadapi situasi yang sama dan juga menimbulkan ketidaknyamanan, seperti pengalaman pernah gagal dalam mengikuti tes. (2) Pikiran yang tidak rasional; Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu: (a) Kegagalan ketastropik, yaitu adanya asumsi dari individu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Individu mengalami kecemasan serta perasaan ketidakmampuan dan ketidaksanggupan dalam mengatasi permaslaahannya. (b) Kesempurnaan, individu mengharapkan kepada dirinya untuk berperilaku sempurna dan tidak memiliki cacat. Individu menjadikan ukuran kesempurnaan sebagai sebuah target dan sumber yang dapat memberikan inspirasi. (c) Persetujuan; (d) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.

       Diduga kuat generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman. Tidak terkecuali yang baru mengalami semacam “Dampak Pandemi virus corona covid-19 yang melanda belum menunjukkan tanda-tanda berakhir di seluruh dunia”.

Kecemasan (Anxiety) memiliki tingkatan ansietas. Gail W. Stuart (2006:144) mengemukakan tingkat ansietas, slalash satunya diantaranya adalah ”Tingkat panik” Kepanikan kerhubungan dengan terperangah, ketakutan,. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional.

       Pantas saja pada saat ini, banyak yang beranggapan ”Belajar dan Bekerja” pada umumnya mereka anggap kegiatan yang tidak menyenangkan. Teruma para siswa/mahasiswa Orang tua siswa hampir setiap hari dihadapi dengan tanggung jawab dan kewajiban yang harus dipenuhi mengisi menjawab instruksi yang belum biasa dialami sebelumnya. Dengan situsi kondisi sedang di karantina yang sama sekali belum pernah di alaminya. Tentu, saja tuntutan dan target yang dimiliki ini tak jarang bisa berujung pemicu untuk stres. kepanikan, kecemasan berlebihan, apalagi mendengan dan menyaksikan berita dimas media mendengan meilihat angka kematian terus meningkat akibat Pandemi virus corona covid-19. Teman saya dalan WAG PPS-nya memberikan Video kematian Doketer yang menagani penyembuhan menteri Karya Sumadi. Di WAG satu lagi ia menulis “Insya Allah THR dan Gaji 13 ditunda” temna yang satuna “ Duh, THR PNS&Gaji 13 Terancam Tak dibayar…”. Ragam bahan memicu kepanikan sangat terbuka.

       Akan tetapi, di luar itu semua, tak jarang pekerja juga dilanda stres akibat cemas berlebih. Banyak kecemasan yang menghampiri benak kita tiap harinya, padahal terkadang kecemasan itu sangat tidak diperlukan. Cemas berlebih mengambil banyak tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang sebetulnya bisa kita hindari.  Banyak faktor dan hal yang membuat kita merasa cemas berlebih tiap harinya.

       Jangan khawatir, menhadapi beberapa situasi yang menyebabkan kita untuk cemas berlebih. Cara yang terbaik untuk menghilangkan kecemasan ialah dengan jalan menghilangkan sebeb-sebabnya. Menurut Zakiah Daradjat (dalam Dona Fitri Annisa & Ifdil 2016), adapun upaya yang dapat dilakukan, antaralain, sebagai berikut:

1.      Pembelaan

       Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan pembelaan. Pembelaan ini tidak dimaksudkan agar tindakan yang tidak masuk akal itu dijadikan masuk akal, akan tetapi membelanya, sehingga terlihat masuk akal. Pembelaan ini tidak dimaksudkan untuk membujuk atau membohongi orang lain, akan tetapi membujuk dirinya sendiri, supaya tindakan yang tidak bisa diterima itu masih tetap dalam batas-batas yang diingini oleh dirinya.

2.      Proyeksi

      Proyeksi adalah menimpakan sesuatu yang terasa dalam dirinya kepada orang lain, terutama tindakan, fikiran atau dorongan-dorongan yang tidak masuk akal sehingga dapat diterima dan kelihatannya masuk akal.

3.      Identifikasi

       Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Apabila ia melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira seolah-olah ia yang sukses dan apabila ia melihat orang kecewa ia juga ikut merasa sedih.

4.      Hilang hubungan (dis asosiasi)

       Seharusnya perbuatan, fikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain. Apabila orang merasa bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyinggung perasaannya, maka ia akan marah dan menghadapinya dengan balasan yang sama. Dalam hal ini perasaan, fikiran dan tindakannya adalah saling berhubungan dengan harmonis. Akan tetapi keharmonisan mungkin hilang akibat pengalamanpengalaman pahit yang dilalui waktu kecil.

5.      Represi

       Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal, dan keinginan-keinginan yang tidak disetujui oleh hati nuraninya. Semacam usaha untuk memelihara diri supaya jangan terasa dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan hatinya. Proses itu terjadi secara tidak disadari.

6.      Subsitusi

       Substitusi adalah cara pembelaan diri yang paling baik diantara cara-cara yang tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Dalam substitusi orang melakukan sesuatu, karena tujuan-tujuan yang baik,  yang berbeda sama sekali dari tujuan asli yang mudah dapat diterima, dan berusaha mencapai sukses dalam hal itu.

Mengurangi Kecemasan dengan  Membagun Pribadi Yang Tangguh

       Telepas dari beberapa konsep yang diberikan para ahli psikologi di atas, yangterpenting focus perhatian kita pada pernyataan “Pandemi virus corona covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir di seluruh dunia. Tak heran kecemasan semua orang pun meningkat dalam situasi ini”. Perlu solusi untuk mengilangkan kecemasan berlebihihan dari dampak Pandemi virus corona covid-19.

       Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah sebutan bagiprlbadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun. Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata secara fisik. Tapi lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat. Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Pembentukan sifat pribadi tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut. Paling tidak ada empat taktik berpikir positif yang perlu kita bangun dalam kehidupan keseharian agar menjadi pribadi tangguh. Berpikir positif kepada Allah Berpikir positif terhadap diri sendiri Berpikir positif pada orang lain dan Berpikir positif pada waktu (Arda Dinata, 2011).

       Menurut Yourtango (2020), menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk apapun adalah obat terbaik. Seperti melepaskan stres dan kecemasan soal virus corona covid-19. Lalu, apa saja langkah-langkah mudah untuk meredakan stres dan dapat membuat Anda menjadi lebih tenang di tengah situasi krisis virus corona covid-19? Putu Elmira (dalam Yourtango, 2020), memberikan 6 tips untuk membangun Pribadi yang tangguh berikut ini:

1.      Lepaskan ketegangan

       Perhatikan jika Anda mengalami ketegangan dengan mencari tahu di mana stres itu berasal. Kemudian kumpulkan semua stres menjadi bola energik kecil dan tarik dari Anda dan lemparkan ke lantai. Terus lakukan hingga menggoyangkan semua stres dari tubuh hingga Anda merasakan tubuh menjadi lebih segar.

2.      Terhubung ke tubuh dan napas

       Jejakkan kaki di lantai dan mulailah menarik napas dalam-dalam, tarik udara melalui tubuh bagian bawah ke perut. Gunakan lengan Anda untuk meniru gerakan napas ke atas tubuh. Biarkan napas membawa energi yang bersih, murni, dan meremajakan ke dalam tubuh.

       Perlahan-lahan buang napas dan biarkan lengan Anda jatuh dengan lembut, biarkan tubuh Anda melembut dan mengendur saat napas bergerak ke bawah dan keluar dari tubuh Anda. Jadikan napas Anda lambat dan menyenangkan.

       Bayangkan semua sisa kecemasan dan stres Anda terlepas saat Anda memberi tubuh Anda rileks. Tahan napas selama tiga hingga lima detik di akhir napas sebelum memulai putaran pernapasan lainnya.

3.      Kembangkan imajinasi

       Buat diri senyaman mungkin, tutup mata Anda, dan mulai imajinasikan tempat yang memberi Anda kenyamanan. Mungkin pantai, hutan, danau, atau di mana saja yang membuat Anda merasa aman dan damai. Luangkan waktu sejenak untuk meningkatkan kekuatan kreatif Anda dengan membiarkan diri Anda merasa seolah-olah Anda benar-benar berdiri di sana dalam pemandangan yang indah ini. Bayangkan pemandangan, suara, bau, suhu, dan rasa dari pengalaman itu. Biarkan diri Anda menyerap lingkungan yang menyenangkan dan nikmati kesempatan untuk menikmati momen ini.

4.      Gunakan Imajinasi untuk Mencintai

       Terus menggunakan imajinasi untuk mengingatkan seseorang yang Anda cintai dan yang mencintaimu kembali. Bayangkan orang ini yang terbaik, penuh sukacita, kebahagiaan, dan kesehatan. Perhatikan emosi manis dan hangat yang muncul ketika Anda memikirkan orang ini dan seberapa besar Anda peduli dan cinta ada di antara Anda. Tempatkan tangan Anda di hati Anda dan mulailah mengembuskan energi yang tulus ini ke dada Anda. Bayangkan sebuah bola energi bercahaya merah yang berasal dari hati Anda, tumbuh lebih besar dengan setiap napas. Rasakan tubuh Anda bertindak sebagai saluran untuk cinta dan kebaikan ini berdenyut melalui Anda saat Anda bernapas.

5.      Bawa kebaikan pada dunia

       Mulailah mengirimkan energi cinta kepada semua orang dan siapa saja yang mungkin membutuhkan sedikit dorongan atau dukungan. Saat Anda menarik napas, tumbuhkan cinta dan kasih sayang Anda untuk diri sendiri. Saat Anda kehabisan napas, tawarkan apa yang Anda bisa kepada dunia. Kenali betapa berharganya kehidupan.

6.      Berkomitmen pada diri sendiri

       Buka mata Anda lalu ulangi frasa ini dengan keras untuk diri sendiri, “Saya berkomitmen untuk mempraktikkan perawatan diri yang disengaja di saat-saat stres virus corona ini.” ” Aku memaafkan diriku sendiri karena takut, cemas, dan kesal.” ” Saya bertanggung jawab merawat tubuh, emosi, dan pikiran saya karena dalam merawat diri sendiri, saya juga merawat orang lain.” ” Saya berkomitmen untuk tetap terhubung dengan hati saya dan berpijak pada cinta saya, tidak peduli seberapa marah, stres, dan frustrasi saya.”

       Dalam situasi yang penuh tekanan ini ada peluang. Mungkin sulit untuk melihat kenyataan ketika kehidupan normal mulai runtuh. Tetapi ada harapan untuk kebaikan dalam semua ini. Bagi beberapa orang, bulan-bulan mendatang mungkin adalah kesempatan untuk memperlambat dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang Anda sayangi, tidur lebih banyak, menikmati waktu yang tidak dihabiskan untuk bepergian dalam lalu lintas, dan hanya menikmati hal-hal sederhana dalam hidup.

Penutup

      Pandemi virus corona covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir di seluruh dunia. Tak heran kecemasan semua orang pun meningkat dalam situasi ini. Tidak mengherankan kalangan dua pendidikan terkena imbas yang menimbukan kecemasan, tidak jarang pula siswa/mahasiswa menhalami kecemasan berlebihan. Dengan semakin meningkatnya jumlah kecemasan berlebihan, akan menimbulkan berbagai persoalan dan permasalahan yang akan muncul baik fisik maupun psikologis, yaitu kecemasan. Masalah psikologis yang terjadi pada lanjut usia ini merupakan kondisi penurunan yang turut dipengaruhi oleh kesehatan fisik dengan persoalan mental seperti pola dan sikap hidup, merasa kesepian, perasaan tidak berharga, emosi yang meningkat pada lanjut usia, serta ketidakmampuan dalam menyesuaikan tugas perkembangan lanjut usia.

       Dengan demikian para siswa/mahasiswa khususnya yang mengalamimi karantia akibat Pandemi virus corona covid-19, perlu dibekali konsep mengenai kecemasan yang dapat terjadi pada para siswa/mahasiswa, sehingga dampak psikologis pada mereka  dapat diminimalisir.

Peferen:

  • Arda Dinata, (2011). “Menjadi Pribadi Tangguh” Jurnal Inside 10.4(1)  Juni 2011, 54-55. Tersedia dalam https://www.neliti.com/id/publications/243724.
  • Ariska Puspita Anggraini (2018) “Demi Kesehatan Mental, Mari Praktikkan Mindfulness di Segala Rutinitas”, Tersedian dalamhttps://lifestyle. kompas. com/read/2018/ 10/11/070700820.
  • Dona Fitri Annisa & Ifdil (2016). ”Konsep Kecemasan (Anxiety) pada Lanjut Usia (Lansia).” Jurnal Konselor. 5(2) Juni 2016, 93-99.
  • Gail W. Stuart. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Alih Bahasa: Ramona P. Kapoh & Egi Komara Yudha. Jakarta: EGC.
  • Ghufron, M.N & Risnawita, R.S. (2010). Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-. Ruzz. Media.
  • Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra. (2012). Manajemen Emosi: Sebuah panduan cerdas bagaimana mengelola emosi positif dalam hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara.
  • WHO, (2020). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus corona sebagai pandemi pada hari Rabu (11/3/2020). Tersedia dalam: https://www. cnbcindonesia.com/ news/20200312064200-4-144245/alert-
  • Yourtango, (2020) ”Menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk apapun adalah obat terbaik. Seperti melepaskan stres dan kecemasan soal virus corona covid-19. Tersedia dalam https://m.liputan6.com/amp/4220272/6.

Leave a Reply

Your email address will not be published.